Bab III - Kekacauan Di Desa Wang
Racun 7 Bunga Kenimatan Di Arak
Xue Yunfei, merasa aneh dengan dirinya. Ada sesuatu perasaan yang tidak lazim sedang dialaminya. Lantas dipikir, dulunya pernah dia minum sampai mabuk di Tianmen, tetapi perasaan yang dialaminya sekarang sangat berbeda.
Dilihatnya nona di depannya sudah tergeletak, nafas dari tubuh nona terasa memburu dan perasaan tidak nyaman si nona jelas terlihat dari gerakan tubuhnya.
Berpikir bahwa adanya sesuatu yang kurang baik pada dirinya, segera dia menarik nafas dari Dantian (pusat tenaga dalam) manusia. Lantas dia melapalkan ilmu sakti dewa kutub utara (Beiji Shengong).
Tetapi tenaga dalam dari tubuhnya membuyar ke segala nadi di tubuh dan tidak terkumpul, ini bisa terjadi karena adanya racun yang menumpuk pada tubuh seseorang. Tenaga dalam seseorang lazim nya melindungi diri, jadi ketika hendak dikumpulkan tetapi justru semuanya bergerak untuk "memperbaiki" nadi, sangat jelas bahwa dirinya memang sudah keracunan. Hanya saja dia merasa aneh, karena racun yang masuk ke dalam tubuh itu tidak merusak organ tubuhnya.
"Kacau... Ada racun yang aneh di arak.."
Dilihatnya sekitaran, masih sepi dan tiada seorang pun. Bahkan pemilik, karyawan di kedai pun tidak terlihat sama sekali, sepertinya ada yang hendak meracuni mereka berdua, mungkin juga pemilik dan karyawan toko terlibat. Dilihatnya kembali ke si nona yang sudah tergeletak di atas meja sepertinya sedang kesakitan, tubuhnya bergetar tetapi suara yang dikeluarkan hampir tiada terdengar.
Yunfei berpikir jika ada waktu setengah jam saja sudah sudah cukup untuk mendesak racun keluar dari tubuhnya karena racun tidak merusak organ dalamnya. Namun jika dilakukan di sini tentu sedikit banyak berbahaya, begitu pikirnya. Karena Yunfei tidak tahu siapa saja musuhnya sekarang.
Lantas digotong tubuh si nona untuk dibawa ke kamar dahulu, barulah hendak dicari tempat leluasa untuk mendesak racun di dalam tubuhnya keluar.
Baru saja si nona digotongnya, tubuhnya terasa panas. Dilihatnya wajah si nona begitu dekat, tubuh nona menerbitkan wangi yang sangat menarik, meski dari mulutnya masih tercium bau arak yang tajam.
Xue Yunfei pertama kali ini sedekat dengan wanita dewasa, tidak pernah terpikir olehnya dia bisa sedekat dengan nona ini karena meski mengagumi si nona karena kecantikan dan gaya serta sifatnya. Tapi sejauh ini, dia tidak berani berpikir macam-macam terhadap si nona.
Namun begitu memapahnya, si nona malah memeluknya. Matanya terbuka sedikit terlihat sayu, bibirnya seakan terbuka hendak mendekati wajah Yunfei.
Yunfei tidak begitu sadar seperti halnya biasa karena kerja racun juga membuatnya malah ingin dekat dengan si nona, panas tubuhnya telah menjadi-jadi sekarang, detakan jantungnya sedang kencang-kencangnya. Pria ini merasa sangat nyaman malahan atas tindakan si nona terhadapnya.
Dia berpikir sejenak manakah ada jenis racun yang seperti demikian bekerjanya. Dirinya teringat beberapa hal,
"Godaan terbesar setiap lelaki adalah wanita cantik."
Kata-kata ini sering dibacanya di perpustakaan sang guru. Sering dia membaca bahwa banyak lelaki jatuh di tangan wanita cantik sejak dahulu kala.
Meski pembawaan Yunfei masih berumur 10 tahunan, tetapi dari pemikiran dirinya sudah berumur 30an tahun. Bagaimanapun dia sudah termasuk seorang pria dewasa. Pria dewasa yang normal tiada yang tidak tergoda dengan keadaan yang sedemikian seperti dirinya.
Tanpa terasa, tubuhnya juga terbakar birahi, hendak dirinya memeluk si nona dan menciumnya. Dirinya yang berpikiran ke arah mesum, membuatnya langsung berkeringat dingin, tetapi tubuhnya panas, detak jantungnya makin kencang.
Yunfei sekarang ibaratnya sedang berada antara BENAR dan SALAH.
Tetapi karena prinsip kepantasan, dia tidak berani bermacam-macam meski si nona bergelut di tubuhnya. Dengan tekad bulat, dia hanya memiliki 1 tujuan yaitu mendesak racun keluar dari tubuhnya terlebih dahulu.
Setelah naik ke atas, Yunfei segera memilih sembarang kamar kosong terlebih dahulu. Yunfei memapah si nona ke ranjang tetapi ketika dirinya hendak beranjak, si Nona langsung bangun dan memeluknya dengan berkata,
"Jangan tinggalkan diriku.."
Nafasnya memburu di tengkuk Yunfei, sepertinya si nona memang sudah terkena racun dengan efek yang terlalu dalam.
Teringat Yunfei bahwa ada beberapa macam racun di dunia, racun jenis ini adalah racun birahi yang membuat korbannya tidak bisa bertindak waras, kehilangan akal sehat dan berniat melampiaskan semuanya sehingga akhirnya perbuatan asusila akan dilakukannya.
