Bab VIII - Iblis Pedang / Jian Mo
"Kakak ketiga, syukurlah dirimu datang tepat waktu. Kita hampir tewas terbunuh oleh kedua Kasim ini." Tutur Nona kecil sambil tersenyum lega.
Li Xuanba tertawa mendengar perkataan adik kecilnya. Sedangkan Yunfei terlihat sudah kelelahan terlihat dari raut wajahnya.
"Adik Yunfei... Kemampuanmu sangat baik. Tenaga dalammu lebih baik kabarnya daripada kakak dan kedua adik seperguruanmu." Li Xuanba menegur Yunfei.
Yunfei terkejut mendengar perkataan Xuanba, lantas dia bertanya dengan girang.
"Apakah kakak Xuanba sempat bertemu kakak seperguruan dan kedua adikku?"
Li Xuanba tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Qin Qiong dan Yuchi Gong benar berada di pasukan Li Mi. Untuk kakak seperguruanmu adalah temanku."
Xue Yunfei tergirang mendengar perkataan Xuanba.
"Ada waktu, Yunfei hendak belajar dan meminta beberapa petunjuk kekurangan akan kemampuan silatku."
Xuanba tertawa, suara tawanya terdengar membahana sampai seluruh daerah sana bergetar. Kekuatan tenaga dalam Xuanba lain daripada orang lain. Selain padat dan meluas, tenaga dalam Xuanba juga terasa ber-iringan tidak putus.
Kasim Liu dan kasim Hou tidak mengetahui kemampuan Li Xuanba, mereka hanya tahu bahwa orang di tengah ini adalah putera ketiganya Li Yuan, pertama-tama tidak memandang berat kepadanya. Tetapi melihat pembawaan Li Xuanba yang tenang, pembawaannya terlihat bahwa dia bukan lawan yang mudah dan sorot matanya yang bersinar tajam, mau tidak mau membuat mereka merasa keder juga. Sekarang melihat tawanya yang mengandung ancaman yang sangat pekat, keduanya terdiam seperti patung tidak berani bergerak.
"Kalian pergi dahulu, masalah disini biar diatasi oleh diriku. Nantinya aku akan menyusul." Tutur Xuanba kemudian.
Nona kecil menarik tangan Yunfei, menyingkir ke samping. Setelah sampai di tempat nona besar, dia meminta Yunfei memapah kakaknya yang terluka dalam. Yunfei menjulurkan tangan dan menanyainya.
"Nona besar masih sanggup?"
Nona besar tersenyum getir.
"Nampaknya luka dalamku cukup parah.. Aku..."
Yunfei segera memapahnya berdiri dan berjalan menuju ke Wei Shu, Yunfei bertanya kepadanya.
"Bagaimana kakak Wei Shu?"
"Tidak bisa mati.." tuturnya sambil tertawa. Lantas dia bangkit berdiri pelan. Meski terluka dalam, tetapi energy dalamnya lebih baik daripada nona besar sehingga dia masih sanggup berjalan pelan memungut pedang merak membara di tanah tadinya. Yunfei yang melihat nona besar kepayahan, segera menggendongnya di punggung. Awalnya nona besar merasa sangatlah malu tetapi keadaan mendesak sehingga dia tidak punya pilihan selain menyingkir dari tempat ini dengan digendong. Meski usia Yunfei terlihat seperti umur 10 tahunan tetapi tingginya hampir berimbang dengan nona besar jadi ketika menggendong nona besar tetap mantap dan stabil.
Liu dan Hou, kedua kasim ini hanya terbengong melihat Yunfei bersama nona kecil memapah nona besar dan mendekati Wei Shu, terakhir pemuda menggendong nona besar. Nona kecil berjalan sambil mundur, siap siaga dengan kedua belati di tangan.
Liu dan Hou merasa seperti tidak bisa bergerak sama sekali akibat aura yang diterbitkan oleh Li Xuanba. Mereka berpikir akan mengejar keempat orang ini, tetapi bagaimanapun keduanya bersikap sangat was-was apalagi mereka tidak mengetahui bagaimana kekuatan lawan di depan mereka.
Yunfei masih sanggup berjalan cepat meski menggendong Nona besar. Arah yang ditujunya adalah tempat Wei Zheng mengatur pasukan. Dengan melangkah cepat, dia melihat bahwa pertarungan antar pasukan sudah jelas terlihat pemenangnya.
Pasukan pimpinan Wei Zheng sudah berhasil mengurung pasukan kelima kasim. Sepertinya pasukan milik mereka berlima sudah menyerah.
Wei Zheng terkejut melihat keadaan kepayahan mereka. Dan bertanya suara siapakah yang tertawa tadi.
Nona kecil berkata bahwa suara itu adalah suara kakak ketiganya, Li Xuanba. Xuanba meminta mereka semua menyingkir untuk mengejar ayahanda mereka ke Taiyuan. Dia akan menyusul belakangan. Wei Zheng segera menyerahkan perintah ke wakil panglima untuk menjaga tentara yang sudah menyerah itu.
"Mari kita nyusul mereka, kita nyeberang lewat sungai Huang ke utara." Tutur Wei Zheng kemudian.
Mereka segera berjalan ke lembah bawah untuk mencari perahu yang sudah di sediakan oleh Li Yuan tadinya. Hanya selang beberapa menit, mereka sudah sampai di tempat yang di sediakan perahu. Perahu kali ini lebih besar, bisa muat 20 orang lebih. Mengingat sungai huang adalah sungai aliran yang kencang maka perahu yang disediakan oleh Li Yuan kali ini lebih mumpuni untuk menyeberangi sungai. Tetapi baru saja mereka hendak berangkat, dari arah timur telah muncul sebuah kapal besar mendatangi mereka. Yunfei dan kawan-kawan melihat di depan kapal berdiri beberapa orang yang siap dengan senjata di tangan. Sepertinya yang datang kali ini adalah musuh, sebab tiada lama berselang dan tanpa aba-aba, tembakan panah melesat ke arah perahu mereka. Beberapa tukang perahu yang merupakan pasukan dari Li Yuan tertembak jatuh, sedangkan Wei Zheng dan Yunfei sibuk menyapu tembakan panah tersebut.
