Pages

Jumat, 19 Maret 2021

Novel Riakan Awan Iblis Pedang Bab 1

BAB I - Desa Wei Dan Desa Misteri

Desa keluarga Wei, He Nan - tahun 648 Masehi

"Kakak Zhen, Desa ini pernah saya datangin sekitar 20 tahun yang lalu. Tidak disangka, desa yang tidak begitu dekat dengan ibukota Chang An ini bisa maju sedemikian rupa."

"Adik You tidak tahu, mungkin kelamaan berada di barat.

Desa Wei adalah pusat biro jasa pengawalan barang dan segala apapun bisa di kawal. "

"Oooh?"

Di sebuah restoran yang padat akan pengunjung, tidak terlihat bahwa ini adalah sebuah "DESA". Susunan desa keluarga Wei boleh dibilang lebih mirip kota kecil.

Pengunjung datang pergi, keramaian sangat terasa dari percakapan-percakapan pendatang yang lalu lalang.

"Keluarga Wei adalah keluarga yang kuat di daerah sekitar kota Chenliu, mereka memiliki banyak pesilat hebat yang sanggup mengawal perjalanan barang ataupun orang dari ibukota ke timur atau utara dan selatan maupun sebaliknya. Keluarga Wei muncul setelah belasan tahun Tang Gaozu naik tahta, dia memperkuat diri untuk melakukan usaha di desa ini. Usaha selain biro pengawalan ini, usaha makanan, bahkan hotel hampir semuanya adalah milik tuan Wei dan keluarganya.

Begitulah percakapan orang-orang yang lalu lalang di desa ini. Banyak yang heran sebab memang desa tersebut tidak pernah seramai sekarang.

30 tahun lalu, desa Wei termasuk desa yang tidak berpenghasilan. Letaknya di antara lembah membuat desa ini sulit untuk berkembang. Tetapi, 30 tahun kemudian, desa Wei membuat heboh sebagian pengunjung yang hendak ke utara maupun sebelah barat yaitu ibu kota dengan mengambil jalan pintas.

Hampir semua orang yang pernah melintas di desa ini, semuanya kagum.

Tetapi, di dunia ini memang tiada yang abadi dan kekal. Semuanya akan berlalu suatu saat, cepat ataupun lambat.

Sebuah malam di pertengahan tahun 648 Masehi.

Dua orang terlihat tergesa-gesa memasuki aula ruangan wisma keluarga Wei.

Keduanya disambut oleh seorang yang berumur sekitar 70an. Wajah kedua orang terlihat sangat jelek dan gelap sambil melapor.

"Pengawas Yang.

Telah terjadi masalah di utara yang dikawal Zhong Yu."

Wajah kakek tua mendadak terkejut.

"Apa yang sedang terjadi?"

"Pengawalan tidak berjalan lancar. Pasukan kita 50 orang semua nya mati terbunuh."

"Apa???" Si Kakek menganga mendengar kabar berita buruk ini, lantas berkata dengan tergesa-gesa:

"Mari segera kita temui Ketua Wei.

Kalian kubawa ke ruang tamu terlebih dahulu."

Lantas ketiganya kompak berjalan ke dalam.

Kedua orang ini disuruh menunggu terlebih dahulu, sedangkan kakek Yang memanggil Tuan Wei.

Tidak berselang lama, Kakek Yang keluar bersama seorang lelaki umur 60an. Dialah pemilik Wisma keluarga Wei. Karena sudah mengetahui yang terjadi lewat kakek Yang. Tuan Wei lantas bertanya kepada kedua orang di depannya.

"Yu fu, Yu An..

Apa yang terjadi? Bukankah Zhong Yu mengawal......."

Wajah Tuan Wei jelek, antara penasaran, sedih, marah, bimbang dan cemas.

"Lapor Tuan...

Kami pasukan belakang yang mengawal Tuan Zhong Yu. Selisih waktu hanya sekitar 2 jam. Tetapi, ketika kita sampai di perbatasan Chang An, Kami melihat bahwa semua pasukan yang dibawa Zhong Yu telah terbasmi. Sedangkan Tuan Zhong, juga telah jadi korban. Barang-barang yang dibawa oleh mereka, tidak bersisa. Semuanya dirampok habis..."

Tuan Wei ketika selesai mendengar penjelasan anggotanya, langsung shok dilihat dari wajah tuanya. Terbengong agak lama, tetapi tidak kehabisan akal langsung membuat sebuah surat dengan cepat.

