Pages

Jumat, 19 Maret 2021

Novel Riakan Awan Iblis Pedang Bab 6

 

Bab VI - Wei Zheng, Wei Shu Dan Keluarga Li

"Sangat berbahaya... Tidak disangka kita hampir tersesat akibat sembarang menghapal." Tutur nona besar.

Mereka melihat nona kecil berkonsentrasi melihat ke "36 orang" yang berlatih silat di dinding. Takut terjadi sesuatu padanya, Nona besar menanyai dia.

"Adik... Kamu tidak apa-apa?"

Si adik berpaling dan menjawab dengan agak keheranan.

"Kakak... Ini jurus-jurus pedang yang kacau..."

"Eh? Kacau bagaimana?" Tanya sang kakak.

"Dengan bergerak begituan, ilmu pedang ini jadi serampangan saja. Bahkan setelah kulihat malah seperti tukang daging yang mengambil pedang dan golok sembarang membacok dan menusuk.." tutur sang adik.

Yunfei merasa agak heran. Memang tadi dia mempraktekkan Ilmu pedang sesuai di dinding. Jawaban atas keraguan di hatinya terjawab oleh perkataan nona kecil. Dia merasa bahwa ilmu pedang di dinding sepertinya sembarang di coret oleh orang-orang, tetapi karena ditulis bahwa ini ilmu pedang tanpa tanding, maka dia hanya melafalkannya saja, suatu saat mungkin hendak dicoba nanya ke adik ketiganya, Qin Shubao yang jago pedang. Tetapi setelah dia pikir bahwa langkah nona kecil tadi justru mengalami 10x lipat kemajuan, tidak mungkin ilmu pedang ini dibuat khusus untuk lawakan orang yang mempelajarinya.

"Mungkin saja ada sesuatu hubungan dengan teori yang di dinding." Kata nona besar.

Yunfei mengiyakan, tetapi belum dapat mengerti koneksi antara teori dengan ilmu pedang yang di praktekkan nya tadi.

Selang mereka berpikir sebentar. Tiba-tiba di tengah ruangan tepat di tempat yang berdiri baju zirah bersinar lumayan terang. Sepertinya cahaya yang masuk adalah cahaya matahari pagi.

Bersamaan dengan masuknya cahaya matahari pagi, lantas sinar merah dan hijau di dinding hilang dalam sekejap. Ketiga orang langsung terpana menyaksikan perubahan dalam sekejap tersebut.

"Kamu sudah menghapal semua teori nya?" Tanya nona besar ke Yunfei. Yunfei tersenyum sambil mengangguk.

Kembali dia tanya ke nona kecil.
"Bagaimana kamu adik kecil?"

Nona kecil tertawa riang mendengar pertanyaan kakaknya dan menjawab, sudah kesemuanya.

Baik Yunfei dan nona kecil mendapat pengalaman yang baik dalam ilmu silat. Sedangkan nona besar tiada dapat apa-apa. Lantas Yunfei yang memegang pedang di tangan, memasukkan kembali ke sarung dan diserahkan ke nona besar.

"Ini untukmu saja..." tutur Yunfei.

Tetapi nona besar menolaknya. Dia berkata,
"Sepertinya darahmu, ada hubungan dengan pemilik tempat ini. Karena darahmu, adikku mendapat manfaat yang sangat bagus. Justru aku yang harus berterima-kasih."

"Adik.. Bagaimana keadaan tubuhmu sekarang?"

"Sepertinya sangat baik kak.. Setelah mempelajari langkah tadi, energy feng negative dalam tubuhku menghilang... Selain langkah tadi, hapalan mengenai penggunaan energi saat memakai langkah tersebut mendesak energi feng negative keluar seluruhnya."

"Energi feng negative?" Tanya Yunfei.

"Ceritanya panjang, jika ada waktu, kita ceritakan saja nanti. Sebaiknya kita cari jalan keluar dari sini supaya kedua Wei tidak mengkhawatirkan kita bertiga."

Yunfei tidak merasa nona kecil terkena sesuatu penyakit. Kali ini dilihat mimik wajah nona kecil. Dia tersenyum berseri sambil melihat ke Yunfei. Yunfei merasa perlakuan nona kecil sangatlah aneh. Dari awal perkenalan, biasanya nona kecil ini selalu marah, memaki kepadanya . Tetapi setelah dia bangkit setelah bermeditasi tadi, wajahnya yang pemarah itu sudah hilang sekarang.

Yunfei berpikir, apakah memang nona ini sudah tidak marah lagi denganku? Karena mungkin tadi aku menolongnya, malah menduluankan dirinya?
Pemikiran Yunfei seperti nya terlalu jauh, karena bagaimana mungkin seorang yang belum paham akan wanita, beranalisis dengan setiap kemungkinan hati dan pemikiran seorang wanita?

Sesaat kemudian, mereka berjalan ke arah baju zirah. Yunfei melihat baju zirah yang terlihat gagah dan memeriksa dengan seksama.

"Eh.. Disini, di dalam ini ada tulisan..."

Yunfei membaca:

"Di antara MAJU dan BERGERAK adalah jalan ke tempat pusaka keluarga."

Di dalam gua sekarang telah terang. Cahaya matahari masuk dari lubang atas, meski kecil lubang di atas tetapi cukup untuk dijadikan penerangan mereka sama-sama, pandangan di sekitaran bahkan lebih baik daripada tadi hanya sebatas lilin.

Mengeluarkan kompas dan nona besar membaca arah, lantas di tunjukkan bahwa arah tenggara adalah tempat yang ditunjuk. Disini terdapat sebuah batu yang sekilas terlihat persegi yang berupa pintu.

Yunfei hendak mendorong pintu, tetapi nona besar mengatakan di samping sepertinya ada alat untuk membukanya.

Kemudian pemuda ini mendorong pegas kecil di samping pintu, terdengar suara derakan dan pintu terbuka lebar setelahnya.