"Menyingkir balik!" teriak Wei Zheng. Mereka berlima segera balik ke jalan datang tadi sambil menyampuk semua panah yang ditembakkan dengan pedang mereka berdua.
Jalanan depan sekarang sudah dikurung oleh musuh. Mau tidak mau mereka berbalik ke arah tanah lapang tadi tempat Wei Zheng dan pasukannya berada.
Ketika sampai disana, lawan yang dari perahu juga telah sampai. Sekarang mereka berhadapan satu sama lain.
Yunfei dan kawan-kawan melihat ada 8 orang yang sepertinya telah siap dengan senjata di tangan mereka kesemuanya.
Wei Zheng meminta mereka bersiaga. Nona besar dan Wei Shu menyingkir ke tempat wakil panglima tadinya.
"Yang berada di depan siapa? Mengapa mengejar kami?"
Kemudian di antara mereka, ada seseorang yang bergerak maju ke depan. Orang ini terlihat setinggi 6 kaki, memakai baju warna keemasan, wajahnya termasuk ganteng dengan wajah putih, mata dalam, hidung tinggi, memiliki rambut yang agak berwarna keperakan hitam, memakai pakaian berwarna kuning keemasan. Sikapnya santai lantas menunjuk ke depan.
"Hendak lari kemana lagi?"
Ke 7 pendekar di belakangnya menyebar ke kanan kiri, kesemuanya siap dengan senjata mengacung ke depan. 7 orang ini memakai jenis senjata yang berbeda-beda. Ada pedang, golok, gada, tombak, belati, ruyung dan Tongkat. Ketujuhnya maju perlahan dan siap untuk menyerang ke depan. Aura ke 7 pendekar ini jelas terasa pekat, ketujuhnya bukan pesilat biasa. Semuanya adalah pesilat kelas 1.
Sedangkan orang yang berpakaian kuning emas tersebut memegang pedang yang masih disarungkan, pedang miliknya memiliki panjang sekitar 4 kaki dengan ukiran di gagang pedang yang berwarna perak keemasan. Cahaya matahari yang menyinari pedang terlihat menjadi bercahaya.
"Tinggalkan kedua gadis, sisanya... Bunuh.." tutur orang ini sambil menunjuk ke depan. Ke-7 pendekar telah maju beberapa tindak ke depan untuk menyerang tanpa berkata apa-apa.
Xue Yunfei terkejut, lantas dia bersiap untuk menyerang dengan pedang di tangannya. Segera dia maju bersama Wei Zheng dan nona kecil untuk menempur ke 7-nya. Xue Yunfei dan nona kecil tiada pilihan, meski lelah namun ini penentuan hidup dan mati. Segera Yunfei padatkan energy Beiji Shengong dan menyalurkan ke semua nadinya, dia memulai menyerang lebih dulu.
Dia berpikir karena tidak tahu kemampuan siapa lebih lemah, maka satu-satunya jalan adalah siapa yang paling depan, siapa yang dia serang terlebih dahulu. Wei Zheng dan nona kecil siaga di belakang untuk mendukung Yunfei sebisanya.
Keduanya juga siap dengan senjata mereka di tangan.
Begitu melihat ketiga orang maju, pemuda di belakang tertawa. Lalu Ia berkata.
"Tidak disangka, tangan kalian bertiga memegang senjata pusaka. Pedang kebajikan, pedang karang hitam dan kedua belati kembar."
Yunfei dan kedua temannya tidak berniat untuk membahas banyak tentang senjata mereka. Yunfei mengarahkan senjata ke depan yang dia incar sekarang adalah orang yang memakai tombak karena senjata lawan paling panjang, sekali babat tombak itu langsung putus. Ke 7 pendekat terkejut melihat ketajaman pedang di tangan Yunfei. Segera sebelah tangan lain dia memainkan tinju untuk menyerang dada orang yang memegang tombak. Ketika tinju hampir sampai, orang ini menahan dengan telapak tangannya. Begitu tertahan, Yunfei merasa lawan di depan ilmu tenaga dalamnya cukup bagus.
Melihat temannya di serang, kawan-kawannya yang memakai segala jenis senjata hendak membacok dan menusuk ke arah Yunfei. Tetapi nona kecil yang berposisi sebelah kanan Yunfei sudah siap dengan kedua belati di kedua tangannya dan Wei Zheng juga telah siap di sebelah kiri. Mereka menyapu senjata lawan dengan bermaksud melindungi Yunfei. Suara senjata beradu segera terdengar. Memang kebagusan senjata milik Wei Zheng dan nona kecil kali ini menang. Lawan tergetar mundur meski baik Wei Zheng dan Nona kecil merasa ngilu di tangan tetapi keduanya tetap di tempat. Lantas dengan berganti tangan memegang senjata, Wei Zheng segera menusuk menggunakan pedang ke kepala pemilik senjata tombak tersebut, sedangkan nona kecil hendak menikam lawan.
Melihat gelagat kurang baik, lawan mereka ini segera mundur 3 tindak ke belakang. Sehingga baik serangan Wei Zheng maupun nona kecil tidak melukainya.
Justru pada saat itu terdengar teriakan hebat dari arah belakang tebing. Pemuda yang sepertinya merupakan pemimpin dari 7 orang ini segera memerintahkan perintah baru kepada 7 pendekar ini.
"Kalian lihat apa yang terjadi, itu suara Kasim Hou."
Ke-7 orang ini mengiyakan, lantas bergerak cepat. Mereka mengambil jalan samping melewati mereka berlima.
Yunfei dan mereka berempat terbengong melihat kejadian yang tiba-tiba ini. Lantas mereka melihat ke depan, lawan sudah mencabut pedang dari pinggangnya. Sebuah pedang indah berukiran di gagang pedang, karena pedang sedang dipegang orang ini, mereka tidak tahu ukiran apa yang terdapat disana. Sedangkan warna pedang ini adalah emas.