"Pengawas Yang. Segera berikan surat ini ke desa sebelah, desa misteri.

Mereka akan membawamu ke "yang tidak boleh diganggu". Serahkan surat ini kepada dia secara langsung dan mintalah pertolongan kepadanya" Tutur Tuan Wei.

"Kalian berdua undur dirilah." sambung Tuan Wei kedua anggota ekspedisi tersebut.

"Siap..." jawab pengawas Yang bersamaan dengan kedua anggotanya.

Tetapi ketika pengawas Yang hendak berangkat, ketua Wei memintanya menunggu sebentar.

"Anakku sepasang. Sekalian kamu boleh bawa jalan-jalan ke desa misteri. Di dalam kamarku, sudah kusediakan peta untuk masuk ke hutan misteri."

Pengawas Yang mengiyakan dengan segera dan bergerak meninggalkan ruang tamu wisma keluarga Wei.

Ruang tamu keluarga Wei seketika senyap.

Sekarang hanya tersisa Tuan Wei. Orang tua ini terdiam lama, seakan tidak percaya, menggelengkan kepalanya terus menerus sambil menghela nafas.

"Oh.... Sahabatku...

Diriku terlampau percaya diri......

Jika saja anjuranmu 15 tahun lalu kudengarkan, tidak mungkin akan ada kejadian hari ini..." Selesai berkata,

Terdengar tawa besar dan secara tiba-tiba banyak orang memasuki ruang tamu.

Semua yang masuk terdiri dari 30-an orang dengan senjata terhunus.

Tuan Wei hanya diam sambil memandang semua orang di depannya.

Lantas, diantara 30 orang yang tertawa di tengahnya seorang pemuda berpakaian hitam berbicara:

"Tuan Wei.... Aku dengar bahwa anda mengawal pedang warisan kerajaan. Dan saya juga dengar bahwa pedang ini hilang dikawal oleh ekspedisimu."

Tuan Wei masih memandang kearah pemuda yang berbicara, dilihat dari usia sekitar 30an. Ketika dia memandang ke senjata orang ini, tuan Wei tidak bisa tidak terkejut. Sepasang golok panjang dan besar berwarna hitam pekat, kelihatan kedua golok ini memang teramat berat.

"Partai Hei-sha tidak disangka sangat tertarik dengan pedang ini. Kabar dunia persilatan mengatakan bahwa ketua partai Hei Sha adalah orang yang tamak akan senjata dan segala harta-karun. Hari ini baru pertama kali bertemu, ternyata benar adanya."

"Anda tahu maksud saya datang kemari?"

Tuan Wei mengiyakan.

"Anda dan semua anggota anda tentu datang setelah merampok kereta barang. Dan menemukan bahwa pedang ini, tidak ditemukan di pengawalan. Kedua anggotaku tadi berarti adalah orangmu juga?"

Ketua partai Hei Sha tertawa mendengar pernyataan Tuan Wei.

"Baik saya ataupun anda, sebenarnya sama saja. Anda juga tamak, mengangkangi senjata itu untuk anda sendiri. Serahkanlah pedang ini untuk nyawa tua mu. Jika hendak bertarung, dirimu sendiri serasa bukan tandinganku. Apalagi diriku membawa hampir semua orang partai untuk memecahkan formasi "tiada berada" milik wisma mu ini."

Tuan Wei tersenyum sinis, matanya terlihat merah seakan hendak menelan lawan di depannya.

"Di deretan pahlawan yang dibuat oleh Kaisar Tang Taizong, kamu berada di peringkat ke 14. Sedangkan senjatamu berada di peringkat ke 8. Memang secara logis, saya bukan tandinganmu.

Tetapi, untuk mengambil pedang di wismaku, tidaklah mudah."

"Sudah kuduga kau akan berbicara begitu," Jawab ketua partai Hei Sha sambil senyum mengejek, dimana kedua golok dimainkan dan maju untuk menghantam ke arah Tuan Wei.

Dikisahkan Pengawas Yang membawa surat dan kedua putra putri Tuan Wei menuju ke desa misteri melalui sebuah hutan, hutan misteri.

Hutan misteri adalah terletak di sebelah utara dan barat dari Desa misteri.

Mengenai desa misteri dengan desa Wei, terhubung oleh sebuah hutan.

Hutan yang memang merupakan perlindungan alami untuk desa misteri.

Sedangkan di sebelah selatan dan timur dari desa misteri adalah berujung ke jurang yang dalam.

