Bab II - Usia Yang Tidak Termakan Waktu
Suara tertawa bergema di lembah sambil terdengar lantunan:
"Diri ini sudah berumur
Dari muda mengangkat pedang
Sampai tua kini,
Berharap mendengar kembali semua mimpi
Lelaki sejati meneguk arak, mendengar angin
Tiada sesuatu yang pantas dikhawatirkan..."
Suara orang terdengar masih jauh, tetapi hanya sekejap orang ini sudah berdiri di depan pintu. Mayat-mayat sekitaran rumah bambu tidak dilihatnya sama sekali. Lantas masuk ke dalam rumah bambu, sambil berkata:
"Kakak kedua... Maafkan adikmu telat beberapa belas tahun datang kemari."
Orang yang datang ini memakai baju berompi berwarna merah. Tingginya sekitar 9 kaki, wajahnya merah bulat, berewokan berwarna merah kehitaman. Dari penampakannya, terlihat dirinya masih sangat bersemangat dan siapapun yang melihatnya pasti tahu bahwa pemuda tinggi besar di depan ini bukanlah lelaki sembarangan.
"Adik keempat, lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu belakangan?" Tanya Xue Yunfei sambil tertawa. Nona di samping juga menyambut dengan sopan.
"Baik kakak kedua.. Eh..
Putri Changsha, bagaimana kabar hidup tenang di sini selama belasan tahun?"
Nona tertawa mendengar penuturan dari si tinggi besar lantas berkata:
"Jenderal besar, 15 tahun lalu sudah kuputuskan meletakkan status putri. Kamu bisa memanggilku Kakak ipar kedua saja."
Xue Yunfei mempersilahkan adik keempatnya berjalan melewati rumah bambu,
"Rumah ini tidak layak ditinggali lagi, sepertinya memang aku juga didesak keluar dari dunia yang tenang ini. Mari saudaraku, kutunjukkan rumahku di atas bukit sana. Ikutlah aku."
Sekali siap berkata, Xue Yunfei langsung lompat pelan, kakinya santai mendaki bukit terjal di belakang rumah.
Di belakang, si nona mengikuti bersama dengan pemuda besar ini. Hanya ratusan langkah, mereka telah berada di atas bukit. Dari gerakan ketiga orang, sepertinya langkah si nona lebih gesit. Dia bergerak kalah cepat di awal sebanyak 2 langkah dari sang suami, tetapi justru dirinya duluan sampai di puncak bukit lebih cepat sekitar 3 langkah.
"Kakak ipar kedua, dari dulu diriku mengagumi langkah kakimu yang tanpa tanding. Ilmu meringakan tubuhmu tidak berkurang sedikitpun, malah makin lama makin baik sampai-sampai kemampuan kakak keduaku sudah dipelajari olehmu." Tutur si tinggi besar sambil tertawa.
Xue Yunfei dan istri tertawa mendengar pernyataan orang tinggi besar ini.
Si tinggi besar melihat sekeliling puncak bukit tersebut. Puncak bukit ini tidaklah sempit, bahkan bisa dibilang cukup luas. Di ujung daerah bukit, terdapat sebuah rumah bambu, lebih luas dari rumah yang di bawah. Sepertinya rumah di bawah hanya untuk menyambut tamu saat sesekali diperlukan. Padahal selama belasan tahun ini, tamu-tamu yang datang adalah yang pertama dari partai Hei Sha. Terdapat kebun bunga berwarna warni sebelum sampai di rumah bagian ujung. Di samping rumah terdapat kolam kecil yang mungkin adalah kolam ikan dengan susunan batu-batu dan pohon bambu setinggi sekira 15 kaki mengelilinginya, wilayah ini terlihat sangatlah asri dan damai.
Kemudian karena tertarik melihat pemandangan sekitaran, Diliriknya sambil tersenyum takjub melihat sekitaran daerah puncak bukit ini.
Sebuah daerah yang boleh dikatakan tanpa tanding untuk keindahannya, dirinya tanpa sengaja menganga melihat keadaan puncak bukit. Sepanjang dirinya berperang ke utara , selatan, timur dan barat, Jenderal besar ini sering melihat pemandangan indah di daerah-daerah lain, tetapi jarang dia melihat kedamaian yang begitu luar biasanya. Seakan-akan dirinya sedang berada di kahyangan, berada di sebuah tempat yang memang tidak pernah dia pergi selain di imajinasi liarnya sendiri.
Angin dengan halus berhembus, biasan matahari pagi yang lembut membuat hatinya terus bersenandung seakan ada permainan lagu yang tidak terputus. Wangi alam yang terbit dari dedaunan berhembus, sesaat dia merasa hatinya lega. Diambilnya sebotol guci arak dari pinggangnya, lantas dia meminum beberapa tegukan.
Kemudian dipandanginya sebelah selatan terlihat batu karang yang bertembok dinding alam yang tinggi berbentuk melengkung dengan air terjun sebanyak lima mata air. Di sebelah barat terlihat sebuah danau kecil yang merupakan sumber airnya dari air terjun di samping kanan. Bahkan dari kejauhan dirinya melihat adanya perahu kecil di tengah danau, matanya memandang jauh sepertinya ada 2 orang nelayan sedang mengayuh perahu itu.
Diliriknya daerah di sebelah timur terdapat tangga kecil yang curam dengan sekelilingnya hanya pohon bambu yang menjulang tinggi, tetapi terlihat beberapa rumah bambu lainnya, turunan ke bawah ini membentuk jalan menuju ke setapak yang dilewati tadi. Sedangkan sebelah utara adalah jurang yang dalam yang terlihat seperti dilintasi awan yang tebal sebab matahari memang baru saja terbit. Sisa kabut semalam di musim hangat ini terlihat jelas hendak memudar. Riakan awan yang mengelilinginya membuat suasana terasa sangat damai.