Aura pendekar di depan ini lain daripada yang lain. Sejauh mereka berpetualang di dunia persilatan, jarang mereka menjumpai pendekar yang memiliki aura gelap dan menusuk seperti orang di depan ini.
"Siapa dirimu.." Tanya Wei Zheng.
"Perkenalkanlah, diriku adalah Iblis pedang (Jian Mo)." Tutur pemuda di depan sambil maju ke depan 2 tindak.
Wei Zheng, Wei Shu dan nona besar, nona kecil terkejut tidak kepalang.
"Kau!" teriak Wei Zheng.
Suara orang ini tertawa melihat sifat keempatnya yang sangat terkejut.
Yunfei tidak tahu menahu dan mengenal orang di depannya, dia hanya merasa hawa dan auranya terasa sangat mencekam di sekitarannya ketika Jian Mo berjalan dua langkah ke depan tadinya.
"Serahkan nyawa!" teriaknya tiba-tiba dan bergerak maju ke arah Yunfei yang di tengah. Lawan mengarahkan pedang dengan tangan kiri hendak menusuk leher Yunfei. Yunfei yang melihat bagusnya serangan lawan, segera menyingkir ke kanan. Tetapi serangan lawan tidak berhenti, dan membelok seakan pedang itu memiliki mata terus bergerak mengincar leher Yunfei.
Yunfei yang melihat kemampuan tusukan lawan, segera terkejut dan berkeringat dingin. Ia hendak menyerang lawan tetapi tidak ada titik serang baginya. Pedang lawan yg menusuk ke depan tetapi arah tubuh lawan menyamping. Bahkan pedang ini terlihat melindungi tangan dan seluruh tubuhnya.
Nona kecil dan Wei Zheng melihat gerakan pedang lawan lantas mengarahkan dan menusuk ke arah tangan kanan lawan yang tidak terlindungi. Tetapi Iblis pedang membentuk lingkaran penuh dengan tangan kanannya. Keduanya yang masih berjarak 2 kaki darinya segera terdesak mundur 5 langkah ke belakang oleh hawa energy lawannya.
Meski tidak terluka dalam tetapi keduanya terkejut melihat kemampuan silat dan tenaga dalam lawannya.
Yunfei lebih terkejut tidak kepalang. Terlihat lawan hanya main-main menggerakkan pedang, bahkan gerakan kakinya hanya bersifat berjalan tiada berlari. Tetapi dia sibuk mencari dimana tempat menyingkir dan dimana titik lawan yang bisa di serang.
Hanya satu-satunya jalan yaitu membacok pedang lawan untuk menghentikan "tusukan" pedang lawan. Lantas Ia mengangkat pedang tinggi, dia bacokkan ke pedang lawan.
Bacokan Yunfei tiba-tiba mengenai tempat kosong, pedang yang tadinya di arahkan ke leher Yunfei, segera bergerak menggesek bahunya. Kecepatan ilmu pedang lawan sangat luar biasa. Bahu Yunfei sudah tergesek pedang lawan. Lantas dalam sekejap, pedang kembali mengincar nyawa Yunfei.
Yang tadinya menusuk ke depan di ubah gerakan menebas ke dalam, dan tujuannya tentu leher Yunfei.
Baik Wei Zheng, nona kecil, nona besar dan Wei Shu segera berteriak.
Detik-detik paling bahaya dalam hidup Yunfei ditentukan di sini.
Yunfei bukan tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Dia menyadari sebuah hal secara tiba-tiba. Diingatnya ilmu pedang di dinding gua yang kemarin di pelajari olehnya. Lantas dengan gaya setengah tidur dia menusuk pedang ke depan mengincar tangan lawan yang memegang pedang. Ini adalah salah satu pose di antara 36 pose yang terlihat di dinding gua Sanqing shan.
Melihat gerakan Yunfei yang secara tiba-tiba, Iblis pedang tersenyum, lantas dengan salto sekali ke depan tusukan Yunfei mengenai tempat kosong. Meski sudah melewati lubang jarum tetapi Yunfei sudah terluka di bahu kanannya. Sesaat denyutan dan darah merembes keluar dan membasahi pakaiannya.
Dengan menutuk di daerah tulang bahu sebanyak 3 kali, Yunfei telah berhasil menghentikan pendarahan untuk sementara.
"Gerakan yang bagus. Hanya kamu yang pertama kali sanggup menghindari serangan pedangku." Tutur Iblis pedang dengan tersenyum.
Yunfei yang merasa dirinya kalah kemampuan silat dalam sekali serang, segera menyarungkan pedangnya.
"Kemampuan pedangmu tanpa tanding." Puji Yunfei sambil tersenyum.
Iblis pedang tertawa besar mendengar pujian dari pemuda.
Bukan tanpa alasan Yunfei memuji ilmu pedang lawan. Dulu ketika di Tianmen, Yunfei sering bertarung dengan adik ketiga dan keempatnya. Meski dia memakai tinju, beberapa serangan pedang dari Qin Shubao tidak ada 1/2 kemampuan pedang dari lawan di depannya padahal lawan hanya menggunakan 1 jurus saja sekarang.
Yunfei lantas berjalan ke arah nona besar. Lantas pedang bersarung warna putih ini diserahkan ke nona besar.
"Nona Xiaoping... Pedang ini, dititipkan kepadamu saja. Jika memang direbut, tidak mengapa. Tetapi jika beruntung berada di tanganmu, hendaknya nona menyerahkan kepada ayahanda nona. Sejak ditulis bahwa pedang ini bisa mendirikan negara maka ayahanda nona kuharapkan bisa melaksanakan amanat dari pemilik gunung Sanqing."
"Tetapi...." Nona besar tidak tahu harus berkata apa namun dia juga menerima pedang tersebut. Tanpa terasa air matanya mengalir melihat Yunfei yang sudah membelakanginya sekarang. Nona besar tentu tahu bahwa hari ini sangatlah berbahaya. Yunfei sendiri tentu juga tahu keadaan sekarang, jika tidak diserahkan maka mungkin selanjutnya tiada waktu lagi. Seakan ucapan perpisahan membuat hati nona besar terasa sakit sedangkan terbalik dengan suasana hati Yunfei yang malah tenang. Sekarang dia maju kembali untuk bertarung dengan Iblis pedang.