Jarang sekali ada yang tahu bahwa di hutan misteri terdapat sebuah desa. Desa yang sangat jarang penduduk dan desa yang sangat jarang didatangi oleh orang-orang.

"Tuan muda dan tuan putri. Lewat hutan misteri ini kita akan sampai ke desa misteri." Tutur pengawas Yang.

Tuan Wei mempunyai sepasang putra dan putri. Yang lelaki bernama Wei Zhun, yang perempuan bernama Wei Er. Pemuda berumur 15 sedangkan perempuan berumur 12 tahun.

"Paman Yang... Mengapa desa misteri ini sangat susah ditembus meski paman memiliki peta yang sederhana begitu?" Tanya Wei Zhun.

"Desa misteri dikelilingi hutan misteri. Hutan misteri ini, konon dibuat seseorang untuk tidak ada yang bisa menganggunya. Desa misteri pada dasarnya hanya sebuah kampung yang berisi 12 kepala keluarga."

"Dan ayah meminta paman Yang untuk membawa kami kemari tengah malam, sebenarnya maksud ayah bagaimana?"

"Tuan muda, tujuan kita kemari selain jalan-jalan, adalah untuk menyampaikan surat."

"Surat?Kepada siapa?"

"Kepada seorang yang tidak ingin diganggu...."

"Jika dia tidak ingin diganggu, kenapa ayah dan paman masih mencarinya?"

"Keadaan agak genting tuan muda, sebaiknya secepatnya kita berangkat."

Si anak perempuan dari tadi hanya diam, dia tidak berbicara sepatah katapun. Seakan sedang tenggelam dalam pemikirannya. Putri ini melihat-lihat hutan misteri, meskipun gelap ternyata tiadapun suara sesuatu binatang malam ataupun kunang-kunang. Dia agak heran, tetapi tidak di tanyakan ke pengawas Yang.

Sejak dari rumah keluarga Wei, mereka sudah 5 jam terus menerus mencari jalan keluar dari hutan misteri. Berbekal peta, Pengawas Yang akhirnya berhasil melihat titik terang. Jauh disebelah selatan, tampak cahaya di kegelapan malam yang pekat. Lantas bergembira, dia menunjuk.

"Seharusnya itulah desa misteri...

Tidak heran Tuan selalu mengatakan mencari desa misteri harus di malam hari."

Lantas dengan menggandeng keduanya, dia percepat langkah.

Sekitar setengah jam kemudian, dia telah berhasil keluar dari hutan misteri.

Pandangan ke depan adalah sebuah gapura kecil, di jalanan setelah gapura terdapat obor kecil yang menyala di kiri kanan, di atas gapura terlihat tulisan. Tetapi karena malam masih gelap, dengan jarak cukup jauh, tulisan di atas gapura tampak masih buram.

Pengawas Yang baru hendak berjalan, kemudian dari jauh sudah dihentikan oleh suara. Dilihatnya ke depan, memang di belakang gapura terdapat 2 orang yang berjalan ke arahnya. Keduanya berpakaian putih berjalan ke depan:

"Ini adalah area yang dilarang masuk. Pelancong sebaiknya berhenti di depan saja."

Pengawas Yang segera mengambil surat dari kantongnya,

"Ini untuk tuan nomor 1 di desa misteri, hendaknya tuan-tuan sekalian menyerahkan kepadanya. Tolong katakan bahwa saya, pengawas Yang dan putra-putri tuan Wei, datang hendak berkunjung."

Kedua pria berpakaian serba putih ini saling melirik.

Sesaat kemudian, tanpa berkata-kata, salah 1 orang berjalan mengambil surat dari tangan pengawas Yang dan balik kearah gapura.

Tanpa berkata-kata apapun, pemuda tadi masuk melewati gapura dan segera menghilang dari kegelapan malam berjalan ke dalam desa misteri.

Pengawas Yang menunggu dengan tidak begitu sabar dan cemas. Ini terlihat dia berjalan bolak-balik. Sedangkan kedua putra-putri tuan Wei terlihat kelelahan. Keduanya telah tertidur di pojok sebuah pohon yang tinggi menjulang.

Setengah jam kemudian,

Pria yang tadinya berjalan ke dalam, akhirnya keluar juga.

"Tuan mempersilahkan anda untuk masuk. Mengenai kedua anak ini" Sambil menunjuk.

"Keduanya akan kami persilahkan tidur di gubuk sebelah dalam. Jikalau tuan tidak menghendaki, maka tuan boleh pergi saja."