Teori-teori yang dibacanya serta ilmu untuk memunah racun demikian sudah terpikirkan, tetapi dirinya belum bisa melakukannya sebelum menolong dirinya sendiri barulah hendak menolong si nona.
Salah satu alasan meski dia minum banyak, tetapi racun di arak itu tidak sedemikian hebat bekerja seperti si nona adalah Yunfei memiliki Qi perlindungan dari Ilmu tenaga dalam ajaran gurunya yaitu Beiji Shengong (Ilmu dewa kutub utara).
Sekarang si nona bergelayut di pundaknya, memeluknya tanpa hendak melepaskannya. Si nona berkata dengan manja.
"Kenapa? Apakah diriku tidak cantik? Bolehkan diriku memelukmu dengan begini?" Terasa degup jantung nona di pundaknya sangat kencang. Perkataan si nona sudah jelas bukan perkataan jujur. Racun birahi jenis ini memang dicampur di arak. Jadi korban yang terkena selain berbicara melantur, juga sudah tidak teringat semua prinsip kepantasan dan susila. Korban akan terjerat melakukan hal yang tabu antara pria dengan wanita.
Yunfei diam saja, dirinya tidak bisa berkata-kata apa. Sesaat terpikir, dirinya hendak menutuk jalan darah si nona, tetapi jika ditutuk, si nona bisa mati karena panas di tubuhnya akan memuncak tanpa pelepasan. Karena tidak ada jalan, dia duduk mengambil sikap meditasi, mengerahkan Beiji Shengong untuk mendesak racun arak keluar dari dalam tubuhnya. Sedangkan si nona masih memeluknya dari belakang.
Salah satu khas dari racun ini adalah korban akan mencari lawan jenis, dada korban akan merasa sangat nyaman jika korban menempelkan diri "mendengar" jantung lawan jenisnya. Bagi Yunfei ini adalah sebuah cobaan berat karena dirinya tidak boleh terpancing akan nona yang mendekap di belakang pundaknya. Berselang tidak lama, akhirnya Yunfei berhasil mendesak racun keluar dari tubuhnya. Dirinya muntah arak yang tadi diminumnya sedangkan dari hidungnya menetes darah hitam beberapa tetes, tandanya racun yang mengendap dalam darahnya sudah didesak keluar.
Yunfei merasa tubuhnya ringan kembali, nafasnya panjang dan tidak memburu lagi. Keringat memang masih membasahi tubuhnya, detak jantungnya berangsur normal kembali yang daritadinya sempat memburu kencang. Mengingat si nona sedang bergelayutan di pundaknya, segera dirinya menidurkan kembali nona ini di ranjang. Dengan sekali tarikan nafas, jari jempol menutuk pelan di dahi si nona, sedangkan kelingking nya mengarah di atas bibir si nona. Energi yang tadinya telah terkumpul di tubuh Yunfei, lantas dialirkan melalui 2 titik kesadaran si nona.
Tetapi, sepertinya racun yang berada di tubuh nona sudah bekerja maksimal. Meski sedang dialirkan energy dari Yunfei, tetapi si nona masih tidak bisa diam. Si Nona bergerak tidak beraturan di ranjang dengan nafas yang masih memburu.
Salah satu cara selanjutnya adalah Yunfei menggunakan tangan kirinya menyelip ke dalam baju untuk membantu si nona, dengan mengarahkan telapaknya di daerah jantungnya, energy Beiji Shengong disalurkan ke jantung langsung untuk mendiamkan detak jantung si nona yang sedang berdetak kencang. Tidak lama Yunfei melakukan langkah menyembuhkan si nona, sesaat kemudian si nona sudah tenang. Nafasnya perlahan-lahan sudah melemah dari yang tadinya memburu. Barulah sekarang Yunfei menyadari bahwa dirinya sudah memegang dadanya si nona, dada nona ini kulitnya halus dan putih. Yunfei memang adalah lelaki yang normal, melihat hal demikian, dia terus-terusan menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri untuk tidak bertindak lebih jauh. Lantas karena takut dirinya terlalu tenggelam akan suasana di dalam kamar, dia mengerahkan energy Beiji Shengong, membagi energi untuk membantunya berkonsentrasi penuh supaya mengarahkan kembali pikirannya yang tadinya sempat kacau.
Beiji Shengong adalah salah satu ilmu tenaga dalam tingkat tertinggi di dunia persilatan. Tetapi jenis tenaga dalam ini lebih ke penyembuhan. Oleh sebab itu, berselang beberapa menit kemudian Si nona sepertinya hampir sadar. Hanya saja, racun yang mengeram di tubuh nona, masuknya dari minuman arak.
Jadi mau tidak mau, haruslah keluar dari mulut. Namun, si nona masih terlampau lemah untuk mengeluarkan arak dari dalam mulutnya. Untuk muntah, hampir tidak mungkin bisa dilakukannya. Jika menunggu nona sadar, kemungkinan bahaya akan datang.
Yunfei berpikir untuk menghisap racunnya keluar dari mulut namun dia berpikir ini kurang sopan. Tetapi jika tidak dilakukan secepatnya, jika musuh datang maka semuanya akan menjadi masalah.
Tenaga dalam Yunfei sudah terkuras cukup banyak. Untuk memulihkan diri, setidaknya perlu semalaman penuh untuk menghimpun nya kembali. Namun, krisis kali ini secepatnya harus diselesaikan.