Xue Yunfei tersenyum melihat reaksi adik keempatnya lantas berkata:
"Akhirnya kamu juga sudah pensiun, peperangan dan semuanya sudah berakhir. Biarkanlah mereka yang muda ini untuk melanjutkan usaha membangun negeri. Kamu sebaiknya mintalah istri anakmu untuk menyepi mengikutiku."
Terlihat si besar menghela nafas, Dia berkata:
"Jika diriku tahu bahwa kakak kedua hidup dengan sangat menyenangkan tentunya dari dulu ku sekeluarga udah menyepi saja. Hahaha" ujarnya sambil tertawa lepas.
"Jingde, benarkah kejadian di dunia persilatan beberapa waktu ini sangat kacau?" Tanya Xue Yunfei.
Si besar memang benar bernama Jingde. Namanya telah menggetarkan semua dunia, Dialah Yuchi Gong alias Yuchi Jingde, Jenderal ternama dari dinasti Tang yang termasyhur. Diumur 60an ini, dirinya meski masih kuat dan masih sanggup turun ke medan perang, namun sudah selayaknya dia tinggalkan semuanya. Sisa tenaganya hanya untuk menikmati masa damai. Guratan wajah dan matanya terlihat bahwa dirinya sudah mengalami ratusan peperangan serta pertarungan.
Sebab, Negara sekarang sudah jauh lebih damai daripada sebelumnya waktu peperangan perebutan kekuasaan dari Dinasti Sui ke Dinasti Tang.
"11 Bulan lalu, Istana kecolongan dan disantroni oleh beberapa orang jago persilatan. Tujuan mereka adalah daftar list-list yang sudah kakak kedua ketahui tadi. Dengan bocornya identitas dari pesilat dan ilmu serta senjata-senjata itu. Maka dunia persilatan seketika bergolak. Pedang Kebajikan adalah target utama pesilat-pesilat sekarang. Sedangkan dari Ilmu silat juga telah dibocorkan secara rahasia di antara partai-partai. Kakak kedua, gimanapun kamu sekarang sudah jadi target pembunuhan sebab di antara list-list itu:
Xue Yunfei pendekar terkuat no. 1, dan Ilmu pedang menyambut surgawi terdapat di ranking no. 1."
Xue Yunfei tersenyum mendengar perkataan adik keempatnya, lantas dia menyahut:
"Lima belas tahun lalu, diriku sudah menyepi. Menyebarkan kabar bahwa aku dan Iblis pedang sama-sama terbunuh di Wulingyuan. Tidak disangka hari ini masih bisa dicari oleh kawan-kawan dunia persilatan. Diriku mengetahui tadi dari pengawas Yang yang menyatakan bahwa aku di list no. 1. Jadi sepertinya, dunia persilatan sudah banyak yang tahu list tersebut."
Merebut dunia persilatan, terbaik, terkuat, sebenarnya apakah memang sangat berguna? Berada di list no.1, terakhir hanya menghambat semua keinginan pendekar sejati disebabkan pasti nanti akan banyak pihak yang hendak merebut Dunia No. 1. Seketika mereka sama-sama senyap membayangkan kejadian yang akan datang.
Xue Yunfei mengajak jalan adik keempatnya untuk menuju ke dalam rumah bambu miliknya. Sambil melihat ke awan yang bergumpal beriak-riak, ingatan Xue Yunfei kembali ke masa lalu...
Tahun 615 masehi
Di puncak pegunungan Tianmen di Zhangjiajie (Sekarang)
Terlihat seorang tua berpakaian total putih dengan rambut putih dan wajah yang ditumbuhi kumis, dan jenggot serba putih. Sedangkan di depannya, terdapat 3 orang pemuda remaja yang berumur sekitaran belasan tahun.
"Kalian bertiga sudah berada di sini puluhan tahun. Sebagai murid-muridku kalian sudah termasuk sangat baik. Semua ilmu sastra, silat milikku sudah kalian kuasai dengan baik, tinggal sisanya adalah tergantung pelatihan kalian di waktu selanjutnya. Meski ada beberapa yang kurang, namun melalui pelatihan kembali dengan rajin dan disiplin, suatu saat mungkin kalian bisa mencapai taraf yang sulit diukur."
Ketiga orang dalam posisi bersujud, menyembah sang guru.
"Yunfei, kamu adalah murid keduaku. Jadi untuk turun gunung nantinya, diharapkan kamu memimpin kedua adikmu ini. Dinasti Sui jika bisa didukung, maka dukunglah. Tetapi jika tidak, hendaknya kalian dengan bijak memilih tuan untuk membantunya menentramkan dunia. Sekalian carilah dan bergabung dengan kakak pertama kalian. Kalian berempat nantinya harus akur sampai sepanjang masa."
"Baik guru.." Sahut Yunfei bertiga dengan hormat.
"Kalian disini, harusnya sudah tahu dengan baik. Bahwa melewati gerbang Langit, kalian kembali ke dunia. Waktu telah berjalan semestinya. Gerbang langit ini memiliki waktu yang hampir tiada berjalan seperti di dunia manusia. Disini kalian berlatih selama 30tahun, tetapi di dunia aslinya hanya berkisar sekitar 3 tahun saja. Inilah rahasia gerbang langit Tian men. Jadi setelah ini, diri yang tua ini tidak berharap kalian kembali lagi. Jalanilah takdir kalian masing-masing." Sahut sang guru.
Kemudian sang guru memberikan 3 kantong masing-masing kepada ketiga pemuda ini.
"Yunfei..
Asal usul dirimu di kantong berwarna merah ini. Peganglah dan ketika sudah sampai di daerah timur, sebuah desa keluarga Wang. Bukalah dan bacalah.