Pengawas Yang terlihat ragu untuk melepaskan kedua putra putri keluarga Wei. Tetapi memang karena merupakan syarat dari Tuan Rumah desa misteri, mau tidak mau dia hanya bisa mengikuti.

"Ayok, Tuan ikutlah denganku..."

Salah satu pemuda baju putih membawa pengawas Yang berjalan melewati gapura, sedangkan pemuda lainnya terlihat menggendong keduanya di tangan dengan mudah, berjalan menuju "rumah" singgah desa misteri ini.

Diceritakan bahwa ini gubuk, tetapi bukanlah gubuk sejatinya. Gubuk ini lebih mirip rumah di tengah hutan, terbuat dari bambu. Terlihat bagus dengan penataan tiap ruangannya meski gubuk ini tidaklah besar.

Pengawas Yang was-was ketika melewati rumah singgah ini, lantas berjalan terus mengikuti pemuda baju putih. Tadinya jalanan sekitar masih lebar, tetapi berjalan 5 menit, jalanan menjadi sempit. Lebih tepatnya seperti jalanan pegunungan yang hanya setapak.

Pengawas Yang gimana pun termasuk seorang pendekar, meski tidak di kelas 1, tetapi dia masih termasuk berkepandaian di kelas 2. Melihat tata susunan jalan di depan, mau tidak mau juga keder hatinya. Perjalanan terlihat akan singkat sebab di ujung jalan sepertinya telah Nampak cahaya kecil, tetapi jarak antara jalan setapak masih jauh. Sekarang dia sendiri merasa heran, karena sudah setengah jam, tapi belum sampai. Dipikirnya bahwa pemuda yang membawanya ini, tadi berjalan sangat cepat. Dalam waktu tidak setengah jam sudah balik ke gapura. Mau tidak mau dia merasa was-was akan ilmu ringan tubuh pemuda di depannya.

Waktu yang ditempuh sudah sekitar 1 jam dan akhirnya dari jauh nampaklah sebuah rumah yang terbuat dari bambu. Justru pada saat ini, matahari sudah mulai terbit. Cahaya dari ufuk timur perlahan mulai menghapus misteri dari desa ini.

Pengawas Yang baru menyadari jika jalanan tadi di sebelahnya memang hanya sebuah jurang yang dalam. Di samping kanannya terlihat air terjun yang cukup jauh, di bawah jalanan ini terdapat sungai kecil yang aliran airnya pelan. Cuma 1 kata dalam hatinya: "KAGUM" akan pemandagan yang luar biasa yang jarang pernah dijumpainya.

Sebelah kiri dari jalanan setapak adalah hutan bambu yang terderet rapi. Sejak terderet rapi, ini bukanlah perbuatan alam, tapi bambu ini memanglah ditanam oleh manusia.

Tanpa terasa, mereka telah sampai di depan rumah bambu yang dimaksud.

Pemuda berbaju putih lantas berkata,

"Guru...

Pengawas Yang dari desa Wei telah sampai."

Pintu rumah seakan tanpa digerakkan apapun, terbuka sendiri.

Pengawas Yang cukup heran. Sebab di dunia ini tidak ada mekanis yang sanggup membuat pintu terbuka, belum ada teknologi seperti demikian.

Tetapi dijumpainya malah di hutan tersembunyi, mau tidak mau dia merasa kagum.

Dari dalam rumah, muncullah seorang pemuda tinggi sekitar 6 kaki, berpakaian putih, di sebelah tangannya memegang sebuah kipas dengan gaya seorang pelajar. Wajahnya putih dan tatapannya agung.

Mengenai umur, susah ditebak di antara 30 atau 40 tahun.

Tetapi dari raut wajahnya yang tenang dan santai seakan tidak pernah ada masalah yang pernah membuatnya khawatir. Sekilas lihat bahwa mungkin pemuda itu baru beranjak ke umur 30.

Pengawas Yang maju dan memberi hormat,

"Yang tidak mau diganggu... Mohon maaf sebelumnya karena masalah keluarga Wei, Kami sudah merepotkan anda."

Lawan bicaranya menunjuk ke meja dan kursi disamping,

"Silakan."

Wajah pemuda tersebut tenang dan terlihat seakan dingin tanpa ekspresi apapun.

"Mengenai surat dari Tuan Wei, saya sudah membacanya.

Dia memintaku untuk menjaga kedua putera-puterinya."