"Mari..." tutur Yunfei sambil tersenyum.

Mereka bertiga bergerak maju masuk. Di dalam sekarang sudah terang, tidak seperti tadi malam yang serba gelap. Sesaat berjalan beberapa langkah di lorong, mereka mencium harum cendana. Di depan lorong, ujungnya sedikit melebar, terdapat meja dan sebelahnya adalah rak-rak berisi banyak senjata dari pedang, golok, belati, tombak, ruyung, perisai, cambuk, bahkan senjata pisau kecil yang merupakan senjata rahasia juga terlihat.

Nona besar berjalan ke arah meja, di lihatnya terdapat tulisan dan ada 2 bilah pedang yang di letakkan di meja.
Kedua pedang yang di letakkan "tidur" ini memiliki panjang sekitar 4 kaki, sepertinya kedua nya adalah sepasang karena baik gagang pedang dan panjangnya seimbang.
"Pedang karang hitam" terbaca dan di sampingnya terdapat sebuah tulisan "Pedang merak membara"

Kedua pedang ini yang satunya berwarna hitam pekat, sedangkan satunya lagi berwarna merah di sisi pedang tajamnya. Sedangkan pegangan pedang berwarna hitam keperakan.

"Ini adalah harta-karun, kedua pedang yang bagus." Tutur nona besar tetapi dia tidak mengambilnya.

Nona kecil tertarik melihat sepasang belati di samping meja di ujung. Belati ini juga memiliki nama yaitu "Si kembar cilik". Nona kecil tersenyum, sambil mengangkat kedua belati dia menarik keluar belati dari sarung. Segera terasa hawa dingin yang terbit dari belati. Belati pertama memiliki ukiran nama di dekat gagang "Si Lincah" dan sebatang belati lagi tertulis "Si cerdik". Lantas dia memohon ke Yunfei,

"Kak Yunfei.. Bolehkan saya memiliki sepasang belati ini? Belati di tanganku sudah rusak."

Yunfei tercenggang melihat nona kecil yang bertutur sopan kepadanya , lantas dia berkata.
"Sebenarnya ini bukan punyaku... Tidak mungkin gua ini dimiliki olehku... Tentu barang disini termasuk harta karun dan ditemukan oleh kita, tentu bisa saja nona mengambilnya."

Nona kecil girang, lantas dia hendak mencoba bagaimana tajamnya kedua belati, sesaat itu dia membacok ringan ke belati miliknya yang sudah sompel dengan menggunakan belati si lincah. Hanya tebasan ringan saja membuat belati miliknya terkutung dua.

Mereka bertiga tercenggang melihat tajam dan kuatnya belati tersebut. Lantas nona kecil mengangkat dan melempar belati miliknya yang 1 nya lagi ke udara dan membacok menggunakan si cerdik pelan saja. Hasilnya belati miliknya terkutung dua, dan keduanya pecahan belati menancap ke tanah.

Hasil dari tebasan ringan ini juga sangat luar biasa. Jelas-jelas kedua belati ini adalah senjata pusaka. Sekarang ketiganya sangat tercengang melihat efek tebasan kedua bilah belati si kembar ini. Sambil memuji Yunfei berkata kedua belati ini sangat cocok untuk nona kecil yang lincah dan cerdik. Nona kecil mendengar pujian Yunfei tertawa bergembira.

Kemudian Yunfei berkata ke nona besar.
"Nona.. Ada baiknya nona juga memilih senjata.."

Nona besar tertarik terhadap pedang di meja, hanya saja dia bukanlah pendekar pedang. Lantas dia berkata, "Kedua pedang ini membuatku sangat tertarik, hanya saja sayang sekali nanti ini pedang tidak sanggup kugunakan dengan baik. Untuk ilmu senjataku, adalah ilmu cambuk." Dan di dinding terlihat adanya sebuah cambuk. Dia berjalan kesana untuk mengambil cambuk tersebut. Cambuk ini memiliki gagang berwarna emas, tetapi cambuk berwarna hitam mengkilap. Di bagian hitam mengkilap dekat pegangan tertulis nama "Naga Menari". Nona besar tersenyum, dan mengambil cambuk, seketika hendak di cobanya tetapi memang tidak cocok dilakukan di dalam ruangan senjata yang sempit. Lalu dengan menggulung cambuk, dia ikat di pinggangnya.
"Terima kasih kakak Yunfei." Tuturnya sambil tertawa. Yunfei mengerutkan alis melihat reaksi si nona besar. Kemudian dia berkata,
"Jika ada senjata mirip yang dipakai Wei tua dan muda sangatlah baik..."

Kemudian Ia berjalan melihat jenis-jenis senjata. Tetapi dia tidak menemukan senjata yang cocok. Karena disini tidak ada senjata yang mirip yang dipakai kedua orang marga Wei. Memang disini ada beberapa gada, hanya saja milik Wei muda adalah gada keras namun lentur pergerakannya untuk sepasang gada.

"Bagaimana sepasang pedang di meja itu kita berikan saja kepada mereka? Kedua orang bermarga Wei bisa memainkan pedang." Tutur nona besar.

Yunfei mengiyakan sambil tertawa.
"Sungguh sayang sekali jika pedang sedemikian bagus tidak di bawa jalan-jalan ke dunia persilatan.."

"Tetapi kedua pedang dari warnanya terlihat sangat menarik perhatian, ada baiknya jika kita cari sarung pedang untuk menutupinya saja." Tutur nona kecil.

Yunfei berdua mengiyakan. Lantas mencari sarung pedang di ruangan tersebut.

Mereka menemukan di samping rak terdapat dua buah sarung, dan mencocokkan yang alhasil memang kedua sarung ini cocok dengan kedua pedang tersebut.