"Nona Yin. . Mohon maaf..
Mau tidak mau memang racun dalam tubuhmu harus kuhisap keluar. Cara paling gampang dan efisien hanyalah menghisapnya melalui mulut..."
Yunfei selesai berbicara, dia langsung melakukannya. Dengan hisapan pertama, Yunfei berhasil melakukannya. Selanjutnya dia memuntahkan arak dari tubuh nona ke lantai. Antara sadar tidak sadar, si nona masih menutup matanya. Tetapi, dari kelopak matanya sudah meneteskan air mata tanpa dirinya bisa berbuat apa-apa. Yunfei bergembira dan berpikir karena jika dilakukan dengan benar, hisapan keempat atau kelima kali saja maka racun di tubuh nona sudah habis seluruhnya.
Yunfei tidak pernah berpikir ini sangat menghina nona ini, karena tujuannya jelas memang untuk menolong si nona. Tetapi, si nona sudah mulai beranjak dewasa, rasa malu dan "penghinaan" ini dihadapi tanpa dirinya bisa melakukan sesuatu.
Jika normalnya, ada seorang lelaki yang berani berbuat kurang ajar dengan dirinya seperti ini maka sudah bisa dipastikan lelaki ini pasti mati seketika. Tetapi, dalam keadaan demikian, dia merasa sangat malu, marah, putus asa karena dia melihat pemuda di depannya hanya beranjak remaja sudah menghinanya sedemikian rupa apalagi usianya hanya sekitaran 10 tahun.
Sedangkan Yunfei masih tergolong orang polos, antara pria dan wanita perbedaan seperti bagaimana memang dirinya belum benar-benar tahu. Hanya yang dipelajari selama ini adalah teori-teori di ruang buku perpustakaan sang guru.
Justru saat Yunfei menempelkan bibirnya untuk terakhir kali hendak menghisap racun keluar dari tubuh dari si nona. Pintu kamar terdengar didorong kuat oleh seseorang.
"Kakak???"
Yunfei yang sudah menghisap arak dari mulut si nona untuk terakhir kalinya, langsung memuntahkan sisa arak dari mulutnya ke lantai. Seketika dia melihat nona kecil dengan terkejut. Si nona kecil memandanginya dengan wajah terkejut, tidak percaya. Nona kecil seakan tidak percaya apa yang dilakukan kakaknya dengan pemuda di depannya, dia terbengong sebentar. Dilihatnya, kakaknya kemudian bangun dari ranjang secara perlahan.
Mukanya pucat, dahinya bercucuran keringat sampai ke lehernya juga keringatan. Pakaian kakaknya juga sudah tidak rapi, di dadanya terbuka sedikit serta pakaian kakaknya juga terlihat kusut-kusutan dan basah oleh keringat.
Dilihatnya sekilas ke pemuda berumur 10 tahun ini juga sama. Berkeringatan dan berwajah pucat. Seketika timbul kemarahan si nona kecil ini, dia merasa malu dan juga marah. Kenapa kakaknya bisa melakukan perbuatan terkutuk begitu dengan seorang pemuda yang masih berumur 10 tahun.
Lantas sambil berjalan ke arah ranjang, dia mengangkat tangannya, menampar si pemuda dengan kekuatan penuh.
Yunfei yang masih kelelahan tentu tidak sanggup menghindar atau membalas perlakuan si nona kecil. Sekali tamparan mendarat, Yunfei terpelanting kuat menabrak perabotan di samping dengan bersamaan perabotan lemari itu hancur berantakan.
"Kakak... Kenapa dirimu...??"
Tanya sang adik mendekati kakaknya, tetapi si kakak tidak sanggup menjawab, dirinya masih lemah.
"Binatang ini harus dibunuh!!!" teriak nona kecil dengan kalap. Nona kecil melihat masih ada air mata di wajah kakaknya. Dia mengira Yunfei sudah melakukan hal bejat terhadap kakaknya. Bagaimanapun lelaki itu harus diselesaikan terlebih dahulu, karena kakaknya jelas sangat terpaksa dilihat dari sisa air mata yang masih membasahi wajahnya. Tetapi ketika dia hendak bertindak lebih jauh ke Yunfei....
Di depan pintu sudah masuk 7 orang wanita sambil tertawa besar.
"Tidak disangka bahwa ada yang bisa mendesak racun 7 bunga kenikmatan keluar dari dalam tubuh..."
Mereka melihat pemuda remaja sepertinya sudah putus nafas di samping perabotan yang menimpa tubuhnya, tiada tanda ada pergerakan.
"Nona Kecil, kamu juga sudah terkena racun yang sama. Tetapi belum bekerja maksimal." Terdengar seorang yang berdiri di tengah bertutur kata. Umur wanita ini sekitar 40-an. Di wajahnya terdapat 2 goresan, matanya terlihat bengis. Di tangannya terdapat senjata sepasang gada yang terlihat agak berat.
Nona kecil tidak merasakan apa-apa, tidak merasakan dirinya teracun oleh pertarungan tadinya di luar. Cuma dirinya merasa sesuatu yang agak aneh dari dirinya, hanya pusing ringan saja.
"Ayok, gotong mereka." perintah wanita di tengah. Seketika 6 orang lainnya sudah bergerak menuju ke arah ranjang.