Pengawas Yang terdiam dan tidak berkata apa-apa.

Lanjut pemuda ini:

"Tetapi, kehidupan saya disini tenteram, tidak ingin diganggu, hendaknya pengawas Yang bawa pulang keduanya kembali ke desa Wei."

Setelah berkata demikian, dia menatap tajam kearah sang pengawas.

Pengawas Yang, terkejut melihat sinar mata lawan bicaranya.

Seakan tidak ada yang sanggup dikatakan lewat tenggorokannya.

"Sambil memberi hormat dalam, dia berjalan keluar rumah."

"Wen Qu, Antar tamu..."

Ketika Pengawas Yang sudah diantar keluar, tidak lama dari dalam rumah muncullah seorang wanita yang juga berpakaian putih cukup tinggi. Wanita yang terlihat sangat cantik, dengan wajah yang seperti putih salju, wajahnya tidak tampak seperti orang daratan tengah, tetapi terdapat 1/2 wajah orang barat, rambutnya berwarna agak hitam kemerahan, matanya indah berwarna agak coklat muda, alisnya terlihat beriring melengkung, bibirnya merah alami. Kelihatan berumur sekitar 20-an, duduk di meja sambil melihat pria di depannya. Sedangkan sang pria masih menatap ke arah perginya pengawas Yang dengan tajam dan berkerut wajah.

"Suamiku.... Sudah lama kulihat bahwa kamu tidak pernah seserius ini. Apakah memang keluarga Wei mendapat masalah?"

Sang suami yang ditegur tidak berbicara langsung, tapi sambil menghela nafas melihat istrinya. Lalu sambil tersenyum dia berkata:

"Untuk selanjutnya memang kita tidak tenteram lagi..."

"Tidak selanjutnya, tetapi sepertinya sekarang..." Wanita ini bertutur membalas kata-kata pemuda.

"Ooh? Benar juga... Kemampuanmu semakin lama semakin baik." Tutur pemuda ini dengan membentangkan kipasnya, sambil tersenyum.

"32 orang bergerak dengan cepat, pesilat kelas 1 hanya 1 orang, selebihnya semua pesilat kelas 2 dan 3 dan termasuk yang masuk tadi si pengawas Yang, mereka sedang menuju kemari."

"Sudah sejak dulu, kukabari ke sahabat saya untuk tidak pernah mengambil barang 1 ini untuk diantar di ekspedisinya. Tetapi....." Tutur pemuda ini sambil menghela nafas. Jelas terlihat dia sedih membayangkan dan menebak sesuatu telah terjadi kepada keluarga Wei.

"Wen Qu sudah kukabari, biarkan saja mereka semua kemari."

Tidak berapa lama, terlihat rombongan yang rata-rata berpakaian hitam, dari gerakan mereka semuanya ringan dan cepat. Rata-rata gayanya lebih ke jalan cepat, tidak lari tetapi kesemuanya bergerak sangat cepat.

Para pendatang yang menuju gubuk memang benar adalah pesilat tangguh. Ini dibuktikan bahwa dalam selang sekejap kesemuanya sudah berdiri di depan rumah bambu. Namun, tiada 1 pun berniat masuk ke dalam gubuk bambu.

Jumlah orang yang hadir, cukup ramai. Kesemuanya tiada lain adalah pendekar-pendekar yang menyantroni rumah keluarga Wei semalam yaitu dari partai Hei-sha.

"Sudah lama kudengar bahwa desa misteri tidak bisa ditembus. Kokoh bagai perisai dewa, menipu bagai naga bersembunyi di lautan. Ternyata hanya sebegitu saja." Yang berbicara disini adalah orang yang sama dengan yang terjadi di wisma Wei semalam, ketua partai Hei-sha.

Dengan kedua senjatanya yaitu golok kembar berwarna hitam yang besar bersiap di kedua tangannya.

Memang sedari tadi pintu rumah bambu tidak ditutup, pemuda dan wanita tadi berjalan keluar rumah bersamaan.

"Ketua partai Hei-sha, Mo Qiu. Sudah lama namamu berkibar di dunia persilatan.

Dengan kedua senjatamu itu, kamu sudah termasuk bisa merajai dunia persilatan, mengapa terus-terusan untuk mencari yang nomor 1? Dan tujuanmu tiada lain ada senjata nomor 1 yang bergaung terus menerus di dunia persilatan."

Tanya wanita yang merupakan istri pemuda tersebut.