Ketiganya berjalan ke dalam ruangan dalam, Yunfei sekarang mendapat 1 bilah pedang di ruangan tengah tadi, Nona besar membawa cambuk sedangkan nona kecil membawa sepasang belati. Sedangkan kedua pedang di meja tadi di selipkan di pinggang Yunfei.

Tiada tempat gelap ketika mereka berjalan ke dalam ruangan, tetapi ketika sampai ke ujung jalan, mereka menemukan bahwa ujung jalan tersebut hanyalah jurang belaka. Sekitaran mereka gelap.

Dilihat ke ujung bagian atas terdapat sebuah gua kecil dimana matahari memang bisa masuk ke dalam. Tetapi di lantai, mereka tidak menemukan lagi pijakan. Jarak antara tempat mereka ke gua di atas  adalah sekitar 200 kaki lebih.

"Jangan-jangan kita bisa masuk tidak bisa keluar..." tutur nona besar sambil tersenyum getir.

Yunfei tidak habis akal, dicarinya sekitaran tempat ini, tetapi merasa agak berbahaya, dia mencabut pedang di pinggang kanannya yaitu pedang merak membara.

Seketika tempat disana terang oleh cahaya merah dari pedang.

Nona besar dan nona kecil tersenyum girang. Tetapi ketika Yunfei mengarahkan ke jurang. Sinar merah ini tidak sanggup menembus ke bawah. Sepertinya jurang ini tidak main-main dalamnya.

"Eh.. Disini ada lobang yang sama dengan ruangan tadi." Tutur nona kecil setelah melihat sekitaran gua.

Yunfei menoleh ke batu di samping. Memang benar bahwa ada lobang pedang yang cocok sepertinya dengan pedang yang di ambilnya di ruangan tengah tadi. Segera dia cabut pedang dari sarung dan mencolokkan ke dalam lobang di dinding samping.

Tetapi setelah menunggu, tidak nampak terjadi sesuatu. Yunfei merasa agak heran.

Nona besar berkata.
"Kulihat bahwa pedang disana mungkin colokannya sampai ke jalan masuk tadi. Lebih baik coba dari sisi berlainan. Yaitu dari dinding sebelum jumpa gua ini."
Yunfei mengiyakan.
Dia berjalan ke arah mereka datang tadi, mencolokkan pedang dari sisi lain.

Sesaat saja terdengar suara di atas gua dan kemudian terlihat sinar cukup terang menerangi jurang gua.

"Ahhh... ternyata ini..."

Ketiganya girang seketika, karena di jurang yang gelap itu terlihat bahwa setiap jarak sekitar 15 kaki terdapat tapakan yang cukup untuk 5 orang berdiri disana. Hanya saja, sepertinya tempat pijakan ini melingkar ke atas dan mengharuskan mereka mendaki ke atas gua.

"Sungguh hebat misteri dan peralatan teknologi gua di gunung Sanqing ini" tutur Yunfei dengan terkagum.
Kedua nona ini mengiyakan perkataan Yunfei.

Yunfei tidak berani langsung loncat ke tempat yang nampak terang akibat sinar masuk tersebut. Dilihatnya ada sebanyak 20 pijakan yang sama di atas. Entah ini perangkap atau tidak, siapa yang bisa tahu. Disamping itu, Yunfei melihat ada bebatuan segenggam tangan yang cocok untuk dimanfaatkan, lantas diambil dan dilemparkan ke tempat pijakan tersebut. Ternyata memang merupakan batu gua yang padat dan bisa untuk berpijak. Dengan memegang sarung pedang di tangan kirinya, dia berniat melindungi diri dan tidak tahu apakah ada ancaman atau tidak setelah sampai di tempat yang dituju.
"Aku duluan.. " tutur Yunfei.
Lantas dengan ilmu ringan tubuh, dia beranjak dan bergerak ke tempat yang dituju. Hanya sekali lompatan, Yunfei telah berhasil memijak ke tempat ini. Dilihatnya ke atas tepat, rupanya cahaya yang masuk adalah akibat di atas gua terdapa lubang yang sinar matahari telah masuk. Lantas dia menyerukan kedua nona mengikutinya.

Dengan cara yang sama, dan berbekal batu di tangan, Yunfei melakukan hal yang sama yaitu melemparkan ke pijakan batu alam yang bercahaya secara terus menerus. Melakukan 21 kali pijakan mendaki ke atas, mereka telah sampai di ujung gua. Yunfei bertiga kegirangan. Dilihatnya dari gua keluar, tempat mereka berdiri adalah gua kecil. Nona besar mengeluarkan kompas, dan membaca mereka berada di mana. Rupanya lubang gua ini adalah pintu masuk "TUTUP" yang merupakan pintu larangan juga. Sekarang posisi mereka adalah berada di atas gunung. Boleh dikatakan ini adalah puncak gunung dari Sanqing. Melihat ke atas, ketiganya merasa harus mendaki kembali.

"Sayang sekali pedang yang didapati saudara Yunfei ternyata adalah untuk membuka jalur TUTUP tersebut. Jika tadi tahu begitu, ada baiknya saudara memilih senjata untuk di bawa keluar."Tutur Nona besar.
Yunfei menjawab nona besar,
"Sebenarnya untuk ilmu senjataku adalah tombak. Tetapi pelatihan tombakku hanya ilmu dasar saja, tidak cocok bagiku untuk bersenjata."

Seiring dirinya menutup mulutnya, terdengar suara keras seperti suara panah menyambar, tetapi kali ini bukan dari bawah gunung, melainkan suara panah dari dari dalam gua. Ketiganya segera mencabut senjata untuk menahan serangan suara panah yang mendesir tajam.

Tetapi selang sesaat kemudian ketiganya mendengar seperti suara pedang masuk ke dalam sarung. Ketiganya lantas girang karena tahu bahwa Pedang yang tadinya "menolong" mereka keluar gua itu sudah "terbang" dan masuk ke lubang yang sama di samping kanan mereka. Yunfei berkata sambil tertawa,
"Sepertinya ini pedang memang berjodoh denganku. Dia tidak mau ketinggalan..."