Kali ini dilihat bahwa lawan juga sudah menyimpan pedang ke dalam sarung dan diikat ke pinggangnya. Kedua tangannya diselipkan ke belakang. Bibirnya tetap menyunggingkan senyuman melihat tingkah pemuda di depannya yang menitipkan pedang dan pesan.
"Kamu belajar ilmu Beiji Shengong?"Tanya Iblis pedang.
"Benar sekali..." Jawab Yunfei.
"Jika begitu kamu justru bukan anak kecil seperti di hadapanku."
Yunfei bersiaga menarik nafas mengumpulkan energy. Dia bersiaga dan jarak mereka berdua sekarang hanya sekitar 5 kaki.
"Sejak tidak ada yang bisa meninggalkan tempat ini hidup-hidup maka kuceritakan segalanya kepada kalian untuk melepaskan semua penasaran hati."
4 gunung itu membawa masalah bagiku. Tetapi sudah kuhancurkan dalam 5 bulan terakhir, setiap gerbang perjumpaan manusia dengan wilayah abadi dan wilayah abadi itu ke surga sekarang sudah hancur." Tutur Iblis pedang.
Kesemua orang terkejut mendengar pernyataan Iblis pedang.
"Barat gunung Kunlun, Utara Gunung Heng, Selatan Tianmen, Tengah Gunung Song. Tiada gerbang langit lagi di daratan tengah. Ada waktu mungkin aku akan ke timur." Tuturnya sambil tertawa.
Baik Yunfei, Wei berdua dan kedua nona terkejut. Mereka berempat berlatih di gunung Song, sedangkan Yunfei di Tianmen. Sekarang dikatakan bahwa gerbang langit di gunung Song dan Tianmen sudah dihancurkan oleh Iblis pedang. Diri mereka tidak betul percaya tetapi karena dia sanggup menyebutkan semua nama gunung pelatihan ruang waktu tak terbatas, mau tidak mau mereka sedikit banyak yakin akan penuturan Iblis pedang.
"Aku berasal dari Kunlun. 15 tahun belajar silat disana. Sampai-sampai guruku juga sudah kubunuh. Dia selalu mengatakan bahwa dia 1/2 dewa, tetapi dalam 100 jurus sudah kuselesaikan. Kabarnya baik He Siangu ataupun Tao tongming sudah menjadi dewa. Sangat disayangkan bahwa diriku belum sanggup menjumpai mereka berdua." Jelas Iblis pedang sambil tersenyum mengerikan.
Yunfei terkejut mendengar bahwa seorang murid sanggup membunuh guru-guru tingkat tinggi Taoisme. Antara percaya tidak dia lantas berkata.
"Dirimu hanya mengatakannya, buktinya siapa yang tahu?"
Iblis pedang tertawa mendengar kata-kata Yunfei.
"Jika kukatakan tadi tidak sampai diriku menggunakan 10 persen kemampuanku tadi. Kira-kira sanggup tidak diriku mengalahkan guru kalian?"
Yunfei terkejut dan mereka berempat kembali terkejut. Dia berpikir jika benar apa yang dikatakan oleh Iblis pedang. Tentu sangat masuk akal bahwa gurunya sendiri sanggup dibunuh oleh dirinya.
"Yang membunuh Kaisar Wen juga anda?" Tanya Wei Zheng.
"Tentu saja. Kalian kira Zhang Heng sanggup melakukannya?" tutur Iblis pedang.
Kesemuanya kembali terkejut mendengar kebenaran kata kata dari pernyataan Iblis pedang.
"Tetapi kamu hanya menjalankan tugas." Tutur Wei Zheng. Tujuan kata-kata Wei Zheng sebenarnya merendahkannya. Dia menganggap bahwa Iblis pedang yang begitu saktipun hanya merupakan suruhan Yang Guang.
"Aku tidak tertarik menjadi kaisar. Malam itu sebenarnya ingin kuhabisi sekalian Yang Guang. Tetapi tidak bermanfaat bagiku. Dia sudah terlampau jahat jadi kubiarkan dia hidup saja. Orang-orang semakin jahat, semakin senang diriku mengetahuinya." Jawab Iblis pedang dengan tertawa.
Mereka sekali lagi terpana mendengar apa yang baru terucap dari kata-katanya.
"Sekarang, serahkanlah nyawa kalian." Iblis pedang maju perlahan ke arah Yunfei.
Yunfei yang sedari tadi sudah siap, segera dia mainkan 350 gerakan tinju yang dipelajari di gunung Tianmen.
Melihat serangan Yunfei yang kencang dan bertenaga, mau tidak mau Iblis pedang terkejut. Tetapi dia juga sudah siap. Dengan sebelah tangan membentuk tapak, dia melayani semua tinju-tinju Yunfei. 350 gerakan berupa 350 tinju yang berbeda sifatnya, ada yang keras ada yang lembut beberapa jurus tinju malah termasuk tipuan. Tetapi dengan gampang Iblis pedang menahan setiap tinju itu dengan telapak. Sejauh ini, dia hanya bertahan sedangkan Yunfei menyerang dengan ganas. Iblis pedang memang seorang pendekar yang sangat lihai. Terlihat bahwa dia hanya mengangkat tangan untuk menahan gempuran sedangkan kakinya malah tidak beranjak mundur.
Wei berdua dan kedua nona terkejut melihat kekuatan tenaga dalam Iblis pedang yang tidak tergoyahkan. Hanya dalam 10 menit, semua tinju Yunfei yang sekuat dan sedemikian cepat itu berakhir. Lantas mengambil kesempatan Yunfei hendak mengulang kembali tinju. Dengan sapuan pelan ke dada Yunfei sambil menghentakkan kaki. Yunfei terlempar ke belakang sejauh 20 kaki sambil terseret.
Begitu selesai gerakan bertahan Yunfei untuk membuyarkan energi lawan, dia segera muntah darah segar.