Kamu harus ingat dan sanggup melakukan yang tertulis di kantong ini. Ingat dengan baik-baik karena masa nya sudah dekat. Jika memang tidak sanggup, jangan terlalu dipaksakan, biarkanlah seperti air mengalir saja..."
Yunfei menerima kantong berwarna merah itu dari tangan sang guru. Lantas sang guru memberikan sebuah kantong yang lain ke pemuda disebelah Yunfei:
"Shubao... Mengenai kantong kedua berwarna kuning, Bukalah ketika kritis, ketika majikanmu nantinya mengalami masalah. Kamu bisa membantunya menyelesaikan hutang budi masa lalu. Dengan begitu, boleh dikatakan semua hutang budi masa lampau sudah terpenuhi dan terbalaskan."
"Baik" sahut seorang pemuda remaja yang bersujud. Pemuda ini berumur sekitaran 10 tahun jika dilihat dari wajahnya. Berwajah rada persegi, mempunyai raut muka yang kaku dan keras. Qin Qiong nantinya adalah jenderal termasyhur selain Yuchi Gong dari dinasti Tang.
"Jingde...
Kamu juga memiliki 1 kantong berwarna hijau. 1 kantong ini dibuka ketika kamu melihat sebuah kata yaitu XUAN. Di dalamnya sudah ada petunjuk untuk melakukan sesuatu. Patuhilah dan jalankan sesuai aturan.
Tetapi kalian bertiga wajib ingat dengan baik baik. Sebelum sampai saatnya,dilarang buka kantong-kantong yang kalian miliki tersebut. Karena bisa membuat langit dan bumi marah. Harap kalian perhatikan baik-baik pesan guru kalian ini."
Ketiganya merasa agak aneh karena jarang-jarang guru mereka ini bersikap sangat serius, namun ketiganya hanya bisa bersujud mengiyakan.
"1 hal lagi, mengenai ilmu silatku. Kalian masing-masing telah menguasai nya dengan baik. Mengenai tenaga dalam, tidak bisa dipaksakan dalam pelatihannya. Ada kala masa sulit malah membuat neigong kalian memuncak dan bisa saja tiba-tiba berhasil. Sedangkan ilmu pergerakan tinju yang kumiliki terdapat total 365 perubahan yang terus-terusan berubah tanpa pangkal ujung atau tidak ada istilah kembali ke awal. Namun di antara 365 perubahan, Yunfei menguasai paling banyak yaitu 350 gerakan perubahan, Qin qiong 275 sedangkan Jingde 272. Seperti sudah kusebutkan, ilmu ini dipelajari tidak bisa didiskusikan. Karena awal perubahan sampai ke akhir setiap orang tidak akan sama, semakin didiskusikan seperti Tao, semakin kacau dan tak beraturan yang justru berakibat tidak baik. Yunfei mungkin hari ini menguasai 350 perubahan, tetapi jika bermalas-malasan mungkin lewat setahun dua tahun, kemampuan kedua adikmu bisa di atasmu.
Dan guru mereka kemudian memberitahu bahwa dunia persilatan penuh tipu daya, hendaklah diingat, tidak semua hal kelihatan sebagaimana adanya.
"Kalian sedari kecil sudah berada disini, dunia persilatan dan politik di kerajaan sangatlah kejam dan tidak ada rasa manusiawi. Semoga kalian benar-benar bisa memperhatikan ini." Guru mereka mewanti-wanti mereka dengan wajah yang sangat serius.
Ketiganya kemudian mengiyakan bersamaan.
"Kami bertiga akan tekun mengingat dan melaksanakan perintah guru untuk membalas kebaikan guru."
Orang tua ini tersenyum, mengelus jenggot panjangnya sambil mengangguk-angguk dengan puas mendengar penuturan ketiga muridnya.
"Sekarang pergilah... Semuanya ingat, dilarang menyatakan nama guru kalian nantinya di dunia manusia biasa."
Dengan berderai air mata, ketiga orang bersujud mengiyakan dan mohon pamit. Sebab hubungan guru, murid dan sesama persaudaraan mereka sangatlah kuat dan sudah berjalan puluhan tahun.
Perpisahan kali ini, mungkin selamanya tidak bisa berjumpa lagi.
Gerbang Tianmen shan adalah sebuah gerbang perjumpaan dunia manusia dengan langit. Bahkan Kaisar dari zaman dahulu hingga sekarang selalu bersembahyang besar-besaran disini untuk membuktikan bakti kaisar terhadap langit serta memohon diberikan langit untuk kekuasaan selama-lamanya.
Bagi orang awam, gerbang Tianshan hanyalah gerbang alam biasa, beberapa orang sering melewatinya. Tetapi sampai saat sekarang yang pernah mengalami mukjizat sangatlah sedikit jumlahnya. Selain jodoh, orang-orang yang punya kebajikan seumur hidupnya lah yang punya jodoh untuk tinggal barang sebentar disini.
Seperginya ketiga muridnya, orang tua ini berdiam diri menghitung-hitung dengan jarinya.
"Tahun yang tepat.... Semoga saja ketiganya berhasil..."
Tidak lama kemudian, daerah berdirinya tiba-tiba muncul cahaya terang menyilaukan sekejap diiringi angin lembut yang disertai wangi-wangian cendana yang harum. Orang tua ini melihat ke atas, terdapat 3 orang yang berpakaian mewah kerajaan menutur:
"Tuan Tongming, dengarkan titah kaisar langit..."
Orang tua ini langsung bersujud dengan hikmat.
"Dengarkan titah Kaisar Yuhuang...
Tuan Tongming telah berjasa kepada langit, bumi dan manusia. Sejak hari ini, Tuan Tongming diangkat menjadi dewan penasehat Kaisar Yuhuang. Mengenai keturunan Tuan Tongming semuanya diangkat ke langit dan mendapat posisi dan jabatan sesuai dengan kemampuan masing-masing..."