Nona kecil hendak melawan, tetapi kali ini dia merasa sesuatu hal sudah terjadi dalam dirinya. Pukulan dia ke Yunfei menghabiskan kesemua energinya, otomatis kali ini racun yang tidak ditahan tenaga dalam tubuhnya, segera bekerja kuat menyerang dirinya.
Tidak berapa lama, dirinya jatuh ke lantai, diri nona kecil merasa terjadi sesuatu hal di tubuhnya. Lantas semuanya terasa gelap...
Empat jam telah berlalu sejak Yunfei tidak sadarkan diri.
Perlahan-lahan dari perabotan yang hancur itu, bergerak. Yunfei yang ditampar oleh nona kecil telah siuman. Dia berpikir sebentar mengenai keadaan tadinya, Ia memang teringat nona kecil itu menamparnya dengan kuat. Setelah itu, dia sudah kehilangan kesadaran. Dia melihat sekitaran di kamar tidur, tiada orang dan senyap-senyap saja.
"Apa mungkin kedua nona sudah pergi?"
Setelah berpikir sebentar, Yunfei memegang sebelah pipinya yang serasa membengkak. Kemudian Ia teringat bagaimana menyembuhkan nona tadi, barulah merasa memang dirinya pantas mendapat tamparan. Lantaran merasa terdesak dan tiada jalan, mau tidak mau dia menggunakan cara mulut ke mulut. Tetapi setelah kesadarannya telah penuh akibat "tertidur" tadi, dia merasa rada malu dan tidak enak terhadap si nona.
Lantas dia berpikir praktis.
"Ah peduli amat. Lagian mungkin kita tidak akan berjumpa lagi..."
Berpikir sampai disini, dia merasa ada yang tidak betul. Karena mereka telah janjian untuk sama-sama ke gunung sepanjang masa. Sesaat, Yunfei merasa serba salah.
Kemudian serasa didengarnya adanya pertarungan di luar. Jaraknya mungkin cukup jauh. Tetapi teriakan beberapa orang yang bertarung samar-samar terdengar.
"Eh... Apakah keempat pendekar ini menemui masalah?"
Yunfei secepatnya berdiri dan mengikuti suara pertarungan di luar. Setelah keluar dari losmen, dirinya terkejut. Dilihatnya di jalanan tergeletak manusia entah masih hidup atau mati.
Dia mengenal beberapa orang disana yaitu karyawan kedai arak dan losmen tersebut. Didekatinya, kemudian dipanggil-panggil ternyata memang beberapa orang disini sudah tewas. Bekas darah dan tiupan angin membawa bau amis yang tajam di sana.
Melihat hal ini, Yunfei marah.
"Siapa yang tega-teganya membunuh mereka semua?"
Diingatnya kejadian tadi siang, Apakah memang benar mereka semua dibunuh karena menentang kerajaan Sui? Untuk mencari kebenaran sebaiknya dia segera menyusul ke suara pertarungan yang didengarnya.
Dengan gerak cepat, dia segera keluar dari desa Wang.
Meski suara kecil dan samar-samar, Yunfei sanggup mendengarnya , mungkin pikirnya jauhnya hanya 5 Li sebelah timur desa Wang. Segera dia beranjak ke arah suara.
Memang sejauh 5 Li lebih, dia sudah melihat kedua orang bermarga Wei, terkepung di tengah. Orang yang mengeroyoki mereka terdiri dari 20an orang. Di tanah, terlihat beberapa orang tidak bergerak, jumlahnya 4 orang.
"Kepung mereka, aku tidak percaya mereka sanggup bertahan begitu lama."
Terdengar suara orang, yang ketika Yunfei melihatnya dengan jelas bahwa kesemua orang ini memakai baju serba hitam, dan penutup kepala dan muka juga berwarna hitam. Rata-rata orang hitam ini memakai pedang dan golok di tangan mereka.
Sedangkan kedua orang bermarga Wei memainkan senjata yang jarang dilihatnya.
Wei yang lebih tua memakai rantai panjang yang ujungnya adalah sebilah belati, sedang memutar terus menerus untuk membentuk perlindungan. Sedangkan Wei muda, memakai gada besi yang lunak di kedua tangannya. Baik Wei tua dan Wei muda sama-sama memutar senjata nya sambil mundur beberapa langkah.
Yunfei melihat sebentar sudah tahu maksud kedua pendekar bermarga Wei. Karena tujuannya adalah kembali ke desa Wang.
"Sudah 6 jam kami mengepung kalian. Menyerahlah... Kedua nona yang kalian kawal itu sudah ditangkap oleh kami..."
Tetapi kedua pendekar Wei ini seakan bisu dan tuli, tidak menjawab perkataan mereka. Tetap dengan konsentrasi penuh, memutar senjata mereka masing-masing untuk bertahan sambil was was terhadap penyerang.
Melihat keadaan, Yunfei merasa ada yang janggal. Jika kedua nona sudah pergi, kenapa malah kedua orang bermarga Wei ini masih bertarung mati-matian. Jangan-jangan apa yang dibilang orang berpakaian hitam itu benar.
Berpikir sampai disini, Yunfei segera bergerak. Dia berpikir semua hal harus jelas, setidaknya dengan menolong 2 orang bermarga Wei ini, maka kedua nona itu bisa ditemukan jejaknya.
Yunfei bergerak cepat, dan tidak disangka-sangka orang hitam di tengah itu bahwa Wei berdua memiliki bala bantuan, baru saja dia sadar, mukanya telah ditendang oleh seseorang.