Ketua partai Hei-sha, Mo Qiu segera melihat pembicara. Dilihatnya gadis ini masih muda dan sangatlah cantik. Kecantikannya bisa dibilang tidak akan ditemukan di seluruh pelosok desa manapun. Apalagi di hutan dan desa misteri yang terkesan tidak berpenduduk tesebut.

"Nona...

Terlihat bahwa desa misteri adalah desa yang terpencil. Tetapi tidak disangka masih ada yang mengenaliku. Aku, Mo Qiu seumur hidup belum menikah, jika nona tidak merendahkanku. Bolehlah nona untuk menggiringi hidupku. Dan tentunya, orang-orang menyatakan Almahum Permaisuri Zhangsun adalah nomor 1 kecantikannya di dunia, sedangkan kamu mungkin nomor 2. Sangat cocok untuk diriku, sangat cocok."

Teriak Mo Qiu sambil tertawa.

Sedangkan anak buahnya semua bertepuk tangan bergembira mengiyakan, beberapa orang terkesan mengejek.

Tetapi nona ini terlihat hanya tersenyum saja mendengar semua teriakan orang-orang di depannya. Lantas dia bertutur:

"Anda sudah terlambat lebih dari 20 tahun. Dan saya juga bukan seorang nona lagi. Dilihat dari umur, mungkin kamu masih pantas disebut adikku. Adik yang paling kecil. Sesekali jika nasibku baik, mungkin kamu juga tergolong bisa menjadi anakku, anak sulungku."

Mo Qiu terkejut mendengar pernyataan nona di depannya, tetapi terlihat dari nada nona ini sifatnya kekanak-kanakan, tentu saja untuk si nona berniat mempermainkannya. Mo Qiu, sebagai ketua partai Hei-sha tahun ini berumur 38 tahun. Dia termasuk seorang yang berbakat, naik peringkat di perguruan dan partainya dengan cepat. Sehingga di umur 35 tahun dia telah diangkat oleh gurunya menjadi ketua partai Hei-sha.

Tetapi Mo Qiu adalah orang yang tamak, selalu ingin berada di depan. Tidak pernah ingin ada yang menang darinya dari segala hal.

Mengenai penghargaan kekaisaran, dia juga sangat marah ketika mengetahui dia hanya berada di peringkat ke-14. Satu-satunya yang membuatnya bangga adalah sepasang goloknya yang berat itu berada di peringkat ke 8.

Mo Qiu berkata:

"Sepasang golok di tanganku berada di peringkat ke 8. Sedangkan melihat kemampuanku berada di peringkat ke 14. Tidak sedikit di dunia ini yang memujiku. Nona kecil sebaiknya ikutin kakekmu ini ke He-nan dengan begitu, kamu bisa dinikahin olehku. Hahaha...."

"Untuk kesediaan menikah denganmu, itu tidak mungkin. Karena orang disampingku adalah suamiku..." sebut nona ini sambil tertawa.

Mo Qiu langsung melihat tajam kearah pemuda di samping nona ini. Sambil menghina dia berkata:

"Pemuda ini hanya pemimpin sebuah desa, itu desa yang penduduknya hanya 20 orang tidak lebih. Bahkan jauh lebih baik desa Wei di sebelah yang ramai dan kaya. Menurutmu bagaimana dengan diriku yang memerintah ratusan orang? Ingin apa, pasti ada apa. Hidup denganku membuatmu terkenal sepanjang masa."

Sambil berkata, kedua goloknya dimainkan kearah pemuda berbaju putih.

Sepasang golok yang cepat, sangat cepat meski terlihat golok ini beratnya tidak ketolongan. Dalam hal mencuri serangan, Mo Qiu memang termasuk salah satu yang tanpa tanding. Selalu, dan selalu dia menang cepat selain kecepatan ilmu goloknya, ilmu menipu sambil berbicaranya juga hampir tiada tandingan.

Lazimnya, ketika Kaisar Tang Taizong membuat list pendekar-pendekar terkuat, beserta ilmu-ilmu silat terkuat dan senjata terkuat. Mo Qiu berada di peringkat ke 14 sedangkan senjatanya di peringkat ke 8. Biasanya list-list ini dibuat jarang jauh berbeda antara peringkat dengan senjata. Tetapi kaisar Tang Taizong tidaklah salah sebab dilihat dari sifatnya, Mo Qiu justru jauh berada dibawah daripada benda mati (senjatanya).