"Terima kasih hamba tua ucapkan kepada Kaisar Yuhuang..." tutur sang orang tua.
Sejenak kemudian, Sinar terang kembali terlihat dan Tuan Tongming hilang diikuti hilangnya sinar terang tersebut.
"1 orang mendapat Tao, seluruh keturunan mencapai langit."
Begitulah pepatah kuno yang menyebutkan bahwa 1 orang mendapat pencerahan seluruh keluarganya naik ke langit.
Tao Tongming adalah seorang pendeta Tao yang lahir sekitar 150 tahun yang lalu di masa perebutan dinasti yang penuh kekacauan. Karena sangat berbakat di pelaksanaan Tao seperti Literatur, obat-obatan, penyembuhan, dokter, Meditasi, ilmu supranatural serta tentunya seorang ahli silat. Dia mencapai penerangan di dunia manusia pas di umur ke 79 tahun. Diangkat menjadi penjaga gerbang Tianmen selama 70 tahun. Sekarang, dia telah benar benar sempurna dan diangkat ke langit untuk menempati posisi sebagai dewan penasehat di langit.
Tidak jauh dari puncak Gunung Tianmen, Ketiga bersaudara bersamaan turun gunung.
"Kakak Kedua.. Menurutmu sebaiknya kita kemana?" Tanya Jingde, yang merupakan adik keempat.
"Guru memintaku ke desa Wang. Tetapi tidak memberitahu kalian berdua untuk ikut atau tidak. Menurutku, terserah kalian saja baiknya bagaimana."
"Baiklah jika begitu, baiknya memang kita sekalian saja ke desa Wang." Sahut Jingde dengan bersemangat.
Sedangkan Shubao berpendapat lain, katanya:
"Desa Wang terletak di sebelah timur. Sedangkan tujuan kita adalah utara harusnya. Kita harus mencari kakak pertama yang berada di Wutai shan. Ada baiknya memang kakak kedua ke timur terlebih dahulu. Setelah itu, kita akan berjumpa di gunung Wutai. Bagaimana?"
Qin Shubao mempunyai pembawaan yang lebih tenang. Dia lebih hemat berbicara seperti biasa. Di antara mereka bertiga memang kelihatan Shubao lebih bijak dalam bertutur kata.
"Benar juga... Jika begitu, kabari diriku semisal kalian telah meninggalkan gunung Wutai. Kita berpisah disini saja, untuk selanjutnya adik-adikku berhati-hatilah di jalan." Tutur Yunfei.
Kedua saudara tersebut mengiyakan sambil memberi hormat, mereka menempuh jalan terpisah.
**********
Desa Wang, terletak 300 li sebelah timur dari gunung tianmen.
Waktu ini, musim gugur baru saja dimulai, pemandangan alam sekitar hanyalah pepohonan dengan daun-daun yang mulai menguning. Jalanan termasuk besar karena setidaknya bisa dilalui 2 ekor kuda dan rata.
Yunfei tiada kerjaan, hanya berjalan pelan karena menurutnya tidak ada sesuatu yang hendak dikejarnya. Tiada lama, dia telah sampai ke sebuah desa dengan aktivitas yang lumayan ramai.
Karena pertama kali sejak dirinya turun gunung, dia melihat sekitaran. Ingatan dia pertama kali naik gunung Tianmen sudah tidak ada. Dia berlatih bersama kedua saudaranya sekitar 30 tahun. Waktu itu umurnya hanya 8 tahun pada saat pertama kali sampai di gunung tersebut. Sekarang dirinya hanya berumur 10-11 tahun. Tetapi ingatannya sudah berumur 30an tahun. Hanya saja dirinya sendiri juga tidak pernah teringat lagi kejadian dahulu silam. Menurutnya wajar karena telah berpuluh tahun terlewati.
Sejak meninggalkan gunung, dirinya sudah 7 jam berjalan dan tentunya sudah waktu baginya untuk mencari makanan. Hanya saja, dirinya tidak memiliki uang saku sebab gurunya tidak pernah memberikan uang kepadanya maupun adik-adiknya.
Dilihat-lihatnya sekitaran, banyak orang berjualan makanan dari bakpao, sampai ke mie daging. Yunfei tentu masih tahu bahwa dirinya membutuhkan uang untuk membeli makanan-makanan itu. Tetapi, dirinya adalah orang yang jujur meski sifat aslinya masih kekanak-kanakan jika dilihat.
Berjalan beberapa menit, dia melihat ada keramaian di gang sebelah.
"Mari.. Mari saudara semuanya makan dan minum sepuasnya. Tagihan hari ini sudah saya bayar kesemuanya. Dan sekarang sudah saatnya, Pahlawan dan pendekar bangkit untuk bersatu... "
Suara teriakan yang agak melengking menandakan bahwa ada seorang nona yang mengajak orang-orang untuk makan.
Yunfei berpikir ini sangat cocok dengan pemikirannya, makan gratis karena ada yang traktir. Lantas segera dia dekati sebuah toko makanan. Dilihatnya selain toko ini menjual makanan, ada tulisan juga ini adalah rumah penginapan.
Masih bersuara, si nona dengan suara yang agak melengking masih menawarkan makanan dan minuman.
Yunfei begitu memasuki toko, sesaat dilihatnya sangat ramai sekitaran, mungkin berjumlah 30-an orang . Semuanya sedang makan dan minum dengan berbahagia.
Makanan di meja sangatlah banyak. Siapapun berhak mengambilnya. Tentu ini dimanfaatkan dengan baik oleh Yunfei. Baru makan beberapa daharan, tetiba dia lihat orang yang bersuara tadi.
Eh? Kenapa seorang pria? Suaranya mirip wanita.