Dilihat dari serangan pertamanya langsung berhasil, Iblis pedang segera menuju ke arah Wei Zheng. Wei Zheng meski sudah siaga namun tetap kalah cepat. Dengan sekali serang kemudian, Wei Zheng juga terlempar ke belakang . Wei tua ini mengalami hal yang persis dialami oleh Yunfei. Wei dan Yunfei telah terluka dalam.
Sekarang hanya tinggal nona kecil sendiri saja yang masih "sehat". Nona kecil memang takut melihat kemampuan silat lawannya. Tetapi, dia adalah seorang pemberani. Tidak nanti dirinya takut sama sekali dan tidak berani bertindak terhadap lawan di depan.
Segera dia berteriak, melompat lantas dengan posisi menikam dia arahkan belati ke arah kepala Iblis pedang. Iblis pedang mengarahkan sebelah tangan ke atas.
Kedua belati yang hendak menikam, tidak sanggup menyentuhnya. Justru saat dirinya hendak memukul dengan tangan yang satunya ke arah perutnya, nona kecil sudah bergerak melewati kepalanya. Pukulan iblis pedang lolos dan nona kecil aman dari bahaya. Tetapi begitu dia mendaratkan kaki, dia terkejut sebab dari arah punggungnya dia merasa ada sepakan melingkar yang hendak menendang ke arah mukanya.
Serempak mereka berteriak.
"AWAS!!"
Nona kecil yang terlihat berposisi jelek, mengambil posisi jongkok dan segera bergerak menghindar dengan langkah ajaibnya ke depan.
Dua kali bergerak, Iblis pedang tidak sanggup menyentuhnya. Lantas Iblis pedang merasa keheranan.
"Ilmu langkah ajaib mu luar biasa..."
Lantas berpikir sebentar dia berkata:
"Ini langkah Dewi Marici, kalo tidak salah namanya:
Langkah bidadari menyambut surga..."
Mereka semua keheranan mengetahui pengetahuan iblis pedang. Ilmu silat yang dipelajari Jian Mo sangat mendalam dan pengetahuannya juga sangat luar biasa.
Nona kecil tidak berniat bermain kata dengannya lantas menggunakan langkah ajaib memutar keluar dan masuk ke dalam. Langkah-langkah yang pernah dipraktekkan olehnya saat berada di dalam gua. Hanya saja kali ini memang tidak ada pijakan di sekeliling. Secara luar biasa, dia "memijak" angin melingkar dari luar untuk masuk ke dalam sambil menusukkan sepasang belati ke Iblis pedang.
Jian Mo bergerak menyamping 5 langkah, lantas sudah dihindarinya serangan nona kecil. Dan Iblis pedang segera maju, dengan menggunakan langkah yang sama dia "mengejar" nona kecil.
Nona kecil takut bukan kepalang karena lawannya meniru langkah yang dilakukan olehnya. Meski tidak mirip tetapi kecepatan Iblis pedang sangat luar biasa. Mereka berdua bergerak memutar membentuk lingkaran. Hanya sekejap saja, 20 lingkaran sudah dilalui mereka.
Ilmu ringan tubuh nona kecil memang sangat ajaib dan luar biasa tetapi kali ini dia menghadapi Iblis pedang yang termasuk jago no.1 di dunia persilatan. Setelah bergerak melingkar di 30 lingkaran, nona kecil sudah agak kepayahan tenaga kakinya. Iblis pedang tertawa melihat gerakan lawannya yang sudah melemah. Lantas hendak di jambret pakaian nona kecil tetapi justru di saat yang bersamaan. Dia merasakan dari samping ada lawan yang menggunakan tinju untuk meninju ke arah mukanya.
"Cari mati!" teriaknya sambil menyampuk tangan lawan.
Suara perjumpaan telapak dan tinju terdengar keras.
Lantas dirinya mendarat dengan santai, melihat penyerangnya ternyata adalah Yunfei. Dia terkagum karena meski terluka dalam, pemuda ini masih sanggup melontarkan tinju kuat.
Yunfei memang masih terluka dalam tetapi dilihatnya nona kecil dalam bahaya besar maka segera dia memutuskan untuk menyerang.
Iblis pedang menatap tajam ke arah Yunfei. Dia menunjuk si pemuda.
"Jika belum mati, mungkin kamu akan terus menghalang-halangi ku."
Yunfei tersenyum tetapi kali ini dia terlihat bersemangat.
"Sekalipun sudah mati, rohku akan menghalangimu juga."
Nona kecil terharu melihat Yunfei yang berhasil menolongnya lolos dari bahaya lantas dia mengucapkan terima kasih kepada Yunfei.
Pemuda ini berpikir praktis. Dipikirnya hari ini semua orang disini akan mati. Untuk apa dipikirkan siapa mati cepat atau siapa mati lambat. Lantas dia mengumpulkan Beiji Shengong kembali. Kali ini setelah 350 gerakan tidak membawa hasil, dia hendak menggunakan ilmu yang dipelajarinya di dinding gua Sanqingshan. Kembali dia arahkan tinju kemudian mengumpulkan Beiji Shengong untuk menyerang.
Sejak belajar Beiji Shengong, dia tahu bahwa jenis tenaga dalam ini untuk proteksi diri dan bukan untuk menyerang. Tadinya dia menyerang menggunakan 350 gerakan tinju amalannya dan menggunakan energy bertahan tanpa hasil. Kali ini, dia membalikkan dengan menggunakan Beiji Shengong untuk menyerang.
Segera Yunfei maju sambil mengingat 36 gerakan dinding di gua itu. Dia menyerang dengan telapak untuk mengincar kaki Iblis pedang.
Sekali dimainkan energy Beiji untuk menyerang, Yunfei merasa terkejut juga. Karena aliran tenaganya malah sangat lancar. Iblis pedang yang melihat gerakan Yunfei yang "baru" ini, lantas menggunakan kaki untuk menahan gempuran telapak Yunfei. Beberapa kali tendangan Iblis pedang sanggup ditahan oleh telapak Yunfei. Malah Yunfei tidak terluka tenaga dalamnya, energi yang bertemu malahan membuatnya makin bersemangat.