Kedua gerakan golok itu tentu tujuannya mengambil nyawa pemuda berbaju putih di depannya. Sebab gerakan kedua tangannya hendak membelah pinggang dan dada pemuda tersebut.

Teriakan bersahutan secara serempak dari murid-murid partai Hei Sha karena setahu mereka, belum ada yang sanggup menahan golok kembar guru mereka. Setiap lawan pasti kehilangan nyawanya sekejap tanpa sanggup melawan.

Tetapi, Sabetan kali ini meleset. Pemuda tersebut menggandeng si nona sambil beranjak 2 langkah ke belakang. Golok kembar menyambar perabotan kecil disamping dan menghancurkan meja dan kursi dari bambu.

Penasaran, Mo Qiu kembali bergerak. Kali ini dia melompat dan mengarahkan golok kembar 1 nya ke pemuda, 1 nya ke nona.

Tetapi kali ini juga meleset.

Targetnya kali ini mengenai ke pintu dan seketika pintu hancur berantakan.

Mengenai pemuda dan nona keduanya mengelak dan sudah berada di luaran rumah dengan kecepatan yang tinggi. Bahkan tiada orang yang sanggup mengikuti kemana keduanya berada. Tahu-tahunya sudah berada di luar.

"Mo Qiu... Gerakan yang bagus.." tutur pemuda sambil menunjuk ke arahnya dengan kipas di tangannya.

Mo Qiu yang merasa penasaran, melihat kearah pemuda. Sambil mengertakkan gigi, dia berkata.

"Siapa Kau??? Yang sanggup punya qing gong segitu tinggi di dunia ini hanya beberapa orang saja."

Pemuda sambil tersenyum berkata.

"Diri ini sudah 15 tahun tidak ingin berkecimpung lagi di dunia persilatan. Hanya saja, memang kadang masalah mencari diriku. Tidak pernah sekalipun diriku mencari masalah. Mengenai pengawas Yang, juga adalah orangmu. Kamu merasa bahwa di desa misteri ini, pasti terdapat seorang pendekar hebat. Maka daripada itu, mengambil kesempatan untuk menculik kedua keponakanku itu mengancamku. Sahabatku sudah kamu bunuh, bagaimana dengan keluarga-keluarga di rumahnya?"

Tanya pemuda dengan mata tajam, Aura pembunuhan seketika terasa tajam menyelimuti hutan bambu.

Mo Qiu, memang termasuk orang yang jarang sekali gentar. Melihat mendapat lawan kuat, dia malah bersemangat.

"Wei tua itu sudah kubunuh, tiada 1 orangpun yang tersisa dari keluarganya."

"Lantas berapa kepala yang kamu dapat di rumah Wei tua?"

"42 orang..." jawab Mo Qiu dengan mantap.

"Disini, jumlah orangmu total adalah 37 orang termasuk pengawas Yang dan 2 orang yang datang terakhir itu. Jadi jika kubunuh kesemuanya masih haruslah ku bunuh 5 orang lagi dari partai Hei-sha untuk membalaskan dendam sakit hati sahabatku." Tutur pemuda dengan nada yang acuh tidak acuh.

Mo Qiu yang mendengar kata-kata pemuda, tertawa besar. Bahkan semua anggota dan murid-muridnya tertawa mendengar perkataan besar dari pemuda.

Sedangkan nona disampingnya hanya diam tanpa ekspresi apapun.

"Berkata besarlah dirimu.." teriak Mo Qiu yang hendak mengayunkan goloknya kembali untuk menghantam ke arah pemuda.

Tetapi kali ini dia sempat melihat kilatan cahaya sebentar saja, pakaian pemuda yang berwarna putih itu bergerak ke arahnya, lantas dalam sekejap, semuanya terasa aneh sekali baginya.

Dia sendiri merasa belum pernah mengalami hal demikian, tangan dan tubuhnya terasa ringan dan dingin. Kedua golok di tangannya terlepas, lantas pandangan matanya seakan berputar-putar, tiada rasa sakit hanya terasa asing sekali, perasaan yang tidak pernah dirasakan seumur hidupnya namun demikiannya dia tahu dirinya sudah diserang, tidak berapa lama semua terasa gelap baginya.

Inilah akhir seorang Mo Qiu, seorang ketua partai Hei-sha yang terkenal karena kemampuan silatnya termasuk kelas 1. Dia berakhir di tangan seseorang yang tidak pernah dikenalinya, menyesal pun sudah terlambat.