Mencabut pedang di dinding samping, Yunfei segera menyarungkan pedang di tangannya. Seiring di cabutnya pedang, Jalanan tadi yang bersinar terang langsung gelap gulita.

Mereka bertiga terpana menyaksikan betapa hebatnya teknologi gunung tersebut. Mengingat kejadian tadi malam, mereka berpikir tidak heran bahwa orang yang pernah datang kemari selalu pulang dengan tangan kosong. Ketiganya lantas mendaki ke atas puncak gunung. Jarak gua "tutup" ini dengan puncak hanya sekitaran 20 langkah saja. Tentu ini tidak memberatkan mereka bertiga.

Begitu sampai di puncak, mereka bertiga merasa puas. Luas puncak gunung ini mungkin sekitaran luas 1 desa kecil. Mereka bertiga tersenyum melihat sinar matahari yang mulai naik, sambil melihat pemandangan sekitaran. Yunfei menilik ke kiri kanan dan melihat ada sesuatu benda disana,mirip gulungan bambu.

"Lihat itu apa.." tuturnya sambil menunjuk. Kedua nona berjalan mengikutinya.

Lantas dengan berjongkok, Yunfei mengambil gulungan bambu, membukanya dan membaca.
"Berkumpul di Yinjiang, keadaan tidak baik.. Si tua dari gua putih..."
Kedua nona terkejut, nona kecil langsung menyatakan.
"Ini surat dari Wei tua."

"Yinjiang terletak di utara. Wei tua mengirim pesan bahwa ada bahaya. Dengan kemampuan mereka berdua sepertinya tidak ada halangan mengalahkan kelima pesilat dari kerajaan." Tutur nona besar.

Yunfei berpikir, jangan-jangan musuh yang membuat surat tersebut untuk memancing mereka. Surat bambu ini pasti diangkut oleh burung entah merpati atau burung jinak lainnya yang bisa diperintah.
Melihat Yunfei berpikir, nona kecil menyatakan.

"Surat itu pasti dari Wei tua. Tua putih adalah julukan dia di gunung.." tutur nona kecil.

Yunfei tersenyum melihat si nona bisa menebak jalan pikirannya. Nona kecil juga tersenyum kepadanya. Dilihatnya nona kecil tiada lagi marah-marah seperti halnya semalam, Yunfei juga merasa lega hati. Biasanya tentu si nona ini membentaknya setiap memulai perkataan dengannya.

"Baiklah, segera kita ambil jalan ke bawah. Arah yang kita jalan adalah utara." Tutur nona besar. Ketiganya bergerak cepat mengambil arah utara.

Hanya selang 2 jam perjalanan cepat, mereka telah sampai ke Yinjiang. Yinjiang adalah sebuah desa yang sangat bagus. Terletak di lembah Gunung Sanqing sebelah utara, Aliran sungai dari Gunung mengikuti lekuk sepanjang jalanan dan di desa ini terdapat sebuah danau yang indah.

Kegiatan desa ini lebih tenteram, sangat cocok untuk beristirahat. Tetapi ketiganya tidak tertarik untuk mengaso dahulu, mereka berjalan mencari Wei tua ataupun Wei muda.

Sampai di gang kedua, mereka melihat Wei tua sedang berdiri di depan sebuah penginapan. Terlihat juga 5 ekor kuda mereka tertambat di samping rumah tersebut.

"Ada apa ?" Tanya Nona besar.

Wei tua memberi isyarat diam dan membawa mereka ke dalam penginapan.
Berjalan beberapa langkah kemudian, dia membuka pintu. Ketiganya terkejut, sebab Wei muda terlihat berbaring tidak sadarkan diri di ranjang dengan beberapa bekas sayatan yang berdarah. Meski sudah dibalut , kain masih terlihat basah oleh merah darah.

"Kasim Chen sampai..." tutur Wei tua.
Nona besar dan nona kecil terkejut.
"Mengapa bisa?"

Wei tua menjelaskan.
"Setelah kalian naik gunung, kami menunggu di bawah beserta pesilat-pesilat. Tidak ada gerakan lagi untuk saling menyerang setelahnya. Tetapi dari dalam pagoda, keluar 1 orang. Dialah Kasim Chen. Dia melakukan pembantaian besar-besaran pesilat disana. Kami berdua meski adik menderita luka, beruntung sanggup melarikan diri. Sekitar 50an orang tewas di tangannya."
Nona besar dan kecil terkejut.
"Dengan ilmu silat dia begitu tinggi, tidak mungkin dia tidak mengetahui kita naik gunung." Tutur nona besar.

"Ada sebabnya..." kata Wei tua.

"Kasim Chen terluka parah, dalam 4 minggu ini dia beristirahat total di dalam pagoda. Semalam, Kasim Chen sedang dalam keadaan puncak penyembuhan diri. Oleh karena itu konsentrasinya termakan untuk penyembuhan, oleh sebab itu kalian bertiga beruntung. Begitu kasim Chen keluar, dia terlihat sangat marah karena pesilat pesilat itu berteriak sepanjang malam. Kelima orang itu adalah muridnya, karena mereka menyambut dan memberi selamat atas keberhasilan menyembuhkan diri di dalam pagoda maka kami tahu bahwa dia terluka dalam.
Bagaimana keadaan kalian? Apakah berhasil?"Tanya Wei tua.

Nona besar menceritakan sebagian besar kejadian semalam dari penerobosan hingga sampai ke atas puncak gunung. Sampai mereka menemukan semua keajaiban di dalam gua. Wei tua tertawa mendengar penuturan nona besar. Yunfei memberikan sepasang pedang yang di dapatnya dalam ruangan senjata di dalam gua. Wei tua berterima kasih atas hadiah oleh-oleh dari Yunfei.