Si hitam ini jatuh berguling, tenaga kaki Yunfei sangat kuat apalagi sangat tepat saat menendang. Setelah jatuh, orang hitam ini sepertinya tidak sadarkan diri lagi.
Berbareng tendangan tadi, Yunfei bergerak, 5 kali dia meninju ulu hati lawan. Kelima orang roboh seketika. Karena sudah tahu kekuatan pemimpin di tengah, maka tinju Yunfei hanya menggunakan 1/3 kekuatan aslinya, namun sudah cukup membuat lawan jatuh tidak sadarkan diri.
Melihat keuntungan di pihaknya, kedua orang bermarga Wei dari bertahan, langsung menyerang. Hanya sekejap belasan orang telah menjadi korban mereka. Sisanya sekarang hanya 7 orang hendak melarikan diri.
"Kejar, jangan ada yang hidup, beberapa orang disini sudah cukup...," tutur Wei tua yang memberitahu adiknya.
Wei muda segera memainkan senjata kakaknya dan dirinya, sekali meloncat dan bergerak beberapa kali. Orang-orang yang lari itu semuanya terjatuh tewas.
Lantas mengambil kembali senjata Wei tua dan senjata dirinya , dia menghampiri Yunfei yang agak kebingungan.
"Bagaimana keadaan didalam losmen tadi?" Tanya Wei muda ke Yunfei.
Yunfei tidak enak menceritakan kejadian tadi di dalam, lantas dia berkata.
"Nona berdua tidak ada di dalam penginapan lagi. .
Aku... Tidak sadarkan diri tadi... Begitu diriku bangun, keduanya sudah tidak ada. Apakah kedua nona ada balik kemari dan mengatakan mereka pergi kemana?" Tanya Yunfei.
Wei tua agak menyelidik melihat ekspresi Yunfei:
"Apa terjadi sesuatu dengan nona besar?"
"Harusnya dia sudah tidak mengapa, tadinya memang dia kena racun.."
Wei Tua marah seketika.
"Kamu apakan nona besar kami??"
Yunfei susah menjawab, tetapi dia sudah tahu bahwa Wei tua sudah mencurigainya. Yunfei terlalu hijau di dunia persilatan, maksud dari Wei tua sederhana, apakah memang mereka sudah melakukan hubungan suami istri untuk menghapus racun di dalam tubuh mereka atau tidak. Memang racun yang terminum oleh mereka berdua, cara menghapusnya tentu dengan berhubungan badan seperti layaknya suami istri.
"Kakak... Ini anak harus kita bawa kepada Jenderal. Setidaknya dia yang akan bertanggung jawab kepada keluarga Li."
Yunfei diam saja tanpa bisa berkata apapun. Teringat dirinya tadi dengan si nona, maka dirinya harus bertanggung jawab itu lumrah. Mengenai pertanggung jawaban seperti bagaimana, dirinya sendiri juga tidak tahu.
Wei tua menghela nafas.
"Dari Taiyuan kemari semuanya baik-baik saja. Sejak berjumpa dengan anda, sepertinya masalah baru ada."
Banyak hal yang tidak bisa di jawab oleh Yunfei, dia hanya terdiam tanpa berkata apa-apa.
"Sudahlah kakak, kita lihat bagaimana keadaan nona berdua saja. Ini orang sudah dijatuhkan tanpa sadarkan diri. Kita memaksa mereka bicara saja kemana kedua nona."
Sang kakak terkejut, dia terpikir bagaimana kedua nona pergi atau misalnya ditangkap oleh musuh lebih dikhawatirkan.
Lantas dia menarik pemimpin mereka, menamparnya beberapa kali.
Orang hitam ini bangun, Wei Tua langsung menarik pakaiannya.
"Ehh???" ketiga orang ini terkejut melihat bahwa orang ini tiada lain ada pemilik penginapan tempat mereka menginap tadinya.
Wei tua marah.
"Siapa namamu? Kalian kemanakan nona kami??"
"Hamba bernama Chang Wu,..." terlihat bahwa dia ketakutan.
"Dimana nona kami?" Tanya Wei tua, sebelah tangannya memelintir pergelangan Chang Wu, suara krekan langsung terdengar. Tangannya sudah patah.
Yunfei yang melihat hal demikian, merasa ngeri juga. Meski dirinya adalah pesilat, dunia persilatan seperti bagaimana, dirinya tidak begitu jelas.
Sambil kesakitan, Chang Wu menjawab.
"Kedua nona sudah dibawa oleh istriku ke lembah Qin."
"Dimana lembah Qin?"
"Dua puluh li dari sini.."
"Apa tujuanmu menangkap kedua nona kami? Jelaskan atau aku patahkan kepalamu?"
Chang Wu meski tergolong bandit dan perampas serta perampok, sebenarnya nyalinya kecil. Mau tidak mau dia menjelaskan.
"10 hari lalu, kami menerima surat merpati menyatakan bahwa kalian berempat akan mengunjungi desa kami. Kami diberikan racun semacam ini dan diingatkan kebetulan kalian berdua lelaki dan berdua perempuan. Keempatnya harus diracun dengan menggunakan bubuk 7 bunga... bunga kenikmatan. Paling bagus jika kalian berempat melampiaskannya bersama-sama..."
Sampai disini, Wei tua berkata sambil bergetar.
"Siapa yang menyuruh kalian melakukannya??"
Wei tua bertambah marah mendengar penjelasan Chang Wu.