Guru bilang di dunia persilatan tidaklah heran bahwa ada perempuan yang menyamar jadi lelaki. Tujuan utamanya memang tidak direndahkan oleh kaum lelaki, sedangkan jika tetap menjadi seorang wanita, perlakuan berbeda sangat sering terjadi dan ada kalanya malah bisa membahayakan si wanita.
Yunfei memang pertama kali turun ke dunia persilatan. Bahkan suara orang yang didengarnya yang pertama justru wanita berpenampilan lelaki. Kemudian dia berpikir, kenapa tidak ada yang tahu dirinya perempuan dengan suara melengking begitu? Tetapi Yunfei tidak ambil peduli. Dia mengambil beberapa makanan di tangan dan minuman sambil berjalan ke ujung meja untuk menikmati daharannya.
"Benar sekali...
Sudah saatnya Sui harus runtuh..."
"Sui telah membuat orang-orang seluruh dunia marah. Kita harus lakukan revolusi."
"Sui Yang Guang , Raja tiran.. Dia tidak hanya membunuh ayahandanya saja. Bahkan selir Kaisar Wen itu direbut. Semua rakyat dipaksa membayar pajak yang tinggi, untuk renovasi besar-besaran istana, kuil, sampai-sampai Changchen pada 3 tahun lalu, para pria dipaksa untuk merenovasinya, kabarnya dari seluruh rakyat sudah ada 6juta orang yang keluar secara paksa dari desa. Itu perlakuan yang melebihi Qin yang tiran, atau Dong yang semena-mena. Perbuatan seorang binatang."
Begitulah Yunfei mendengar pendekar-pendekar di samping pada berteriak. Tidak ayal, barang-barang makanan dan minuman di tangannya terlepas ketika mendengar teriakan para pendekar itu tentang Kekaisaran Sui yang diperintah oleh Kaisar Yang Guang.
Seiring suara pecahnya piring dan mangkok akibat jatuh ke lantai. Semua pendekar langsung melihatnya.
Tetapi memang pemuda ini adalah bangsa yang tidak takut. Dia berkata:
"Mengajak orang memberontak itu melanggar aturan langit."
Pendekar-pendekar itu segera maju ke depannya, mereka berpikir ternyata di desa kecil ini masih ada yang membela pemerintahan Sui yang tiran dan dictator kejam itu.
Yunfei tanpa banyak bicara, segera angkat kaki. Dia memiliki prinsip yang teguh, dikarenakan gurunya memesan bahwa jika dinasti Sui memang masih bisa didukung, maka dukunglah. Tetapi jika tidak, carilah tuan yang baik untuk membantunya memakmurkan Negara dan rakyat. Mendengar orang-orang yang menjelekkan Sui, dan sebagai seorang rakyat dari Dinasti Sui, dia merasa mengumpul orang-orang untuk memberontak bukanlah perbuatan yang baik.
Sedangkan pendekar-pendekar di depannya segera hendak mengerubutinya.
"Tangkap dulu.." teriak kesemuanya bersamaan.
Yunfei memiliki ilmu silat yang tergolong sudah di kelas 1 saat sekarang. Meski saat di Tianmen, dia sering berlatih dengan kedua adiknya. Tetapi kali ini yang pertama dia menghadapi "musuh" dari kalangan dunia persilatan.
Gerakan pesilat-pesilat memainkan gerakan menangkap dengan posisi tangan mencakar dan mengambil. Dilihatnya, meski terlihat kuat. Tetapi banyak celah yang bisa dimanfaatkan olehnya. Ketika dia bergerak kesamping, tangan pendekar pertama hanya "mengambil" angin. Baru hendak ditonjokkan ke depan sebelah tangannya, teringat bahwa gurunya sering berpesan untuk jangan pernah menciptakan keributan, dia segera menarik tinju di tangannya.
Dengan gerakan yang sama, beberapa pendekar hanya mencakar angin, Yunfei berpikir bagusnya lari saja. Mengenai hutang makanan, suatu saat akan di bayarkan nya ke tuan muda yang aslinya seorang wanita itu. Tiga kali gerakan dirinya melangkah ke samping lantas kemudian dirinya mundur, menabrak jendela dan hancur. Dirinya sudah keluar dari kepungan para pendekar.
Dan tanpa banyak berkata, dirinya langsung loncat ke atap rumah, tujuannya memang hanya melarikan diri secepatnya dari desa ini. Arah yang ditujunya adalah timur. Dia bergerak sudah belasan menit, sudah keluar jauh dari desa Wang. Sesaat kemudian dia berpikir, ada yang tidak benar.
"Guru memintaku mencari jati diriku di desa Wang. Harusnya tidak kutinggalkan desa Wang. Apalagi sekarang malah mencari keributan."
Baru saja dia berpikir selesai, dia menghela nafas menyadari kekeliruannya, langkahnya lantas diberhentikan. Tetapi bersamaan itu, dia melihat ke belakang dan yang mengejarnya ada sebanyak 4 orang. Kesemuanya memiliki ilmu ringan tubuh yang baik. Karena tujuan utama Yunfei adalah desa Wang. Maka daripada itu dia tidak lari terlebih dahulu. Melainkan melihat dan mendengar apa yang perlu disampaikan oleh ke 4 pengejarnya.
Di antara 4 pengejarnya, dia tahu seorang yang berpakaian berwarna hijau ini adalah seorang wanita yang berpakaian pria. Dia jugalah yang mengajak para pendekar untuk memberontak terhadap dinasti Sui.
Ketika keempatnya sampai, dia melihat ada 3 pria, dan 1 wanita kecil. Diantara ketiga pria ini ada 1 orang yang menyamar menjadi lelaki.
"Nona, mohon maaf mungkin ada sesuatu kataku yang salah. Diri ini tidak berkehendak untuk membuat kekacauan." Jelas Yunfei sambil merangkap kedua tangan.