Wei tua kemudian memberi selamat ke nona muda atas penemuan Ilmu langkahnya dan energi Feng negative miliknya sudah terkikis habis.

"Adik Wei hanya terluka luar, mengenai luka dalam masih tidak begitu masalah. Tadi pagi, ada utusan dari pusat, menghendaki kita untuk kembali dalam 60 hari." Tutur Wei tua kembali.

"Ehh?" teriak nona besar dan kecil bersamaan.

"Tidak ada masalah. Hanya saja pengumpulan orang-orang sepertinya berjalan sangat bagus. Untuk selanjutnya kita bergerak ke utara, secepat mungkin. Hari ini sepenuhnya istirahat saja untuk memulihkan diri kita masing-masing."

Ketiganya mengiyakan, karena sejak semalaman suntuk mereka menembus gunung. Selain perut yang lapar, mereka juga sedikit banyak telah kelelahan.

Semalaman kali ini baik-baik saja dan tiada sesuatu yang terjadi. Keesokan harinya Wei tua berkata,
"Mari kita cari kereta kuda untuk mengangkut adikku."
Kemudian Tidak lama, mereka berhasil juga mendapati kereta kuda. Kuda Wei muda menarik gerobak tersebut bersama seorang kusir. Wei muda sudah siuman, untung semua lukanya hanya luka luar saja. Wei tua meminta Yunfei menjaga adiknya. Sedangkan kedua nona berkuda di depan bersama Wei tua. Untuk penyembuhan luka luar memang sebaiknya tidak banyak menggerakkan tubuh. Oleh karena itu, Wei tua tidak menghendaki adiknya berkuda terlebih dahulu.

"Kita hendak kemana?" Tanya Yunfei kepada Wei muda.

"Tujuan kita ke kota Taiyuan. Sepertinya nanti setelah kedua nona ini dipertemukan dengan ayahnya. Kita akan kembali ke Jiexian." Jawab Wei muda.

"Eh... Kenapa kalian berdua tidak bergabung dengan pasukan Li Yuan?" Tanya Yunfei.

"Sebenarnya meski kami memiliki guru yang sama namun diriku dan kakak berada di pasukan Li Mi.."

"Li Mi? Apa hubungan dia dengan Li Yuan?" terheran Yunfei bertanya.

"Ketika kecil, kami berdua telah kehilangan ayah dan ibu. Ayah dari Li Mi, Li Wen yang menjaga kita berdua. Li Mi, seorang pendekar hebat yang berasal dari kaum birokrat. Mengumpulkan para petani dan rakyat susah berjuang 2 tahun belakangan untuk menggulingkan Dinasti Sui. Sering terjadi beberapa kali, kami melarikan diri karena desakan dari pasukan kerajaan. Tetapi kami, tidak pernah menyerah." Wei muda menjelaskan.

"Diriku mungkin terlalu lama berada di gunung. Sampai-sampai melupakan hal-hal di dunia. 3 tahun lalu, aku mempelajari Ilmu kungfu, literature di atas gunung. Mengira Dinasti Sui aman-aman saja selama ini. Ternyata sekarang banyak pasukan pemberontakan dimana-mana..." tutur Yunfei.

"Kaisar Yang Guang sangat kejam. Di usia ketika dirinya masih muda saja dan hanya seorang pangeran, dia sudah membantai banyak orang yang tidak bersalah." Tutur Wei muda.

"Oya, kak Wei.. Bisa memberitahukan nama kalian berdua supaya Yunfei mengingat kebaikan kakak berdua di dalam hati. Ada kesempatan, Yunfei bisa membalas kebaikan atas kejadian dalam sebulan belakangan ini."

Wei muda tertawa.
Dia mengatakan,"Kakakku namanya Wei Zheng, sedang diriku Wei Shu."
"Terima kasih kakak berdua, kak Wei Zheng dan Wei Shu.." tutur Yunfei sambil tersenyum.

"Mengenai kedua nona, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Yunfei kembali ke Wei muda.

Wei muda tersenyum.
"Kita punya waktu yang panjang. Baiklah... Biar kuceritakan pelan-pelan."

Li Yuan memiliki banyak anak lelaki dan perempuan. Status dia adalah sebagai keluarga kerajaan selain jenderal berbakat yang bekerja di bawah pemerintahan dinasti Sui. Ibunya Li Yuan adalah adik dari Permaisuri Kaisar Wen, ayah Yang Guang kaisar Sui sekarang.

Kaisar Wen dari Sui adalah orang yang bijak sedangkan anaknya, Yang Guang adalah kaisar yang tirani, biadab. Karena hendak menghindari anak-anak perempuannya yang telah beranjak dewasa diambil istri oleh Yang Guang, Li Yuan sengaja meminta kedua nona ini untuk belajar pengetahuan dan lain-lain , dan tidak memperbolehkan mereka menetap di Taiyuan. Yang Guang sejak umur muda dan masih seorang putera mahkota sudah hobby bermain wanita dari mana-mana, sifatnya sangat bejat.

Terakhir, bahkan ayahandanya kaisar Wen dibunuh oleh puteranya, disebabkan karena Yang Guang tertarik kepada salah satu selir dari ayahnya. Kejadian pemerkosaan terhadap selir ketahuan oleh sang Kaisar. Sebelum dihukum oleh Kaisar Wen, Yang Guang bertindak duluan, dia meminta bawahannya untuk membunuh Kaisar Wen.

Sampai disini bercerita, Yunfei terkejut.

"Membunuh kaisar tidaklah mudah.. Siapa yang sanggup melakukannya dan begitu kuat?"