"Dari ibukota, Kasim Liu...
5 hari yang lalu kami menerima 100 tael emas dan 1000 tael perak. Jika berhasil melakukannya, maka akan ditambahkan masing-masing 200 tael dan 2000 tael lagi."
Wei tua dan muda terbelalak mendengar kata-kata Chang Wu.
"Lantas setelah ini, apa yang kalian lakukan? Membunuh kami?"
"Kalian berdua lelaki boleh dibunuh... Sedangkan yang wanita..."
"Yang wanita diapakan????" teriak Wei tua. Matanya melotot. Kemarahan nya menjadi-jadi.
Chang Wu hanya berkata beberapa kali...
"Ampun... Ampun...."
Lantas dia melanjutkan:
"Yang wanita harus di bawa ke ibukota..."
"Hanya ini?" Tanya Wei tua.
"Iyah hanya ini...." Jawab Chang Wu.
Begitu jawaban selesai, Chang Wu tiba-tiba hendak memegang lehernya karena dia merasa ada sesuatu yang melilit di lehernya.
Sebelum tangannya sempat memegang ke lehernya. Lehernya telah putus.
Wei muda melemparkan senjata kakaknya ke arah leher Chang Wu. Tentu saja ini penyebab Chang Wu terbunuh seketika.
"Bunuh semua orang yang masih hidup disini. Setelah itu kita beranjak ke lembah yang ditunjuknya..." Sahut Wei tua.
Wei muda bergerak, setiap orang dia tusuk ke jantung sekali dengan belati yang berada di tanah. Selang sesaat semuanya telah mati ditikamnya.
Beberapa orang disini memang masih belum tewas, yang dijatuhkan oleh Yunfei tadinya hanya tidak sadarkan diri. Melihat kekejaman Wei muda mau tidak mau, dia merasa keder hatinya. Dia berpikir bahwa orang yang sudah tidak bergerak kenapa tidak diampuni? Sekilas dia kembali berpikir, jika tunggu mereka bisa bergerak dan datang bala bantuan mungkin yang mampus bisa saja kita bertiga.
Kebijaksanaan tidak pernah sejalan dengan kepatriotan. Ada kalanya kebijaksanaan membuat semua hal menjadi mudah. Melihat bagaimana sisa orang-orang itu tewas di bunuh dalam keadaan tidak sadarkan diri, Yunfei merasa bahwa dia sebenarnya tidak cocok untuk hidup di dunia persilatan, melihat bunuh membunuh yang seperti demikian. Di dunia persilatan apalagi peperangan memang jika tidak bunuh maka dibunuh sudah merupakan hal yang lazim dan lumrah.
Ketiganya lantas bergerak ke lembah Qin.
"Kamu anak muda, apakah pertama kali masuk dunia persilatan?" Tanya Wei muda dengan tersenyum.
"Betul sekali kakak Wei.. Aku, baru pertama kali..."
"Tetapi ilmu silatmu cukup baik, harusnya hanya beberapa orang di dunia ini yang sanggup menandingimu..."
"Mengenai ini, diriku tidak pernah tahu." Jawab Yunfei.
Wei tua lebih pencuriga, dia berbeda dengan adiknya yang lebih terbuka sifatnya. Meski biasanya, Wei muda justru jarang bercakap tetapi dirinya lebih berpikiran bebas. Kakaknya terlihat lebih kolot, dan lebih sesuai aturan daripada sang adik.
Ketiganya bergerak dalam kegelapan, langkah mereka bertiga ringan dan meski bercakap dan berjalan cepat. Nampak ketiganya tidak letih.
Yunfei berpikir ilmu silat kedua orang marga Wei ini, tadi terlihat cukup baik, tetapi langkah kaki mereka jauh-jauh lebih baik. Lantas memberanikan diri dia bertanya,
"Tadinya diriku melihat kedua kakak bersama nona kecil keluar dari penginapan, sebenarnya kalian pergi kemana?"
Wei muda menjawab sambil menghela nafas,
"Kami mendapat perintah kilat untuk meninjau suatu tempat. Setelah dipikir-pikir memang benar bahwa kita sudah terpancing keluar sarang. Nona besar meminta kami berjalan dulu, dia akan menyusul bersama dirimu."
Yunfei berpikir puzzle di dalam hatinya sudah terbuka sedikit demi sedikit. Dia berpikir pantas saja tadi nona besar sepertinya hendak meninggalkan penginapan, yang dia lakukan pertama ada meneguk beberapa cangkir minuman, mungkin dipikirnya habis ini baru jalan menuju ke tempat yang hendak dituju. Tetapi begitu minuman yang mengandung racun itu terteguk, nona besar lantas tidak mau bangun dari tempat duduknya malah berbincang dengannya sampai terjadilah "kecelakaan" tadi.
"Lantas bagaimana kalian selanjutnya bisa bertemu dengan orang berpakaian hitam tadi?" Tanya Yunfei.
Wei muda menjelaskan, setelah keluar kota puluhan Li secara perlahan-lahan. Mereka bertiga dicegat seratusan orang berpakaian hitam. Lantas sambil bertarung mundur, kami hendak balik ke penginapan. Nona kecil bergerak paling cepat, kami sempat melihat dirinya sesaat dilempar bubuk putih, tetapi dirinya tidak begitu berhalangan. Sampai-sampai kami tahu bahwa dirinya terkena racun 7 bunga kenikmatan, kami khawatir dan akhirnya hendak segera bertarung sambil mundur. Adik Yunfei, bagaimana dengan dirimu?"