Si Nona terkejut, lantas dia berkata.
"Bagaimana kamu tahu bahwa diriku ini wanita?"
Yunfei menjawab pelan, "Dari suara..."
"Tidak mungkin, suaraku bagaimana?"
"Suaramu melengking..."
Nona ini terheran-heran mendengar pernyataan Yunfei.
"Nona Yin... Pemuda ini bukan pemuda biasa.." Jelas seorang pria di sampingnya.
"Harusnya memang bukan orang biasa, orang biasa tidak mungkin bisa mendengar suara asliku yang memang suara seorang wanita." Sambil berbicara nona ini tertawa.
"Suka ikut campur urusan orang... Huh!" terdengar nona kecil disampingnya mendengus sekali.
Yunfei melihat ketiga pembicara.
Lelaki yang memanggil nona Yin, berumur sekitaran 30 tahun. Wajahnya merah, agung dan bijak. Di pinggangnya tergantung lilitan rantai dan di kedua pinggangnya terselip belati sepanjang 10 inchi.
Di samping kanan orang ini, dia melihat seorang pemuda mungkin juga berumur 30 tahun, wajahnya sendu tetapi tatapan matanya tajam ke arahnya. Di pinggang lelaki kedua ini terselip dua batang gada yang panjangnya mungkin hanya sekitar 1 kaki lebih beberapa inchi, yang merupakan senjata khas yang jarang di jumpai. Sedangkan nona kecil di sampingnya berumur mungkin hanya sekitar 8 tahun. Wajahnya seputih salju, pembawaannya manis menarik dan terlihat dia lebih tinggi dari anak seumurannya, sedangkan dia memiliki rambut yang hitam tetapi di bawah sinar matahari kelihatan agak berwarna merah. Matanya agak berbeda dengan mata orang daratan tengah. Di samping ikat pinggang nona kecil terselip belati pendek, yang juga sepasang.
"Saudara, kamu memiliki ilmu silat yang sangat baik. Mohon perkenalan nama saudara siapa?" Tanya nona bernama Yin ini sambil merangkap tangan.
"Namaku Yunfei, bermarga Xue. Hendaknya nona juga memperkenalkan diri supaya selanjutnya lebih lancar berkomunikasi."
Si nona tersenyum manis sambil merangkap tangan.
"Marga Li bernama Yueyin. Ini adikku Yiqing. Sedangkan kedua paman ini bermarga Wei. Nama mereka tidak bisa saya sebutkan."
Yunfei melihat-lihat si nona kembali dengan tatapan menyelidik. Dilihatnya memang wajahnya lebih ke wajah orang daratan tengah, tetapi adiknya agak agak berbeda. Menilik wajah nona, mungkin berumur sekitaran 15 sedangkan adiknya mungkin berumur sekitaran 8 atau 9 tahun saja. Tetapi tinggi adiknya hampir sama dengannya.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan,
"Kurang ajar!! Tidak sopan!" nona kecil berteriak melihat pandangan mata Yunfei yang menilik ke kakak dan dirinya.
"Oh Maaf...." Yunfei merasa kikuk karena memang setelah dipikir, dia rada kurang ajar dengan penglihatan seakan hendak menelan kedua gadis di depannya.
Tetapi orang bermarga Wei di depannya berkata,
"Apakah tuan bernama alias Shaoshi, Xue Shaoshi atau apakah nama asli tuan adalah siapa??"
Yunfei agak terkejut mendengar pernyataan pemuda di depannya. Dia memang bernama Shaoshi, sedangkan Yunfei adalah alias yang diberikan gurunya saat dia masuk ke perguruan Tianmen. Tidak disangka sekarang ada yang mengenali nama asli dari dirinya.
"Bagaimana tuan bisa tahu?" kata Yunfei bengong dan menyelidik.
Kemudian keempatnya tertawa mendengar pertanyaan Yunfei.
"Kami berempat diberitahu oleh Dewi Muniang untuk memapakmu di desa Wang."
"Dewi Muniang?" Yunfei terheran karena ini pertama kali dia mendengar nama dewi tersebut.
"Sudahlah.. Lantaran kita memang ditakdirkan berjumpa. Kita bisa balik ke desa Wang terlebih dahulu." Tutur nona berpakaian pria itu sambil tertawa.
Yunfei sesaat mengerti sesuatu, lantas dia membuka kantong merah yang diberikan gurunya. Karena pengejaran pendekar terhadap dirinya tadi, dia sempat lupa pesan sang guru. Isi surat gurunya menyatakan:
"Di desa Wang, ada 4 orang (2 pria, 2 wanita) akan membawamu ke gunung sepanjang masa/keabadian. Ikutlah mereka untuk mengetahui identitas dirimu."
Yunfei sekarang menjadi sangat kagum terhadap gurunya. Segala sesuatu yang diperhitungkan gurunya memang tidak pernah meleset.Tidak berkata banyak, lantas dirinya mengikuti mereka berempat kembali ke desa Wang. Para pendekar yang tergugah akan perubahan situasi di ibukota, secara ramai-ramai mereka sudah bergerak ke utara untuk bergabung dengan pasukan pemberontak. Sehingga rumah makan tadinya sudah sepi tinggal pemilik kedai dan losmen serta beberapa karyawan. Makanan dan minuman yang belum terjamah masih di letakkan di meja besar ditengah. Keempatnya masuk ke dalam. Yunfei sendiri memilih meja kecil di sudut untuk duduk sambil berehat.
Ketiganya sudah naik ke atas untuk masuk ke kamar mereka masing-masing. Namun karena tidak begitu mengenal orang-orang ini, Yunfei menolak ikut mereka menginap dan dirinya juga sebenarnya tidak memiliki uang.