Wei muda melanjutkan cerita :

Yang Guang memiliki seorang kepala Kasim. Aslinya ini orang sama sekali bukan kasim. Dia mengepalai 15 kasim utama di kerajaan. Orang inilah yang melakukan pembunuhan terhadap Kaisar Wen.  Di suatu malam hari sekitar 10 tahun lalu, Yang Guang memerintahkan orang ini untuk membunuh Kaisar Wen. Semua penjaga dan pengawal yang berjumlah 432 orang, malam itu dibunuh oleh orang ini, dan sendiri. Ada yang menyatakan bahwa yang membunuh dan beraksi pada malam itu adalah Jenderal penjaga, Zhang Heng. Tetapi Zhang Heng bukanlah orang yang memiliki kemampuan demikian. Sejak 10 tahun ini, Kaisar Yang Guang melakukan banyak tindakan biadab. Orang yang tidak mematuhi perintahnya, langsung dibunuh dan mayatnya dilempar di jalanan tanpa dikubur, seluruh keluarganya juga dihukum mati. Dia memerintahkan jutaan orang menyambung tembok besar untuk mencegah masuknya pasukan Xianbei di utara serta tujue timur di sebelah barat laut. Apa yang dilakukan ini orang persis dengan kekejaman Dinasti Qin terdahulu. Rakyat dikasih kerja paksa, yang muda yang tua semuanya dipaksa. Jika menghindar atau menentang maka sudah dipastikan mati sekeluarga dibunuh. Sedangkan dia sangat terkenal dengan haus seksual di istana, bersenang senang tiap hari. Semua wanita cantik di dinasti ini mungkin sudah berjumlah puluhan ribu wanita dari desa, kota semuanya dipaksa masuk ke istana. Dia mengandalkan 15 kasim itu untuk mencari wanita-wanita cantik. Dari sini, korupsi terjadi besar-besaran selain perlawanan, orang-orang yang sanggup membayar untuk anak gadisnya tidak diserahkan ke istana, membayar sampai ribuan tael kepada mereka. Selain itu, sifat iri dan kebodohan dari diri Yang Guang yang membuat dinasti ini susah bertahan makanya pemberontakan terjadi dimana-mana. Beberapa kali dia memerintahkan berperang dengan Tujue timur di daerah barat laut, hanya karena mereka tidak menyerahkan upeti puteri kaisar Turks Timur. Ini adalah perbuatan yang sangat bodoh. Justru karena masalah ini, kekuatan dinasti melemah. Saat inilah saat cocok bagi kaum yang berusaha untuk memakmurkan rakyat kembali.

*Wilauah kekuasaan Tujue timur di zaman sekarang adalah Kazahkstan, Russia, dan Mongolia*

Yunfei percaya dengan penjelasan Wei Shu yang panjang lebar ini sehingga dia menggertakkan gigi geram membayangkan kekejaman Yang Guang.

"Mengenai nona besar dan nona kecil sebenarnya mereka adik seperguruan kami. Baik diriku dan kakak belajar lebih cepat 2 tahun dari mereka. Mereka juga sudah 2 tahun berada di atas gunung." Wei Shu menjelaskan tanpa menyebut dimana gunung tempat mereka berlatih.

"Nona besar adalah wanita yang cantik dan sekarang sudah dewasa. Sejak awal di umur dirinya yang telah mencapai umur ke 13, dia hendak dijemput ke istana. Mengenai nona kecil, adalah kesayangan guru, bahkan dirinya duluan mengikuti kami di gunung. Nona kecil juga terancam akan dipanggil ke istana, mengingat meski dia masih berumur 8 tahun, tetapi Yang Guang memang tidak menargetkan berapa umur gadis harus dipanggil ke istana. Asalkan dia di Istana selama 5 tahun, maka selanjutnya akan dikenalkan ke Yang Guang." Tutur Wei Shu.

Yunfei membayangkan kebiadaban Kaisar Sui sekarang, lantas dia berkata.
"Sejak zaman dahulu, jika rakyat marah mana ada dinasti yang sanggup bertahan?"

Wei Shu membenarkan perkataan Yunfei.
Yunfei kemudian bertanya ke Wei Shu,
"Sebenarnya nona kecil kenapa memiliki energi Feng negative? Apa yang terjadi padanya?"

"Nona kecil sejak usia 6 tahun, sudah berada di pegunungan. Suatu saat, tepat 24 bulan (waktu asli, sedangkan waktu di pegunungan sudah sekitar 20 tahun) sejak dia berada di gunung. Suatu malam, keadaan sedang sunyi senyap. Tetapi tiba-tiba seekor burung phoenix dewa dari langit turun ke gunung. Kami berempat segera melihat bahwa sang burung phoenix sedang menyemburkan api ke gunung. Melihat hal demikian, kami semua terkejut. Beberapa kuil di gunung bahkan sudah jadi korban api dari burung tersebut.
Karena jarak ke depan cukup jauh, kami bertiga tidak sanggup menghentikan phoenix tersebut. Tetapi nona kecil yang memang memiliki bakat ilmu ringan tubuh yang sangat baik. Segera mencabut 2 bilah belati, dan dengan ancang-ancang berlari kencang, dia segera melompat ke badan burung phoenix tersebut. Kemudian Ia menusuk dengan kedua belati di punggungnya. Sesaat kemudian burung itu, menukik turun. Kami berempat segera mengejar ke bawah gunung karena nona kecil juga ikut terseret turun. Begitu sampai di bawah, nona kecil telah tidak sadarkan diri sedangkan burung itu telah tewas. Hal yang aneh adalah tubuh nona kecil mengeluarkan api merah samar-samar. Kami menanyai guru, guru orang tua mengatakan bahwa adik kami yang paling kecil ini terkena racun burung phoenix."

"Lantas bagaimana efek racun tersebut?" Tanya Yunfei.