"Sebenarnya.... Kami berdua terkena racun yang sama... Tetapi..."
Hendak melanjutkan, Wei tua terdengar berdehem sekali. Maksud Wei tua jelas, bahwa dia dilarang berbicara lebih jauh. Karena menurut pengetahuan tuan Wei, tidak ada yang sanggup mengeluarkan racun tersebut dan kelihatannya pemuda ini sehat-sehat saja. Dengan begitu sangat jelas, bahwa nona besar dan pemuda ini sudah berhasil mendesak racun keluar melalui hubungan intim.
Yunfei tentu tidak tahu maksud dari Wei tua. Dia mendiamkan, tapi kemudian dia melanjutkan dengan menutup beberapa kejadian.
"Nona kecil memang datang ke penginapan, dia melihat diriku dan kakaknya, lantas marah besar. Mukaku yang bengkak sebelah ini ditabokinnya dan selang cukup lama diriku tidak sadarkan diri..." Aku Yunfei dengan jujur.
Wei tua menggelengkan kepalanya sambil terdiam sedangkan Wei muda takjub mendengar kata-kata Yunfei. Hanya berselang setengah jam, mereka telah sampai di sebuah lembah.
Jalanan ketika itu agak gelap dan angin musim gugur bertiup cukup kencang. Tetapi dekat lembah mereka sudah melihat banyak obor dipasang. Di tengah terdapat 2 wanita yang diikat di sebuah tiang kayu. Jelas keduanya memang adalah Nona Li berdua. Sedangkan sekelilingnya adalah wanita berjumlah belasan orang.
Di panggung terdapat seorang wanita yang duduk dengan jemawa, di sampingnya terdapat seekor harimau. Iyah, seekor harimau peliharaannya yang hanya bergolek lemas.
"Bangunkan mereka berdua!" perintah wanita yang sepertinya adalah pemimpin disini.
Sesaat mereka menyiram kedua nona ini dengan air dingin.
Air dingin dengan angin yang berhembus kencang seketika membuat keduanya segera siuman...
"Nona berdua.. Kalian siuman juga..." terdengar tawa wanita ini.
"Siapa kamu?" Tanya nona kecil ke arah wanita, tetapi melihat harimau di sampingnya, nona kecil mau tidak mau terkejut dan takut.
"Tidak perlu tanya siapa diriku. Tapi kalian berdua..."
Begitu suaranya sampai disini, dia lantas membentak marah-marah.
"Kamu yang besar, nantinya kamu akan dilempar untuk dinikmati oleh anak-anak buahku. Gara-gara dirimu, suamiku yang mata keranjang itu hendak menikmatimu dulu baru diantar ke ibukota..."
Wajah nona besar ini memang tergolong seorang wanita cantik, di usianya yang menginjak dewasa, dirinya tidak heran sanggup memikat banyak lelaki di luaran apalagi lelaki kaum perampok, perampas seperti mendapat durian runtuh, mendapat harta karun.
Mendengar tutur si nyonya, nona besar hanya terdiam tidak bisa berkata-kata, tetapi dari nada nyonya ini, dirinya mau tidak mau merasa ketakutan.
"Siasat kami, gara-gara anak kecil itu jadi berantakan. Tetapi bagaimanapun, perubahan siasat tidak masalah... Yang penting adalah hasil akhirnya. " Lantas dia tertawa melengking. Suara nya mirip suara setan yang bergema menakuti orang-orang di tengah malam.
Yunfei bertiga melihat yang duduk di tengah adalah wanita berumur 40an tahun. Lantas dia berkata kepada kedua orang bermarga Wei.
"Aku akan mencoba membunuh harimau disampingnya, Tuan Wei berdua salah satunya menolong kedua nona. Sedangkan 1 lagi menghadapi wanita di tengah itu."
Kedua orang mendengar ide Yunfei, mengiyakan langsung. Wei tua masih mencurigai Yunfei adalah mata-mata atau bisa jadi adalah sekelompok dengan para perampok. Sekarang idenya adalah dia memukul harimau tentu sangat baik, jika idenya adalah menolong kedua nona tentu akan ditolaknya sebab jangan-jangan Yunfei nantinya menjadikan keduanya sebagai sandera.
Sedangkan Yunfei berpikir praktis, dia merasa musuh paling kuat adalah harimau, dan melihat tadinya kedua ilmu silat Wei berdua masih di bawahnya , dia praktis memilih harimau saja. Sekeliling memang terdapat beberapa orang pendekar wanita. Sebanyak belasan orang di sana terlihat siap dengan pedang ditangan mereka.
"Sangat bagus memang tadi tidak ada yang hidup-hidup keluar, jika tidak maka mereka yang disini sudah melarikan diri...
Harusnya si nyonya itu belum tahu jika semua anggota beserta suaminya telah tewas." Demikian pikirnya Yunfei.
Disini terlihat memang tindakan Wei tua adalah Benar dan tepat. Dengan membunuh kesemuanyalah dan sekarang tidak ada yang bisa menyampaikan situasi saat ini, mereka akhirnya tidak kesusahan mencari kedua nona. Jika tadinya mereka memegang kode etik satria dan pahlawan, maka bisa bisa hasil akhirnya akan sangat berabe.