Iblis pedang merasa aneh, dilihatnya serangan Yunfei tadi yang berupa tinju sangat terkordinir, sedangkan serangan kali ini sangat kacau. Banyak celah yang terlihat untuk bisa diserang tetapi karena ingin melihat serangan Yunfei dan mempelajari jenis serangan demikian. Dia hanya bertahan dan sesekali menggunakan telapaknya untuk menyingkirkan telapak Yunfei.
Ketika pertarungan berlangsung sudah 20 jurus, Iblis pedang merasa tenaga dalam Yunfei malah makin kuat. Setiap serangannya menghantarkan tenaga yang makin lama makin baik. Yunfei tiba-tiba mendapatkan temuan. Selama ini dirinya hanya sanggup mempelajari Beiji Shengong tingkat ke 7, kali ini menghadapi lawan kuat. Dia menggunakan Beiji Shengong yang harusnya bertahan itu ke system menyerang. Segera nadinya bekerja maksimal, otomatis Yunfei telah menembus tingkat ke 8 Beiji Shengong.
Melihat lawannya hanya mengelak dan membalas sesekali, Yunfei geram dan bersamangat. Dia ubah telapaknya ke tinju dan meninju ke depan dengan gerakan yang berbeda. Tinjunya lurus dengan sebelah tangan maju dan disusul tangan lainnya. Iblis pedang melihat lawan malah makin bersemangat, merasa terkejut. Lantas segera dikumpulkan energy untuk melawan tinju Yunfei.
Yunfei kali ini meninju dengan 10 gerakan yang sama sekali baru. Tinju yang boleh dikatakan aneh oleh orang awam. Jika orang awam melihat tinju demikian maka mereka berani menghadapi. Hanya saja tinju-tinju Yunfei membawa desiran tenaga dalam yang sangat kuat.
Di tinju ke 12 Yunfei, lawan melihat bahaya semakin mencekam, akhirnya Iblis pedang mengerahkan energy yang kuat untuk melayaninya. Pukulan hebat dari Iblis pedang ke tinju Yunfei sesaat membuat Yunfei segera terseret ke belakang. Kali ini lukanya lebih parah daripada yang sebelumnya. Yunfei melihat ke arah Iblis pedang yang terlihat tadinya menahan gempurannya juga sudah terluka. Bibirnya meneteskan darah.
Melihat serangannya berhasil meski dirinya kepayahan , Yunfei tersenyum puas karena selain membuat lawan terluka dalam dia mendapat beberapa temuan baru.
"Kalian pergi saja dahulu. Si Iblis ini akan kulayani sendiri saja." Tutur Yunfei.
"Tetapi..." teriak nona besar dan nona kecil.
Yunfei meminta mereka kembali mencari Li Xuanba untuk bergabung dengannya.
Nona besar dan kecil tahu bahwa Li Xuanba memang sedang menghadapi lawan kuat dan bagaimana pertarungan Xuanba mereka juga tidak tahu. Lantas tanpa berkata banyak, mereka berempat segera beranjak ke arah tebing tadi.
Wei Zheng dan Wei Shu keduanya hanya bisa menyebut 2 buah kata kepadanya: "Hati-hati".
Yunfei hanya mengangguk kepada keduanya.
Dilihatnya nona besar dan nona kecil memandangnya, keduanya telah berurai air mata, dan mata mereka terlihat memerah. Yunfei yang melihat mereka berdua lantas melambaikan tangan pelan sambil tersenyum. Sepertinya inilah perjumpaan mereka terakhir, entah kapan masih bisa berjumpa atau bisa saja sudah tidak akan berjumpa selama-lamanya lagi.
Iblis pedang yang melihat pemuda di depannya sanggup melukainya lantas tertawa. Iblis pedang sama sekali tidak memandang ke 4 orang yang meninggalkan tempat ini. Lantas dia berkata:
"Bagus... Hebat sekali... Sudah sejak diriku keluar gunung belum ada yang sanggup melukaiku. Kamulah orang yang pertama.."
Yunfei tidak membalas kata-kata Iblis pedang. Dia tersadar bahwa serangan tadinya sudah membuat Beiji Shengongnya naik peringkat ke tingkat 8. Sedangkan serangan tinjunya juga sudah mencapai 362 gerakan. Hanya 3 gerakan terakhir belum terpikirkan bagaimana memecahkannya. Dia berpikir keras bagaimana menembus 3 gerakan tambahan tersebut. Dia tidak mendapat ide sama sekali, tadinya dia hanya hendak mencoba hal-hal yang baru, tidak disangka hasilnya cukup baik. Temuan tiba-tiba ini juga tidak pernah dipikirkannya selama dia berlatih. Lantas dia teringat kata kata gurunya kembali. Bahwa berlatih tidak boleh terlalu dipaksakan. Kadang ketika menjumpai bahaya malah mendapat hasil yang baik. Sesaat hati Yunfei adem tenang, dia telah tersenyum berbahagia. Palingan dia berpikir jika hari ini dia tewas setidaknya sang guru pasti akan menemuinya di akhirat. Sesaat kemudian dia hanya bisa berharap adanya keajaiban akan pertarungan ini. Semangatnya kembali menyala, luka di bahu dan luka dalamnya seakan hilang seketika.
"Kamu termasuk orang yang berbakat. Hanya saja kamu harus mati. Jika tidak, mungkin kita bisa sering bertarung untuk bertukar pendapat. Tadinya aku sudah menggunakan 50 persen kekuatanku untuk bertarung denganmu. Dan kamu masih sanggup melukaiku. Kali ini sepertinya aku harus serius."
Yunfei tidak berniat menjawabnya, dia menarik nafas sepanjang-panjangnya. Lantas dengan tenaga Beiji Shengong tingkat 8, dia salurkan ke seluruh nadi di tubuhnya. Mengambil posisi tangan sebelah membentuk tapak, dan sebelah lagi membentuk tinju. Dia segera melesat ke depan.