"Efeknya tiada lain adalah nona kecil selamanya tidak akan tumbuh dewasa, sedangkan racun di tubuhnya mengakibatkan dia memiliki emosi yang meledak-ledak. Dari kedua efek racun, yang paling bahaya adalah jika tidak di sembuhkan, maka nona kecil akan tewas dalam waktu 3 bulan. Burung phoenix ini adalah burung dewa surgawi. Bahkan akibat dari ini sangat fatal, nona kecil bisa saja tidak bisa dilahirkan kembali dan terkurung di akhirat bersama api phoenix beribu tahun. Guru segera meminta kami memapakmu di desa Wang, untuk sama-sama mencari penawar racun di gunung Sanqing. Semalam kalian sudah berhasil menawarkan racun nona kecil. Ini merupakan keberuntungan baginya dan bagi kami juga" Jelas Wei Shu sambil tersenyum.

"Apakah nona kecil memang bukan asli orang daratan tengah, atau jangan-jangan dia bukan puterinya Li Yuan?" Tanya Yunfei kembali.

"Nona kecil adalah puteri asli dari Li Yuan. Li Yuan memiliki seorang istri, seorang wanita Tujue timur. Wanita ini adalah istri kedua dari Li Yuan. Istri pertama Li Yuan adalah berasal dari daratan tengah, dia melahirkan 4 lelaki dan 1 perempuan. Sedangkan istri kedua Li Yuan melahirkan 1 orang anak perempuan. Maka daripada itu, Nona kecil memiliki wajah dan pembawaan yang agak berbeda dengan orang daratan tengah. Baik kedua nyonya itu sudah meninggal. Terutama nona kecil, kehidupannya tidak gampang sejak awal dirinya yang masih muda."

Yunfei manggut-manggut mendengar penjelasan Wei Shu.

Semua percakapan mereka berdua dilakukan dengan suara yang pelan dan halus. Bahkan kusir kereta di depan saja tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Yunfei atau Wei Shu terlebih lagi Wei Zheng dan kedua nona yang berada di depan dan berkuda kencang.

Perjalanan terasa sangat baik. Di jalan maupun Kota dan desa lainnya tidak ada halangan sama sekali. Sudah 40 hari sejak perjalanan di lakukan mereka dari Yinjiang. Luka Wei muda sudah membaik dan di hari ke 15, mereka sudah tidak memakai gerobak. Hanya berbekal 5 ekor kuda mereka memacu kuda ke arah utara. Sepanjang perjalanan mereka juga sempat mengganti kuda yang kelelahan. Semua pengaturan dari Wei Zheng memang tergolong sangat baik dan mulus.

Di hari ke 41, mereka telah sampai di Chenliu. Sebuah kota kuno di propinsi Henan (sekarang). Kota Chenliu adalah kota kuno yang peradaban disini sudah maju sejak zaman dinasti Han. Disini adalah penghubung sebelah timur dan barat (kedua ibukota: Luoyang dan Chang An). Kota dalam keadaan ramai, saat ini keadaan kota sudah sore dan banyak gerobak-gerobak orang berjualan makanan sampai ke cinderamata.

Nona besar dan Nona kecil terlihat turun dari kuda, sedikit lelah. Nona besar mengajukan diri untuk membeli beberapa makanan dan memesan penginapan disini. Semuanya mengiyakan.

Wei Zheng berkata,
"Saudara Yunfei, Disini sudah termasuk daerah kami. Sebentar lagi mungkin akan ada info dimana kedua saudara seperguruanmu. Aku akan meminta biro Biao Kun untuk mencari keberadaan mereka."

"Terima kasih..." tutur Yunfei memberi hormat sambil tersenyum.
Yunfei berpikir perjalanan kali ini sangat baik, dia mendapat banyak pengalaman yang bagus serta mendapat ilmu silat yang "sakti". Sekali turun gunung baru  2 bulan lebih sudah mendapatkan banyak pengalaman. Sesaat dia berpikir apakah kedua adiknya juga mengalami pengalaman yang menarik. Dia hendak bertemu dengan mereka dan menceritakan semua kejadian dalam 2 bulan terakhir ini.
Oleh karena itu dia terlihat asyik tersenyum senyum saja.
"Ada apa tuan muda tersenyum sendiri?" Tanya nona kecil dengan nada mengejek.

"Tidak mengapa" tutur Yunfei sambil salah tingkah karena nona kecil memperhatikan dirinya sedari awal tadi.
"Jika suka kepada kakakku, bilang saja. Bisa juga saya menjadi makcomblang dengan bilang ke ayah." Ledek Nona kecil kembali.

"Bukan... Bukan..." tutur Yunfei sambil menggeleng kepala.
"Aku berpikir bagaimana kabarnya kedua adik seperguruanku. Bisa berjumpa kembali dengan mereka, membuatku cukup senang." Sambung si pemuda.

Nona kecil tersenyum kecil melihat tingkah Yunfei yang serba salah. Tetapi dia menyambung.
"Sesungguhnya kakakku itu.... Sudah dijodohkan oleh ayah. Jika kamu suka, kamu bisa mengajukan diri. Ayahku hanya khawatir dia dipaksa masuk istana. Sepertinya engkau pasti cocok dengan ayah dan kakak-kakakku."

Yunfei terkejut mendengar perkataan nona kecil. Lantas dia bertanya.0
"Dijodohkan ke siapa?"

"Seseorang yang kamu kenal juga.."

Yunfei memasang wajah menyelidik.

"Maksudmu kakak seperguruanku, Chai Shao?"

Nona kecil tertawa terkikik.
"Meski dijodohkan, tetapi kakakku juga belum pernah bertemu kakakmu. Bisa jadi perjodohan jenis demikian bisa batal."

Yunfei melihat dalam ke wajah nona kecil.

"Lihat raut wajahmu...
Mungkin kamu sudah mencintai kakakku.. Tetapi jika kamu bertemu ayah, mungkin saja ayah menyetujui kalian.. Meski yah tidak sekarang..." jawab nona kecil.