Dia sendiri sudah terbiasa beristirahat sambil duduk, bahkan tidak jarang bertalang angin, dia duduk sendirian di bawah losmen yang merupakan rumah makan tadi yang telah dipesan oleh Nona tadi. Makanan dan minuman masih banyak di meja. Dia mengambil sekedarnya makanan dan minum arak beberapa tegukan. Tidak lama kemudian, Kedua orang bermarga Wei turun dari atas dan mohon izin untuk keluar bersama nona kecil. Mereka tidak mengatakan mereka pergi kemana. Yunfei juga merasa enggan menanyai mereka.
Sampai menjelang malam, dia melihat dari lantai kayu atas turunlah seorang wanita. Kali ini, si nona sudah berpakaian wanita kembali. Dia berjalan dengan anggun. Yunfei memang tidak pernah melihat wanita sudah sekian lama. Ingatan dia terhadap wanita boleh dibilang telah terhapus total sejak 30 tahun dirinya mengenyam pendidikan dan silat di Tianmen. Persis orang desa yang puluhan tahun tidak pernah keluar kota. Dia melihat nona yang turun ini seperti melihat harta karun, seperti melihat sesuatu yang sangat bersinar.
Si nona tahu bahwa Yunfei melihatnya dengan tatapan aneh, seakan melihatnya bagaikan permata yang jarang bisa ditemui di dunia. Begitu nona ini mendekat, Yunfei tersadar.
Dia merasa ini sama sekali tidaklah sopan. Lantas berdiri sambil merangkap tangan, meminta maaf.
"Nona.. Sungguh diriku sangat tidak pantas memandangimu begitu caranya. Mohon maaf..."
Tetapi si nona hanya tertawa mengikik. Senyuman di wajahnya bagaikan aliran air musim semi. Aliran air es yang mencair. Harum semerbak tubuh nona yang sudah berdiri di depan meja membuat Yunfei seakan merasa berada di dunia lain. Dunia yang tidak pernah dipikirkannya.
Tidak lama, karyawan toko menghidangkan seguci arak kepada si nona.
"Ini pesanan anda..." Nona ini mengiyakan saja, lantas karyawan juga beranjak masuk ke dalam.
Tidak berapa lama, nona bertutur:
"Dewi Mu niang pernah memberitahu kami berempat bahwa dirimu, berlatih di suatu tempat puluhan tahun lamanya. Jadi mengenai pandangan matamu kepadaku, aku anggap hanya lucu saja dan tidak menyalahkan mu." Masih dengan senyum yang khas dari dirinya.
Yunfei agak heran mendengar pernyataan si nona, kenapa dewi Mu niang juga bisa tahu dia melakukan pelatihan di "dunia" lain. Tetapi karena Yunfei masih bersikap was-was, jadi dia hanya manggut manggut saja.
"Kami berempat adalah murid dewi Mu Niang. Sepertinya yang di alami saudara Yunfei tidak jauh berbeda. Kami berada berpuluh tahun di dunia yang lain sehingga kami bisa belajar dengan tekun. Sepertinya saudara Yunfei juga sama.."
Yunfei berpikir bahwa ternyata selain di Tianmen memang ada tempat lain juga yang memiliki misteri usia yang tidak termakan oleh waktu. Dilihat si nona berumur mungkin sekitar 15 tahun dan sudah dewasa. Tetapi dari pengetahuannya dan gaya si nona, memang bukanlah anak umur 15 tahun yang masih hijau.
Teka teki di hatinya akhirnya terpecahkan. Tetapi karena janji pada gurunya, dia tidak menyebut Tianmen atau nama gurunya.
"Oh yah nona.. Apakah memang benar Kaisar Sui sekarang seperti yang dikatakan olehmu?"
Si Nona menggelengkan kepala sambil menghela nafas. Dia berkata:
"Kaisar Wen dari Sui , Yang Jian adalah seorang kaisar yang baik. Jika pun dikata baik, yah karena dia sanggup menyatukan Negara yang terpecah belah selama beratus tahun. Kaisar Wen almahum adalah kaisar yang banyak pencuriga, itu masih tidak begitu masalah selama dia mencintai rakyatnya. Tetapi Kaisar Sui ini, Yang Guang adalah tirani asli. Dia tidak ubahnya seorang Kaisar Qin terdahulu. Perlakuannya sangat biadab terhadap siapapun. Bahkan Jenderal serta orang-orang setia telah habis di babatnya. Dia mengandalkan 15 orang kasim untuk melakukan tindakan semena-mena."
"Lantas mengapa dirimu begitu berani mengumpulkan pahlawan untuk memberontak terhadap Negara sah?" Tanya Yunfei.
"Ada sebabnya..." tutur nona sambil mengambil minuman arak dan menegukkan seperti seorang satria laki-laki, pembawaan si nona memang seperti satria lelaki umumnya hanya si nona memiliki pembawaan yang lincah dan cerdas.
Yunfei menunggu si nona meneguk belasan cangkir arak. Kemudian nona ini berkata:
"Sebabnya adalah ayahku...
Dia adalah seorang yang setia, tetapi dirinya telah memenuhi panggilan untuk menemui Kaisar. Dikatakan panggilan untuk menemui Kaisar tiada ubahnya adalah panggilan kematian. Mau tidak mau, kita akan melakukan pemberontakan besar-besaran untuk menggulingkan Sui. Di daerah utara, telah terjadi pemberontakan besar-besaran dari kaum petani dan nelayan di daerah timur. Beberapa pejabat yang dulunya setia terhadap Sui, juga ikut memberontak, mengumpulkan pasukan. Sedikitnya belasan pemimpin pemberontakan dengan ratusan ribu jiwa hendak menggulingkan Sui di sebelah utara."
Yunfei terkejut mendengar pernyataan nona. Tetapi dirinya tidak percaya sepenuhnya kata-kata nona karena jiwa selidiknya seketika muncul.