Selesai mengatur, Yunfei mengambil batu di sampingnya, batu ini sebesar 2 kali genggaman tangan kanannya. Di lemparkan dengan kekuatan tepat menghantam ke pohon di seberang. Jarak antara tempat mereka dengan pohon di sana adalah sekitaran 1/2 Li. Suara gedebuk keras timbul di pepohonan di belakang panggung si wanita. Lantas semua orang, bahkan harimau itu bangkit melihat ke arah lemparan Yunfei. Tanpa memberi aba-aba mereka bertiga langsung menyerbu ke tengah panggung.
Wei tua menyerbu ke arah majikan wanita, sedangkan Wei muda mengarah ke tiang yang mengikat kedua nona. Dengan senjata di tangan berupa rantai panjang diayunkan ke arah si wanita. Tetapi, wanita ini baru saja hendak menoleh ke belakang, belati di rantai itu telah menancap ke lehernya. Kekuatan belati yang tajam ini tidak main-main, sekali menusuk langsung menancap mematahkan tulang tengkuk si wanita.
Dia jatuh terjerembab, dan tewas seketika juga...
Yunfei yang mengarah ke harimau mendapat keuntungan, harimau ini nampak hendak menyerang Wei tua yang telah menyerang majikannya. Dengan tinjuan tenaga penuh, dia menghantam ke leher harimau. Seketika, leher harimau telah patah dihantam oleh kekuatan tangannya. Harimau juga seketika tewas menyusul sang majikan.
Yunfei kagum akan kecepatan kedua orang bermarga Wei ini, selain kungfu mereka yang mempunyai pergerakan agak aneh. Ternyata langkah kaki keduanya sangatlah cepat. Tadi mereka sama-sama bergerak, Yunfei merasa dirinya tertinggal seketika. Rantai belati sudah mengambil nyawa, dia baru sampai ke panggung untuk meninju harimau.
Wei muda segera tertawa senang, diayunkan gada lenturnya yang kembar ke tiang dengan keras. Tiang kayu itu dihancurkan dengan mudah. Lantas dengan cekatan, dirinya membuka ikatan tali kedua nona. Dilihat dari wajah, kedua nona masih tampak sangat kelelahan.
Nona besar yang sadar bahwa mereka telah ditolong oleh si pemuda dan 2 pengawal Wei, melihat dengan tatapan aneh ke Yunfei. Dia tidak bisa berbicara sepatah kata apapun. Hanya sempat menyebut kata terima-kasih ke 2 orang bermarga Wei, tetapi dia tidak menyebut kata-kata ini ke Yunfei.
Wei tua yang sedikit banyak tahu masalah, melihat nona besarnya menatap Yunfei dengan tatapan malu dan seperti marah, tetapi dia sendiri juga tidak berani menanyainya apa yang tadinya terjadi. Di sebelah, nona kecil terlihat lemah, dirinya sepertinya sudah diberikan pemunah racun oleh wanita yang sudah tewas itu. Tetapi kesadarannya masih pelan-pelan berangsur membaik.
Sekilas dia melihat ke arah Yunfei, dia mengatakan:
"Anak kecil... Apa yang terjadi di penginapan itu, hendaknya kamu bertanggung-jawab." Suaranya masih lemah, tetapi jelas suaranya mengandung penghinaan terhadap si pemuda. Yunfei hanya terbengong, dia tidak bisa berkata apa-apa untuk menjawab nona kecil.
Sedangkan sekitaran disana , sejak mengetahui bahwa nyonya majikan mereka tewas. Belasan wanita di sana sudah kabur dan Yunfei berempat tidak berniat mengejar. Yunfei melihat ke nyonya yang sudah tewas itu, nyala terang obor memperlihatkan kepalanya seperti terlepas dan tidak terlepas dari leher, kedua matanya melotot. Wajahnya memang terdapat bekas sayatan cukup dalam, meski sudah sembuh tetapi bekas ini tidak dapat dihilangkan, melotot ke arahnya dengan muka yang sangat mengerikan.
"Lihat apa lihat?" si nona muda menggeram sambil marah ke arah Yunfei.
"Jika dirimu tidak mengambil tanggung jawab sebagai seseorang lelaki, nantinya nasibmu juga akan seperti demikian..."
Terlihat si nona kecil yang hendak marah lebih lanjut, namun segera dihentikan oleh kakaknya.
"Adik... Mengenai masalah ini, nanti kita bicarakan lagi, sebaiknya segera kita cari tempat aman untuk beristirahat dahulu."
Mereka bertiga mengiyakan perkataan si nona besar.
Sedangkan Yunfei hanya diam di tempat, merasa bersalah, dia hendak kabur tetapi dipikirnya ini bukanlah sifat seorang lelaki. Tetapi jika tidak kabur, dia juga merasa canggung dengan ketiga orang di depannya.
Diingatnya kejadian tadi di kamar penginapan, sesaat dia berpikir hendak membela diri, tetapi dirinya juga tidak dalam keadaan benar jika menceritakan kejadiannya karena bagaimanapun ini membuat nona besar ini sedikit banyak telah dihina olehnya terutama dia sudah memegang dada nona ini untuk membantunya mengendalikan detak jantung yang memburu serta menghisap arak keluar dari perut nona besar melalui mulutnya.
Dirinya sekarang berharap-harap cemas bahwa nona besar mengetahui apa yang terjadi tadi hanya semata-mata untuk menolong dirinya yang keracunan, bukan berniat menghina dan berharap dirinya memang bisa menjelaskan semua hal kepada mereka bertiga...
Bersambung...
0 komentar:
Posting Komentar