********
Wei Zheng berempat berjalan perlahan menuju ke Li Xuanba untuk melihat bagaimana keadaannya setelah tadinya Kasim Chen dan Hou bertarung dengannya dan kemudian 7 pendekar juga ikut menuju ke tempatnya. Sekarang hanya nona kecil saja yang belum terluka dalam. Dia berjalan di depan sambil was-was melihat keadaan di depan.
Berjalan selama 10 menit, mereka sudah sampai ke tebing ujung tadi. Keempatnya yang begitu melihat keadaan sedikit terkejut. Li Xuanba masih sama posisinya dengan yang tadi. Dia melihat ke arah sungai jauh dan tidak bergerak. Sedangkan di bawah kudanya tergeletak kasim Hou yang sudah tidak bernyawa. Kasim Liu berdiri memandanginya sedangkan Xuanba tidak bergerak, diam memandang ke arah sungai.
Sedangkan ke 7 pendekar berada di samping kasim Liu tidak bergerak tapi mengawasi tajam ke arah Li.
Melihat kondisi yang begitu, mereka juga ikut terpaku. Nona besar menanyai kakak ketiganya.
"Ada apa yang terjadi kakak ketiga?"
Li Xuanba hanya mengangkat sebelah tangan kirinya namun dia tidak berbicara.
Mereka semuanya heran melihat kelakuan pemuda ini.
Tidak berapa lama, dia akhirnya bersuara.
"Sudah aman... Ayah rupanya dikejar oleh teman sendiri, mereka disana adalah Li Mi yang hendak membantu. Tadinya kukira ayah dan kakak adik dikejar oleh pasukan kerajaan." Tunjuk dia ke tengah sungai.
Mereka semua baik Wei berdua dan kedua nona dan musuh-musuhnya yang berjumlah 8 orang memandang ke arah sungai. Tetapi jauh memandang, mereka tidak melihat apa-apa. Sungai Huang termasuk sungai yang lebar, mana mungkin pandangan biasa sanggup melihat jelas apa yang sedang terjadi di ujung daratan sana. Seketika dia membalikkan badan, menatap tajam ketujuh orang pendekar yang baru sampai tadi. Lantas dia menunjuk,
"Kalian pergilah, kalian bukan tandinganku!"
Ketujuh pendekar tidak mengenal siapa Li Xuanba dan kekuatannya. Hanya tertawa mengejek mendengar ancaman lawan. Sedangkan kasim Liu tentu tahu bagaimana kuatnya Li Xuanba. Dia berdiri tidak bergerak, matanya masih terlihat ketakutan membayangkan kejadian tadi.Tadinya dia dan kasim Hou hendak membokong Xuanba, keduanya berteriak kepadanya yang tidak bergerak memandang ke sungai. Kasim Hou yang tiada sabaran segera menyerangnya. Pedang di arahkan ke punggung pemuda, tetapi dalam posisi tidak bergerak pedang yang hendak menusuk punggungnya tiba-tiba patah 5 bagian akibat tenaga dalam Xuanba yang melindunginya. Dan sebelum kasim Hou hendak menyerang dengan telapak, terlihat siku Xuanba digerakkan menghantam ke dada kasim Hou, Kasim tersebut berteriak kencang kesakitan sementara itu siku yang lainnya dia gerakkan menghantam kepala kasim Hou. Hanya gerakan ringan seperti demikian, tulang kepala kasim Hou telah pecah beberapa bagian. Hou tewas seketika. Tahu bahwa lawan di depannya sangat sakti, Liu bahkan tidak berani bergerak.
Ke 7 pendekar tadi tiba, menanyai kasim Liu apa yang terjadi. Tetapi sudah 10 menit, kasim terlihat ketakutan dan tidak sanggup berbicara sepatah kata apapun. Melihat kasim Hou hanya menyaksikan dengan diam ke arah Xuanba, lantas ke 7 pendekar juga melakukan hal yang sama sampai datangnya Wei berdua dan kedua nona.
Ke 7 pendekar yang melihat bahwa Wei berdua sampai bersamaan dengan kedua nona berpikir ini adalah kesempatan untuk menangkap mereka. 4 orang lantas maju cepat untuk berniat membahayakan Wei Zheng, Wei Shu dan kedua nona.
Nona kecil segera menyiapkan belati kembar di dadanya untuk menahan serangan lawan tersebut. Lawan yang datang adalah yang memakai senjata pedang, golok, ruyung dan tongkat. Bergerak 10 langkah mereka sudah tiba di tempat nona kecil. Tetapi baru saja mereka hendak menyerang nona kecil. Di samping mereka merasakan adanya senjata luar biasa kuat menyerang arah pinggang kesemuanya.
Berbalik ke kiri hendak menahan senjata, kesemuanya lantas mengubah dan mengarahkan serangan ke senjata yang datang.
Tetapi kecepatan serangan senjata lawan tidak main-main. Bukan saja mereka berempat tidak sanggup menahan serangan ini, ke 4 orang ini tertebas setengah badan dalam sekali serangan. Tentunya ke 4 pendekar ini segera tewas.
Segera keadaan tebing itu terasa aura mengerikan. Ke 4 orang lawan termasuk Kasim Liu langsung gemetar menyaksikan kehebatan lawan di depannya.
"Pergi kalian! Jangan sempat kujumpai kalian di jalanan lagi!"
Ketiga pendekar dan Kasim Liu yang tiba-tiba mendapat pelepasan hidup seperti mendapat lotere. Segera keempat orang ini kabur ke arah Iblis pedang.
Lantas Li Xuanba segera mengajak mereka berempat untuk memapak Iblis pedang. Tetapi baru berjalan beberapa langkah, mereka melihat ada sesuatu di angkasa yang "terbang" menuju ke sungai.
Adalah nona kecil yang pertama mengenali sesuatu yang "terbang" itu.
"Itu kakak Yunfei!!"
Seiring tutup mulutnya Nona kecil, mereka semuanya berteriak karena tahu di belakang tebing itu adalah sungai yang memiliki aliran yang sangat deras. Jarak antara tebing dan sungai juga lumayan dalam sekitaran 20 tombak.