Semua murid-murid partai Hei Sha berteriak melihat guru mereka, jatuh sebelum mengeluarkan 1/2 jurus. Sedangkan mereka bahkan tidak tahu pemuda di depannya melakukan apa-apa. Tahunya hanya bergerak memepet ke ketua mereka. Lantas, Ketua Hei Sha sudah terjatuh dan diam tidak bergerak.

Pemuda membuka kipasnya, sambil mengayunkan sedikit angin dari kipasnya. Semuanya merasa was-was, tetapi sekejap saja terlihat 30-an orang lainnya jatuh tidak sadarkan diri, nasib mereka serupa dengan ketua partai mereka.

Hanya 1 orang yang masih tersisa, di antara semua nya yang datang bersamaan itu yaitu pengawas Yang.

Dari tadi dia mengawasi ketua partai Hei-sha bertindak dan hendak memutuskan nyawa 2 orang, pemuda dan nona ini.

Sambil tergagap dia berkata,

"Tuan... Hendak dikabari namamu siapa?"

Pemuda melihat tajam ke arahnya.

"Kamu lah penyebab masalah ini terjadi. Sejak beberapa tahun yang lalu, aku pernah meminta tuan Wei untuk memberhentikan dirimu. Tetapi sampai hari ini, dia tidak pernah melakukannya. Yang bisa kulakukan hanya membalas dendam atas sakit hati dia dan keluarganya."

"Kenapa kamu.. Kamu bisa tahu bahwa ini adalah perangkap?" Tanyanya.

Nona di samping pemuda menjawab sambil menunjuk.

"Karena dia adalah pemuda nomor 1 di dunia persilatan, Xue Yunfei."

Pengawas Yang seakan tidak percaya.

"Ternyata.. Tuan Wei yang selama ini menyembunyikan kematianmu.... Kamu di list nomor 1 pesilat terkuat dan Ilmu pedangmu juga berada di peringkat no.1.... Dan dirimu, dari kepintaranmu juga semuanya terlihat memang bukanlah sebuah nama kosong..."

"Kamu datang kesini dengan beberapa sikap yang janggal, jadi wajar saja diriku dari awal mencurigaimu. Desa misteri itu terkoneksi dengan hutan misteri, apapun yang terjadi di hutan misteri, kami disini tahu.

Jelas-jelas kamu memutar lama padahal ada peta di tanganmu, tujuanmu untuk mengumpulkan pesilat-pesilat tadi untuk sama-sama menerobos kemari setelah menyelesaikan pekerjaan di wisma Wei."

"Ooh?" Pengawas Yang hanya bisa takjub sebelum bisa membalas perkataan pemuda di depan nya. Kemudian pemuda hanya terlihat membentangkan kipas sekali lagi dan menyapu ke muka pengawas Yang tanpa berkata-kata apa. Angin pelan menghembus wajahnya yang masih terkejut, sesaat saja dengan kedua mata terbelakak. Akhirnya pengawas Yang juga rubuh bersamaan selesainya angin bertiup yang ditimbulkan kipas.

"Suamiku, ini sangat aneh... List-list itu maksudku.." tutur si nona ini kepada pemuda.

"Kamu betul istriku... Harusnya Kaisar tidak mungkin menyebutkan siapa no.1 dan urutan nomor keberapa di list pendekar. Hanya beberapa pendekar kadang membesar-besarkan bahwa mereka nomor ke berapa. Setahuku...."

"List pendekar, ilmu silat, senjata nomor keberapa sudah bocor. Dunia persilatan di luaran kembali bergolak seharusnya. Dan kita, sepertinya tidak bisa lagi tinggal lama disini. Kali ini, kita bakalan terusik." Tutur wanita tersebut.

"Dunia no. 1.... Dunia no. 1... Lawakan terpayah dunia ini adalah pendekar nomor 1, pendekar pedang no.1" tutur pemuda bernama Xue Yunfei ini dengan senyum hambar.

"Suamiku, selain partai Hei Sha yang datang, sepertinya memang ada saudara lama yang tertinggal di belakang yang juga diam-diam mengikuti mereka."

"Kamu betul sekali istriku, tidak disangka 15 tahun kemudian. Kita masih bisa berjumpa kembali dengannya." Tutur Xue Yunfei sambil tersenyum senang.

Bersambung....... ke BAB 2

sumber : http://indozone.net/literatures/chapter/48881/?s=65a027f6528813b842882ecb8901b433

0 komentar:

Posting Komentar