Yunfei terdiam. Dia hendak mengatakan sesuatu. Tetapi setelah dipikir, dia tidak berani menyatakan di depan nona kecil. Yunfei mungkin punya hati tersendiri terhadap nona besar keluarga Li. Tetapi bisa jadi itu juga bukanlah perasaan cinta, bisa jadi itu juga adalah cinta. Sejauh ini Yunfei sangat kagum akan pembawaan diri dan kebebasan berpikir nona besar.
Hanya saja jika nona besar sudah dijodohkan, apalagi dengan kakak seperguruannya, tidak mungkin dia akan membantah perjodohan demikian. Bisa jadi kakak seperguruannya belum tentu setuju. Lantas Yunfei berkata.

"Nona, pandanganmu terlalu jauh. Jika sudah dijodohkan apalagi dengan kakak seperguruanku, tidak nantinya aku membantah perjodohan demikian.."

Nona kecil melihat Yunfei, merasa aneh.
"Jikalau berani harus maju, jangan mundur. Kadang kala wanita belum tentu tidak menyukaimu.." sambil tangannya memukul pelan ke dada pemuda.

Sesaat kemudian nona besar sudah kembali. Oleh karena itu, baik nona kecil maupun Yunfei tidak berani lagi mendiskusikan hal tersebut. Wei tua yang sedari tadi mendengar percakapan mereka hanya tertawa kecil kemudian mengajak mereka semua untuk ke penginapan dan mereka berlima setelah makan sekedarnya, beristirahat setelah sampai ke kamar masing-masing.

Hingga pagi subuh, Wei Zheng mendengar pintu kamarnya diketuk orang. Dia bangun bersama Wei Shu. Orang yang di depan pintu dikenalinya setelah pintu tersebut dibuka.

"Ada apa pagi buta saudara Jiang mencari kami?"

"Li Yuan beserta anak-anaknya membawa 3.000 pasukan di utara. Hendaknya saudara Wei mengabari kedua nona untuk bergabung bersama."

"Bagus sekali.." tutur Wei Zheng sambil tersenyum.

Sepanjang jalan, beberapa kali memang Wei Zheng mengabari Li Yuan tentang kabar kedua anak gadisnya untuk menyampaikan apa-apa yang terjadi.

Pagi harinya,
Wei Zheng dan Wei Shu menyatakan kepada nona besar dan nona kecil bahwa ada informasi ayah mereka berdua dan saudara-saudara mereka hendak menjemput mereka berdua. Tentu kedua nona ini sangat senang mendengar berita ini. Tetapi Yunfei merasa agak sedih hati, dia belum menemukan kedua saudara seperguruannya. Jika mereka tidak mengabdi kepada Li Yuan, tentu dia harus berpisah dengan kedua nona besar dan nona kecil. Mengenai Wei Zheng dan Wei Shu, dia tentu tahu suatu saat mereka akan berjalan di jalan masing-masing.

Yunfei hanya terdiam, tidak begitu banyak bersuara. Perasaan berpisah tentu tidak ada enaknya. Jika hati sudah tertambat, bagaimanapun berpisah pasti berat meski bukan karena cinta. Atas nama pertemanan dan persahabatan juga kadang manusia bisa begitu.

Mereka memacu kuda ke arah utara, tujuannya adalah Liudian, sebuah tanah luas yang berbatasan dengan sungai Huiji. Dalam 2 jam kemudian, mereka telah sampai di daerah tersebut.

Yunfei melihat dari kejauhan banyak bendera yang bertuliskan "LI" . Tentu ini adalah bendera marga "LI", Li Yuan. Sedangkan kedua nona sangat senang, mereka memacu kuda cepat ke perkemahan ayah mereka.

Sejak dari pagi, sang ayah dan kakak mereka telah siap menyambut anak dan kedua adik kakak perempuan mereka. Dari kejauhan, kedua nona sudah melihat ayah dan kakak-kakaknya di atas kuda di depan perkemahan. Kedua nona lantas memacu ke depan. Begitu sampai,keduanya turun dari kuda, dan mengucapkan salam ke ayahanda mereka.

Yunfei mengikuti dari belakang bersama dengan Wei Zheng dan Wei Shu. Setelah sampai di depan perkemahan, mereka melihat di depan ada seorang lelaki berumur sekitar 50 tahun. Wajahnya gagah dan tampan. Dia memakai baju berwarna biru, di pinggangnya terselip pedang panjang. Di sampingnya terdapat 3 orang pemuda. Dari gaya mereka, sepertinya memang mereka adalah putra putra Li Yuan.

Di samping kanannya Li Yuan, terlihat orang muda berumur sekitar 20 tahun, dengan wajah yang tajam dan sepasang mata yang tajam. Dia memakai baju ungu putih. Melihat kedua nona bersujud kepada sang ayah di tengah, Yunfei sudah tahu bahwa orang ini adalah Li Yuan, jenderal besar dinasti Sui. Lantas keduanya memberi hormat ke lelaki berpakaian ungu putih tersebut sambil menyebut:
"Kakak pertama."

Di samping kakak pertama mereka, ada seorang pemuda yang berumur sekitar belasan tahun. Berpakaian putih kuning, wajah sang pemuda terlihat mirip ayahnya yang ganteng. Mereka memberi salam:
"Kakak Keempat. Adik keempat" Nona besar memanggilnya adik keempat sedangkan nona kecil memanggilnya kakak keempat. Di samping sebelah kiri Li Yuan berdiri pemuda berumur sekitar 20 tahun. Pemuda ini memiliki wajah terang dengan alis tebal dan pembawaannya agung dan tenang, dia berpakaian warna hijau muda.

Kedua nona menyapanya:
"Kakak kedua..."

Mereka semuanya senang dan berkumpul, semuanya tertawa bergembira dan meminta baik Wei Zheng, Wei Shu dan Yunfei untuk masuk ke dalam kemah bersama mereka.

Bersambung....

0 komentar:

Posting Komentar