Kemudian dengan segera nona kecil mainkan langkah secepatnya untuk mengejar Yunfei yang "terbang" pesat seperti panah yang ditembakkan dari busur. Baru saja hendak dia menggapai pemuda, ternyata sudah terlambat. Jarak antara dirinya di tebing dengan pemuda selisih puluhan kaki. Pemuda sempat memandang-nya dan terlihat tersenyum getir kepadanya kemudian nona kecil melihat pemuda ini telah jatuh ke bawah sungai.
Aliran sungai Huang sangat deras dan warna sungai juga keruh. Yunfei yang terjatuh ke bawah sungai masih sadarkan diri tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat ke atas tebing, nona besar, nona kecil, Wei berdua dan Li Xuanba melihatnya. Terdengar teriakan nona besar, nona kecil dan kedua Wei. Tetapi dia merasa dirinya sudah terlalu lelah. Pertarungan ini, dia sudah kalah total. Bahkan harga yang harus dibayar adalah nyawanya sendiri.
Sementara itu di atas, teman-teman Yunfei yang mengetahui bahwa Yunfei yang terluka parah mempunyai keyakinan bahwa pemuda ini tidak akan selamat. Nona besar, Nona kecil terlihat menangis meski mereka tahu hari ini memang mereka sulit untuk selamat tadinya. Melihat gelagat Yunfei yg beberapa kali seakan mengucapkan perpisahan, mereka juga mendapat tanda tanda yang tidak baik.
Wei Zheng dan Wei Shu menghela nafas beberapa kali keduanya juga meneteskan air mata. Mereka berempat sadar bahwa hari ini nyawa seorang Yunfei ditukar mereka berempat. Li Xuanba yang baru berkenalan dengan Yunfei juga merasa sayang lantas dia menghela nafas, membalikkan badan melihat 4 orang yang tadinya pergi itu balik bersama seorang pemuda yang adalah si Iblis pedang.
"Kau adalah Jian Mo (Iblis pedang)?"
Orang di depan tidak berani memandang remeh Xuanba karena tadinya telah diceritakan oleh keempat anak buahnya kejadian yang barang sekejap bahwa keempat temannya dan tewasnya kasim Hou dengan sekali serang saja.
"Betul tuan muda Li ketiga. Akulah Jian Mo Iblis pedang."
Bersamaan itu Iblis pedang mengeluarkan pedang dari sarungnya. Xuanba sudah mengangkat kapak di sebelah tangannya, bergerak masih menggunakan kuda dan mengambil kapak yang besar satunya lagi yang tertinggal di tempat dirinya lama berdiri melihat sungai sehingga di tangannya telah terdapat sepasang kapak berat sekarang.
Segera, Jian Mo langsung menyerang ke arah Li Xuanba menggunakan semua kekuatannya secara serius. Melihat lawan yang menyerangnya demikian baik energy tenaga dalamnya dan sangat merapat. Xuanba mengangkat kedua kapaknya lantas loncat dari kuda. Sekali gerak, dia membacok ke arah Jian Mo.
Jian Mo yang bergerak bertujuan mencari posisi menyerang dengan maksud jika bertahan melawan senjata seberat itu maka hanya mencari kematian.
Tetapi betapa hebatnya Li Xuanba, dia yang tadinya harusnya memiliki posisi bertahan menahan serangan pedang lawan sekarang menjadi pihak yang menyerang tiba-tiba. Tidak ada niat Jian Mo mencoba kekuatan serangan Xuanba, maka dia segera beranjak mundur 10 langkah untuk mencari aman. Pergerakan Jianmo memang seperti hantu, datang dan pergi hampir tiada jejak dan sangat cepat.
Tapi Xuanba bukanlah pendekar semalam sore, dia tahu maksud Jian Mo. Begitu kapak menghantam tanah seketika terjadi gempa bumi kecil dan tanah di sekitaran bergetar kuat. Kemudian Xuanba mengangkat kapak menyerang melintang dari bawah ke atas dengan tangan kanan di susul kapak ditangan kirinya menebas dari bawah ke atas. Xuanba melakukan gerakan ini sambil berteriak membahana. Energi yang ditimbulkan kedua gerakan kapak berat itu membentuk energy seperti bulan sabit sebanyak 2 kali menyerang ke arah Jian Mo.
Jian Mo terkejut akan kekuatan lawan di depannya dan segera menggunakan semua kekuatannya memutar hebat memecahkan energy serangan Xuanba. Memang kekuatan lawan berhasil dipatahkan dengan kemampuan dan kekuatan tenaga dalamnya, tetapi tidak ayal dirinya mundur 30 langkah ke belakang. Jian Mo terlihat memuntahkan darah segar.
Xuanba berkata,
"Kau terluka dalam, 10 tahun lagi cari aku untuk kita bertanding lagi."
Mendapat penghinaan demikian, Jian Mo segera marah besar. Tetapi dia tahu bahwa hari ini tidak mungkin dia sanggup bertarung dengan Xuanba. Jika Xuanba tidak mengampuninya tetapi masih mengejarnya untuk menyerangnya tentu dia pasti tewas.
Ini semua juga ada sebabnya... Pertarungan terakhir tadi sudah membuatnya terluka dalam, Yunfei berhasil meski tidak membuatnya sampai terluka dalam parah seperti sekarang.
Tetapi nona besar dan nona kecil tidak setuju.
"Hari ini mereka berlima harus mati!!!" teriak mereka berdua.
Xuanba menggelengkan kepala. Dan segera meminta mereka berlima pergi saja. Setelah kelimanya meninggalkan tempat, Nona besar dan nona kecil masih penasaran mengapa kakak ketiga mereka melepaskan Jian Mo dan kawan-kawannya.
"Ada pasukan sedang menuju kemari. Dari kerajaan dan jumlahnya paling sedikit 100.000. Dari arah sana... " tunjuk Xuanba ke arah barat.
"Kita harus pergi segera mungkin karena jarak pasukan pengejar tidak sampai jarak 200 Li dengan kita sekarang. Takutnya pasukan-pasukan kerajaan ini membahayakan Ayahanda." Sambung Xuanba.
Bersambung....
0 komentar:
Posting Komentar