"Harus kupikirkan apakah kata-kata nona ini benar atau tidak... Setidaknya jika ada waktu bergabung dengan kedua adik dan kakak pertama di daerah utara, maka bisa dipastikan kata-kata nona ini adalah bohong atau jujur..."
Yunfei sesekali bukanlah orang yang betul-betul polos tidak mengerti apapun mengenai dunia, dirinya sering mempelajari literatur orang-orang cerdik pandai dari masa ke masa di Tianmen, bahkan dia sangat mengagumi orang-orang besar zaman dulu. Tetapi berpikir sampai disini, dia merasa rada malu bahwa dia tertutup terhadap si nona. Jika yang dibeberkan nona ini benar, maka betapa malunya dia. Mengingat kembali surat yang diberikan sang guru, dia telah berniat jujur beberapa kata terhadap si nona. Tetapi, dia masih tidak berani menyatakan kebenaran karena janjinya terhadap sang guru.
"Sebenarnya kami berdua kakak dan adik, lari dari rumah, tujuan kami berdua adalah menghindar dari Kaisar Yang Guang yang tidak pernah puas terhadap wanita... Dia meminta bawahannya, para kasim-kasim untuk mencari semua wanita cantik yang masih perawan dan belum menikah untuk dipersembahkan di istana."
Yunfei mendengar penuturan nona, sekilas dia melihat kearah si Nona. Wajahnya telah merah gelap, pertanda bahwa pengaruh arak sudah mengendalikan dirinya. Dia tahu bahwa orang yang mabuk akan berbicara jujur, atau berbicara ngawur, bisa jadi juga ketiduran.
Karena ini muncullah sifat usil Yunfei, dia tanya ke nona ini.
"Dewi Mu Niang, sebenarnya siapakah beliau?"
Nona ini memandang Yunfei sambil meneguk secangkir arak,
"Dewi Mu Niang sebenarnya adalah Dewi He Xiangu yang termasuk 8 dewa yang disembah belakangan sejak Dinasti Sui awal. Dulu guru saat masa pengabdian orang suci sering muncul membantu rakyat kesusahan bersama 7 dewa dewi agung yang lain. Sehingga mereka diangkat ke langit dan disebut dengan nama 8 dewa."
Yunfei tersenyum mendengar perkataan si Nona. Karena yakin akan pengaruh arak sudah menguasai si Nona, dia bertanya kembali.
"Kedua pengawal bermarga Wei dimana, sedangkan adik perempuanmu berada dimana?"
Si Nona sepertinya masih kuat menegak arak, lantas menjawab:
"Kedua pengawal itu sebenarnya tidak betulan adalah pengawal. Mereka tergolong adalah kakak seperguruanku dan adik, mereka sedang melihat keadaan di timur. Tadinya ada yang menyerahkan surat untuk meminta kita berempat ke timur untuk menunggu kabar dari ayahku. Adikku yang masih sedikit usil dan hendak tahu segalanya, tadi ikuti mereka berdua sekalian melihat sekitaran."
"Adikmu berumur 8 tahun. Sebenarnya berapa lama dia berada di wilayah abadi?"
"Dia dua kali lipat diriku.. Lihat dari usianya sebenarnya dia lebih tua 3 tahun dariku.. Hehehe.."
Yunfei terkejut mendengar perkataan si nona, dia membatin sepertinya si Nona kecil itu memang sifatnya pemberang, sampai-sampai umur sudah 28 tahun sesungguhnya tetapi masih bersifat judes dan kekanakan.
"Eh... Sebenarnya kalian kakak beradik ini siapa? Dan siapa yang hendak menangkap kalian berdua?" Tanya Yunfei kembali.
"Kami adalah putri Li Yuan, Jenderal bawahan dari dinasti Sui. Ayahku tergolong masih famili dengan Kaisar Sui. Dari keadaan sekarang, Sebenarnya ayahku mau tidak mau juga harus merelakan kami berdua pergi terlebih dahulu untuk menghindar. Jika ditangkap, sudah tidak ada cara untuk lari lagi. Kali ini, Si Iblis pedang yang turun tangan untuk menangkap kami., Karena ayah menolak menyerahkan kami ke istana, sepertinya tidak lama lagi mereka akan memerangi ayah.
Di sebelah barat, kakak kedua kita menikahi puteri keluarga Zhangsun. Puteri keluarga Zhangshun sangatlah cantik, kecantikannya tiada tara di dunia ini. Karena keluarga Zhangsun juga memberontak dan menolak menyerahkannya ke Kaisar Sui Yang Guang yang mata keranjang. Ini sepertinya memuncakkan kemarahan Kaisar.
Tapi sampai hari ini sebagai adiknya kita juga tidak sanggup ikuti prosesi pernikahannya." Tutur si nona sambil meneteskan air mata menceritakan kejadian baru saja. Muka si nona masih terlihat merah padam, matanya bersinar kemerahan. Dari raut wajahnya, meski kecantikannya tidak berkurang tetapi terlihat rasa putus asa, kemarahan dan kesedihan yang dalam.
Sampai disini Yunfei merasa bersalah, dia berpikir sebaiknya tidak ditanyain lebih jauh lagi karena ini bakal merugikan si nona jika pembicaraan sudah menyentuh ke privasi nona. Mungkin ketika sadar nantinya, si nona bakal marah ataupun bahkan bisa terjadi perkelahian. 1 hal yang tidak pernah disangkanya, si nona mengatakan semua halnya dengan sangat gampang dan tiada berbeban. Apakah mungkin si nona.....???
Tapi ketika dirinya hendak bangun untuk menggerakkan badan, dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Sesaat dirinya berdiri, dia merasakan seakan dunia ini berputar. Tangan kakinya dingin, dahinya segera menetes keringat dingin.
Bersambung... ke Bab 3
0 komentar:
Posting Komentar